Dunia Kafka

Usai membaca Norwegian Wood, saya lanjut membaca beberapa cerpen Haruki Murakami dan merasa bahwa apa yang diberikan Haruki Murakami merupakan bacaan yang saya cari selama ini. Jadi bagi penyuka absurd dengan gaya cerita mengalir maka Murakami adalah tujuan kalian hehehe yang kian nyata khasnya di novel Kafka on the Shore yang di Indonesiakan jadi Dunia Kafka. Kalau dulu membaca Norwegian Wood terjemahan Inggris, maka yang ini merupakan terjemahan Indonesia yang Alhamdulillah isi novelnya makin asik ditunjang oleh hasil terjemahannya itu sendiri. Padahal, sepanjang bercerita, Dunia Kafka menawarkan kebingungan tiada tara disertai karakter unik khas Murakami tersebut.

Ulasan Dunia Kafka sudah banyak di blog lain tapi tetap saja asik bila dibicarakan lagi. Tentang teori Oedipus Kompleks yang disebut gangguan jiwa oleh Ibu Dosen Yunita di film Cintaku di Kampus Biru juga diusung oleh novel ini dengan pemuda bernama Kafka Tamura sebagai objeknya. Tidak hanya menaruh ketertarikan pada wanita lebih tua namun juga membahas pembuktian ramalan dari ayahnya tentang Kafka akan membunuh ayahnya lalu berhubungan dengan ibu dan kakak perempuannya. Kafka memasuki dunia dunia tak lazim bahkan berbatas tipis dengan akhiratnya Kafka. Kisah hidup Kafka ini dikupas habis pada bab ganjil sebab di bab genap kita berganti objek menjadi seorang kakek tua bernama Nakata. Kalau boleh dikata sih segala titik keseruan di novel ini semuanya ada pada kisahnya Nakata di bab genap. Berbicara dengan kucing, hujan ikan makarel, hujan lintah sampai berbicara dengan batu, hal hal ini kita nikmati segala keseruannya dengan karakter kakek Nakata yang polos nan apa adanya membuat karakter lain yakni seorang supir truk bernama Hoshino jadi tertarik untuk selalu mendampinginya. Yaaa dengan segala keabsurdannya, novel ini punya banyak ikon yang mampu diingat pembaca setelah menamatkannya. Paling seru sewaktu Nakata melakukan pembunuhan.

Nakata mengajak berpetualang seru di usianya yang renta, menjelang kematiannya. Sementara Kafka yang mengidolakan Franz Kafka itu lebih menjurus ke arah pencarian jati diri, kabur dari rumah dan melakukan hal yang ia senangi. Bertemu Sakura yang simpati padanya, bertemu Oshima sang penjaga perpustakaan Komura lalu Nona Saeki pimpinan Perpustakaan Komura. Di youtube sudah ada yang mengaransemen lagu Kafka on the Shore nya Nona Saeki, imajinasi saya bermain di tiap-tiap poin penting novel ini.

Salut sekali sama penerjemahnya. Bahkan terjemahan Sapardi Djoko Damono untuk novel Lelaki Tua dan Laut tetap tak seasik terjemahan Dunia Kafka ini hehehe. Semoga saya bisa membaca novelnya Haruki Murakami yang lain.

Iklan

Kegokilan Ridwan Alimuddin dan “Nusa Pustaka” Miliknya

Saya terlalu bingung ingin memberikan judul apa hahaha. Intinya saya hanya ingin menumpahkan kesan mendalam saya terhadap Nusa Pustaka dan juga Ridwan Alimuddin yang saya datangi saat study tour ke Majene yang lalu. Ah tak ada dokumentasi foto.

Nusa Pustaka adalah taman baca milik Ridwan Alimuddin yang terletak di Pambusuang. Sebagai daerah pesisir, yang saya tahu sebelumnya Ridwan Alimuddin membuat Perahu Pustaka di mana ia membawa buku-bukunya di atas perahu agar bisa dibaca anak-anak pesisir lainnya. Oiyaa saya sendiri sudah tahu dan merasakan kepopuleran usaha keras Ridwan Alimuddin lewat media sosial dan salah satu bukunya juga ada di perpustakaan kampus. Kemudian saat mendatangi Nusa Pustaka dan bertemu beliau langsung untuk pertama kali, menemukan hal seperti ini di daerah Mandar sungguhlah gokil hehehe.

