Kabut Sutra Ungu / Mist of Purple Silk (1979)

Mist Of Purple Silk? Eittss jangan terkecoh dulu. Itu merupakan judul bahasa Inggris film Kabut Sutra Ungu yang akan saya bahas dipostingan ini.

Mist of Purple Silk

Rencana awalnya saya ingin menonton The Heirs episode 20 tetapi jadwal tersebut menjadi kacau semenjak saya keasikan nonton Kabut Sutra Ungu nya tante Yenny Rachman dan om Roy Marten. Terhitung sampai saat ini saya sudah mererun Kabut Sutra Ungu sebanyak 2 kali dan selebihnya tak terhitung berapa kali saya mengulang menonton adegan-adegan favorit saya. Akakakakakakakkkk.

Kabut Sutra Ungu sendiri jalan ceritanya mengambil tema “turun ranjang” yang berarti menikah dengan ipar sendiri. Saya sudah sering mendengar istilah ini tapi gara-gara Kabut Sutra Ungu saya baru tahu apa itu turun ranjang. Awalnya saya juga tidak mengerti kenapa janda/duda yang ditinggal mati pasangannya bisa menikah dengan saudara pasangannya yang telah meninggal (ipar) tapi setelah mendengar ada kata “pengganti” dalam pengertian turun ranjang, saya pun akhirnya mulai mengerti.

Kabut Sutra Ungu bercerita tentang Miranti (Yenny Rachman) yang menjadi janda karena suaminya yang seorang pilot meninggal dalam kecelakaan. Berhubung waktu itu status janda termasuk “tidak baik”, lebih setengah film digambarkan betapa tersiksanya Miranti dengan gelar janda nya itu. Miranti kesepian dan dipandang sebelah mata oleh lingkungannya. Sampai suatu hari, adik ipar Miranti yakni Dimas (Roy Marten) yang baru tiba dari Jerman menaruh rasa suka pada Miranti. Apakah sudah terbiasa dengan pandangan orang-orang terhadapnya atau karena masih belum move on almarhum suami, Miranti pun meragukan cinta Dimas dan menganggap rasa yang dimiliki Dimas itu bukan cinta melainkan rasa kasihan. Padahal disisi lain Miranti juga menyukai Dimas. Dimas yang kecewa memilih pergi melarikan diri ke Jerman sementara Miranti hanya bisa menangis dikamarnya karena tak mampu berbuat apa-apa untuk menahan kepergian Dimas. Beruntungnya penerbangan ke Jerman ditunda, tindakan cepat Dimas yakni ngebut kerumah Miranti. Tanpa sepengatahuan Miranti, Dimas masuk kekamarnya sedangkan Miranti kembali melanjutkan curhatannya tentang betapa sakit dirinya yang ditinggal Dimas. Perkataan Dimas mengagetkan Miranti, dia nampak bahagia lalu memeluk Dimas. Merekapun bahagia ^ ^

Menonton ending Kabut Sutra Ungu, saya langsung bersorak YEAY!! saking puasnya saya dengan endingnya. Saya betul-betul menikmati chemistry dari Dimas dan Miranti. Andai saja adegan mesra nya diperbanyak, hahahahaha.

Kabut Sutra Ungu resmi menjadi salah satu film jadul favorit saya. Mempunyai dialog yang kuat walaupun saya cukup terganggu pada tokoh Dimas yang sering mengucapkan kata “KAWIN” pada Miranti, seakan-akan Dimas bukan lulusan luar negeri saja. Hehe tapi barangkali kata KAWIN dipilih untuk menguatkan kesan serius Dimas yang sangat mencintai Miranti, jika dibandingkan dengan kata NIKAH/MENIKAH yang terkesan lebih soft. Selain dialog yang annoying, ada beberapa adegan juga yang cukup mengganggu. Contohnya waktu adegan Dimas dan Miranti nonton layar besar dalam mobil (film yang diputar film Chuchky ya?) mirip adegan BBF nya Junpyo dan Jandi. Miranti yang ketakutan menyembunyikan wajahnya dibahu Dimas. Dimas yang tahu ada kesempatan bagus (yes) mulai memeluk Miranti juga mencium tangan dan keningnya. Saya harap adegan indah itu terus berlanjut tapi diganggu dengan adegan semacam khayalan Miranti yang seakan-akan menikmati surga dunia. HAHAHAHAHA saya yang mulai terhanyut suasana maut Dimas dan Miranti langsung saja tertawa keras-keras melihat adegan khayalan itu dimana tante Yenny tidur berguling-guling dengan slow motion. Untung saja setelah adegan khayalan yang mengganggu itu ditutup dengan perbincangan menggunakan dialog kuat antara Dimas dan Miranti. Paling suka waktu Miranti bilang (seingat saya) : “Aku tak menyesali kejadian ini, aku hanya bingung apakah aku melakukannya karena aku kesepian atau karena aku juga mencintaimu. Jika aku melakukannya karena kesepian, aku takut aku juga akan melakukan ini dengan pria lain”. BEUH MANTAP KAN!!!

Selain karena faktor X (baca: om Roy Marten), saya jatuh cinta pada Kabut Sutra Ungu dikarenakan dialog-dialognya yang sangat dramatis dan sukses menampilkan kekuatan. Jadi bukan hanya dialog yang asal bicara tanpa arti yang sering kita jumpai di sinetron saat ini (lagi-lagi sinetron jadi kambing hitam. Kasihan) . Saya pernah menonton film Syuman Jaya yang rata-rata film Rhoma Irama tetapi saya tidak menyukainya, berbeda ketika menyaksikan Kabut Sutra Ungu. Jempol juga untuk tante Yenny Rachman, saya jadi menyukai tante ini ketimbang Yati Octavia. Untuk om Roy Marten, andai saja dia pernah menangis disalah satu scene. Intinya yang tua yang hebat. Hahahah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s