Cintaku Di Kampus Biru (1976)

Cintaku Di Kampus Biru

Kembali lagi saya menonton film yang dibintangi om Roy Marten, yang konon katanya berkat film inilah om Roy meraih ketenarannya kala itu. Cintaku di Kampus Biru, yang Alhamdulillah saya juga sudah baca novelnya.

Anton Rorimpandey (Roy Marten), mahasiswa cerdas, aktivis, ganteng, dan seorang penakluk wanita. Memutuskan pacar pertamanya Marini (Yatie Octavia) yang selalu minta dinikahi, ia mendekati Erika (Enny Haryono). Berhasil juga. Lalu ia menghadapi masalah lain: seorang dosen yang dianggap menghambat mahasiswa, Yusnita (Rae Sita), perawan cukup umur. Anton memimpin demonstrasi mahasiswa terhadap Yusnita, hingga Anton disidang oleh dewan dosen. Persidangan ditunda karena ada kerja sama penelitian dengan universitas lain. Di sinilah Anton berhasil menaklukkan Yusnita. Namun Yusnita akhirnya memutuskan kawin dengan sesama dosen yang sudah lama mencintainya, sedangkan Marini bersama Kusno (Farouk Afero) sahabat Anton. dan Anton akhirnya kembali pada Erika, meski ibu yang terakhir ini pada awalnya tidak setuju. (sumber : filmindonesia dengan beberapa perubahan)

Saya sangat menyukai film ini. Konfliknya unik dan semacam nostalgia, kita bisa melihat bagaimana Jogjakarta ditahun 70an terutama si Kampus Biru yakni Universitas Gajah Mada. Film ini juga menutupi kelemahan novelnya. Jika di novel kita mengetahui konflik Anton hanya sebatas pada kehidupan cintanya saja, di film sosok Handoko yang hanya menjadi tempelan di novel dibuat menjadi karakter yang mengkhianati Anton agar bisa menjadi ketua senat. Saya suka saya suka, karena memang konflik yang dalam novel datar-datar saja. Eh kok jadi ngebandingin novel dengan filmnya, hahahahaha.

Cintaku di Kampus Biru termasuk film yang romantis mengerikan bikin ngakak menurutku. Jika di novel saya tak berhenti tertawa, difilmnya lumayan tertawa saya berkurang karena film ini dibuat se-romantis mungkin walau tetap ngakak. Apalagi adegan Anton dan Ibu Nita yang berpacaran dipantai, geli hati ini melihatnya. Terlebih adegan itu tak ada dalam novel. Benaran ya, pacaran bareng orang yang jauh lebih tua cukup mengerikan (colek Takeshi Kaneshiro). Chemistry yang dibangun om Roy Marten dengan tante Rae Sita (ga nyangka tante Rae Sita waktu muda cantik juga) lumayan juga walau sesekali terlintas dipikiran betapa mengerikannya gaya pacaran mereka. Lumayan karena chemistry Anton sama Erika justru tidak begitu ngena ke saya. Hemh, tante Enny Haryono tidak seperti Erika yang ada di imajinasi saya. Hehehehh oh ya background music yang memakai petikan gitar dan musik-musik klasik makin membuat saya betah menonton Cintaku Di Kampus Biru.

Om Roy Marten sangat cocok memerankan Anton Rorimpandey. Meski tatapan mautnya tidak se-dor seperti di film Disini Cinta Pertama Kali Bersemi, penampilan berantakan om Roy tidak menutupi ketampanannya. Hahahahahahaha..

7 pemikiran pada “Cintaku Di Kampus Biru (1976)

  1. Ping-balik: Gita Cinta dari SMA dan Cintaku di Kampus Biru: Romeo dan Juliet Beda Dimensi | ferrilirham9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s