Dosen mata kuliah Mandar memfasilitasi kami untuk mengunjungi Nusa Pustaka sekaligus menjadikan Ridwan Alimuddin sebagai narasumber untuk tugas laporan yang akan kita buat nantinya. Ridwan menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan baik sekali, memperlihatkan kecakapan beliau dan kesungguhannya dalam menyelami ilmu sosial budaya di Mandar. Nusa Pustaka sendiri adalah tempat yang sederhana, berlantai bambu dengan banyak sekali buku. Kecintaan Ridwan terhadap perahu sandeq yang sudah terbukti di sosial media kian dipertegas saat saya mendapati ada badan sandeq di dalam ruangan Nusa Pustaka yang dijadikan meja atas barang-barang koleksi Ridwan Alimuddin. Sejauh ini, bisa dikatakan bahwa Nusa Pustaka adalah tempat asing yang membuat betah.

Alamak, yang paling mengesankan saya adalah koleksi bukunya. Di lantai bawah ada rak buku berbentuk perahu sandeq yang memang dikhususkan untuk buku-buku tentang laut. Memasuki ruangan dengan rak buku lebih formal ada banyak sekali buku di sana, bermacam-macam genre yang sudah diklasifikasikan. Saya mendapati Norwegian Wood nya Murakami versi terjemahan KPG, buku terbitan Mojok yang masih berplastik sampai novel Sherlock Holmes berbahasa Inggris wow. Padahal dosen meminta kami mencari buku-buku rujukan untuk pembuatan laporan, saya malah asik mengagumi tiap koleksi buku Ridwan Alimuddin. Masa bodo dengan tugas hehehe jika tidak bisa dibawa pulang setidaknya buku-buku ini sudah pernah saya sentuh hehehe delulunya.

Naik tangga menuju lantai atas terasa agak rapuh, apalagi ruangan sesak dengan teman-teman saya yang juga mencari buku referensi. Saking banyaknya orang, pigura foto Baharuddin Lopa dan Husni Djamaluddin di dinding sampai ikut bergoyang-goyang. Sesampainya di lantai atas saya langsung melihat novel tebal-tebal Pramoedya Ananta Toer mendominasi rak buku di sisi kanan. Di sisi kiri banyak majalah-majalah, Tempo kalau tidak salah. Saya mengambil buku berbahasa Jepang yang bikin kepala mumet hehehe yang di samping buku itu ada foto Ridwan Alimuddin tengah bersalaman dengan Jokowi beserta piagam yang ia dapatkan dari Istana. Soal buku berbahasa Jepang itu, saya cepat mengambilnya tapi jauh lebih cepat lagi mengembalikannya dalam rak. Oiya, Ridwan Alimuddin memang punya banyak buku tentang Jepang yang salah satunya seperti buku panduan memuat peta jalanan Jepang. Ridwan kan memang sebelumnya pernah ke Jepang ya hehehe hebat sekali beliau satu ini. Ah andai saja bisa berada di Nusa Pustaka jauh lebih lama.

Satu juga penyesalan saya saat pulang dari Nusa Pustaka yakni saya tak sempat bertanya ke beliau tentang koleksi buku-bukunya ini. Menjadi penjaga Nusa Pustaka pasti menyenangkan seperti Oshima dan Kafka di Perpustakaan Komura.

Mandar yang menjadi harga diri

Menjanjikan lahirnya tulisan kedua yang ujungnya tak kunjung dikeluarkan itulah yang menjadi masalah, terlebih saat sudah lupa ingin menuliskan apa. Btw kok ya bisa menggebu-gebu ditulisan pertama itu? Ya karena, sebenarnya, selain dirasa perlu juga karena mempelajari Mandar ini merupakan salah satu mata kuliah saya di semester 6. Alhamdulillah kelompok saya sudah naik diskusi jadi sudah agak lega dan bisa mengerjakan tugas yang lain.

Judul di atas terinspirasi dari kemenangan perwakilan Sulawesi Selatan di LIDA, ya serumpunnya Sulawesi Barat atau lagi-lagi perwakilan Sulawesi menang di acara kontes dangdut. Sudah bukan hal yang mengherankan lagi sebenarnya bahwa Sulawesi terkesan tak bosan ingin menjadi artis tampil di tv atau semacamnya dengan menjadi juara satu. Namun apa yang dirasakan ternyata lebih dalam dari itu, tak sekadar ingin menjadi artis, para pendukung dari Sulawesi ini lebih menekankan ke arah harga diri. Jadi bayangkan bila yang menang justru dari daerah lain, pasti harga diri yang dimaksudkan ini akan merasa kalah tak kuat lagi. Sebagai seorang Sulawesi, Ah saya mampu membayangkannya.

Berkaitan dengan harga diri dan rasa malu, di Mandar sendiri ada yang namanya siri dan lokkoq. Siri bisa diandaikan dengan kentut di depan umum maka lokkoq lebih ekstrim lagi dengan apa yang kita rasakan bila ditampar di depan umum. Tentu kedua perasaan malu itu memiliki taraf berbeda dan inilah yang dijunjung orang Sulawesi, apalagi yang Mandar seperti saya. Mempertahankan harga diri terlebih jika mengorbankan nyawa dirasa perlu, ya hal hal semacam itu. Menjunjung tinggi kebenaran adalah segalanya, seperti ayahnya Doel yang menasehati Doel agar selalu jujur, Mandar itu begitu.

Teori Cocoklogi Secret Forest dan Misty


Misty couple ini berhasil didominasi oleh Kim Nam Joo, namun bukan berarti Ji Jin Hee tertutupi, yang ada malah menambah baik.

Begitu juga dengan partner couple Jo Seung Woo dan Bae Doo Na ini. Seiring ceritanya yang memang menonjolkan Hwang Shi Mok, mereka saling melengkapi satu sama lain. Lalu…

Kapan bisa mempertemukan mereka dalam satu proyek? Hehehe

Konsistennya Secret Forest yang Perlu Dicontoh Drama Korea Lain

Jika tertarik ke Ki Dong Chan saja gampang apalagi Hwang Shi Mok ya hehehe

Judul di atas sudah diusahakan selugas mungkin dalam memberitahukan apa yang hendak saya sampaikan, sehabis menamatkan Secret Forest. Setelah melihat keseluruhan dramanya, terasa wajar saja dengan bejibunnya penghargaan berhasil diraih Secret Forest yang bahkan baru-baru ini dapat Best Script di Baeksang (dengan tak lupa Jo Seung Woo sebagai aktor terbaik). Bahagia rasanya sebab drama ini sesuai ekpektasi. Pergerakan alurnya pun mulus, tidak lambat namun juga tidak cepat. Inilah yang patut dicontoh sama drama Korea jaman sekarang terutama tipe drama yang cepat duluan namun keteteran di belakang. Paling yang saya agak kurang senangi ya editan adegannya yang terkadang membuat tak nyaman, selain itu saya suka meskipun OST nya belum ada yang minta di download hehehe BGM nya yang bagus.

Sebagai drama yang bagus, drama ini juga punya good casting. Mengangkat nama Lee Joon Hyuk dan Shin Hye Sun yang sekarang lagi tenar-tenarnya, saya paling suka dengan casting pemeran Lee Chang Jun loh hehehe soalnya saya merasa asing dengan ajusshi ini pertanda dibenak saya beliau gak sepopuler ajussi Korea yang lain. Selain itu, sebagai pemuja couple Atasan-Bahawan Lee Tae Joon-Kim Jung Hwan di drama Punch, melihat bagaimana tek tok hubungan Lee Chang Jun-Hwang Shi Mok di drama ini sungguhlah saya lebih suka couple atasan bawahan dari drama ini, ah tergeser juga akhirnya Punch couple. Ehm gimana ya, ngerasa Secret Forest lebih realistis aja, tidak keseringan satu scene tapi hubungan mereka nyata di depan penonton, aneh ya makin minim malah makin asik. Dari bagaimana Lee Chang Jun memberi jabatan ke Shi Mok sampai Shi Mok tak menampik bahwa Lee Chang Jun lah yang ia jadikan panutan saat awal karirnya sebagai jaksa. Hingga saat Lee Chang Jun memutuskan pamit, dipanggil sunbaenim sama Shi Mok bisa membuatnya sedikit tersenyum. Mereka adalah couple yang ‘kena’ tanpa harus diciye-ciyekan.

Bicara couple, sebagai penyuka Han Yeo Jin yang tipe strong girl itu, saya sangat menyayangkan sekali bagaimana Eun Soo berakhir tanpa sesaat pun Shi Mok mengakuinya. Jo Seung Woo dalam memvisualisasikan Shi Mok berada pada titik kerennya, bagaimana denging di telinganya kambuh lagi, ia yang datar itu akhirnya berteriak-teriak (di tempat penghormatan terakhir pula-_-) menunjukkan betapa menariknya menjadi manusia. Manusia punya emosi, ekspresi, yang indah daripada mahluk hidup lain. (Ohya sangat menyayangkan mengapa tak ditunjukkan bagaimana kondisi Eun Soo yang sebenarnya di TKP).

Sementara Shi Mok dan Yeo Jin, di awal Secret Forest mereka digambarkan sebagai orang yang terpencil dalam instansi mereka masing-masing, selalu menunduk dalam kepada senior mereka. Jika dibuat romansa maka Wong Kar Wai akan tertarik untuk menindak lanjutinya, ya untung saja tidak romance hehehe. Lalu, kesamaan nasib dan tujuan itulah yang menjadikan mereka best patner ever, hingga Shi Mok yang pembawaan datar dan kerap waspada itu lebih memercayai Yeo Jin ketimbang rekan kerjanya sendiri di kejaksaan. Garis besarnya, Secret Forest tidak pernah berlebihan, termasuk pada momen Shi Mok Yeo Jin sendiri.

Season 2 itu perlu tapi tidak mengharapkannya jauh lebih penting lagi. Biarlah ia dirindukan dulu. Namun kalau mau season 2 ada baiknya ganti PD nim saja hehehe. Ohya kalau lihat Life, di balik ngecasting Lee Dong Wook itu semoga ada itikad baik, soalnya mikir Lee So Yeon Sw nim sudah kayak Kim Eun Sook Sw nim saja hehehe. Lalu menunggu aksi Jo Seung Woo berikutnya.

Secret Forest dan Lee Joon Hyuk yang tak Lelah Melotot

Horeee saya akhirnya menonton Secret Forest. Ya meskipun belum tamat tapi saya sudah gemas sendiri ingin menulisnya di blog. Oiyaa skenario debutan SW nim Lee Soo Yeon ini begitu luar biasa, hamdalah kehadiran beliau lewat Secret Forest nya sungguhlah sebuah angin segar dalam dunia K-dramaland yang mulai mainstream bercerita tentang polisi dan jaksa. Lee Soo Yeon SW nim membawa warna baru, yang jelas nyatanya pada awetnya fokus pemirsa menelusuri misteri satu kasus pembunuhan saja. Bayangkan… Fokus hanya kepada kasus kematian Park Moo Sung seorang yang memang cabang kasusnya menjalar kemana-mana. Bayangkan betapa boring ring ring pabila ini bukan Secret Forest…

Selain duo cakep Han Yeo Jin x Hwang Shi Mok, saya terkesan sekali dengan Jaksa Seo Dong Jae si tampan nan ekspresif itu. Nah sebagai antagonis yang mencak-mencak itulah yang mengingatkan saya dengan psikopat a la a la Nam Goong Min apalagi matanya kerap melotot sungguh angkuh sekali. Padahal posisinya di kejaksaan pun tak cukup kuat sih, tapi tetap saja berhasil bikin penonton kesal sendiri. Sungguh bagus aktingnya Lee Joon Hyuk, setiap pemain memainkan karakternya dengan amat baik, apalagi karakter tiap-tiap pemainnya juga bagus, menarik tapi tidak heroik. Akhh Yeong Eun Soo juga.

Terus sekarang Lee Joon Hyuk jadi pria idaman di drama A Poem A Day. Enggak nonton dramanya sih tapi lihat sekilas Lee Joon Hyuk di sana anjir beda banget sama Seo Dong Jae yang doyan marah sambil melotot itu. Hahaha.

Yoon Dujun dan Takeshi Kaneshiro – Diam Diam Food Porn

Saking gandrungnya Yoon Dujun dengan peran food porn nya, ia kembali di konfirmasi akan membintangi seri ke-3 Let’s Eat dengan Baek Jin Hee sebagai lead female nya. Ini sungguh kabar gembira sih, apalagi enggak puas dengan perannya di drama Radio Romance. Memang iya akting terbaik Dujun sejauh ini ialah sebagai Goo Dae Young, makanya sewaktu jadi raja di drama Splash Splash Love cocok juga karena karakternya ada Goo Dar Young nya sedikit hehehe.

Sekadar mengingatkan bahwa Goo Dae Young adalah seorang food blogger. Ia mengupload makanan yang hendak ia review yang apabila tak tersisa apa-apa dalam piring maka Goo Dae Young menyukai makanan tersebut. Tapi ujung-ujungnya penyuka mie, enggak jauh beda sama Takeshi Kaneshiro di This Is not What I Expected.

Setahun rilis ciye

Direktur Li (kalau tidak benar) adalah konglomerat yang gila detail akan makanan, benar-benar saingan berat Goo Dae Young. Sebagai orang kaya yang pilih-pilih makanan dan maunya enak saja, ia akhirnya takluk pada seorang chef muda wanita yang ia cintai makanannya.  Padahal banyak kesalahpahaman telah terjadi antara mereka, khas romcom yang jika film Mandarin ini tak dikemas cantik, maka melenceng sedikit sudah pasti mirip ftv tengah hari.

Filmnya sudah lama ada di laptop tapi saya baru saja bisa nonton setelah meresync subtitlenya (yang ternyata mudah itu). Belum dapat sub-indo nya, agak tersindir untuk mencoba namun apa daya sibuk sekali. Akan sangat bagus jika dipertemukan yah. Takeshi sama Zhou Dongyu aja jadi bagus begitu. Aduh bias biasku food porn, jalan takdirnya memang sungguh.