3600 Detik

3600 detik

Ting Dong. Berawal dari rasa penasaran saya terhadap berita yang sering muncul di timeline Twitter. Saya sebenarnya tidak update tentang film Indonesia (taunya cuma The Raid 2 doang) tapi berbagai berita tentang film baru berjudul 3600 Detik akhirnya membuat saya penasaran akan film satu ini. Membaca-baca beritanya di situs media online saya tahu bahwa film ini di adaptasi dari novel karangan Charon berjudul sama. Saya yang hanya tau pengarang novel macam Ashadi Siregar, Ike Soepomo, Marga T juga Mira W merasa tertantang untuk membaca novel remaja ini. Kali saja saya memang masih bisa dikatakan sebagai remaja normal dengan membaca 3600 Detik.

Menceritakan tentang Sandra, perempuan yang tidak beda jauh dengan preman pasar. Sifat preman yang dimiliki Sandra akibat dari perceraian orang tuanya. Sandra yang dulunya remaja baik-baik kini menjadi liar dengan berbagai perilaku yang awalnya membuat saya iba tapi semenjak dia mencuri jam dan uang ibunya saya jadi enek dengan Sandra. Untung ada Leon, siswa sekolah baru Sandra yang seorang juara sekolah nan cerdas. Kesempurnaan Leon tertutupi akibat dia punya penyakit jantung parah yang kapan saja dan dimana saja bisa merenggut nyawanya sehingga jarang ada yang mau berteman dengan Leon. Sifat bertolak belakang Sandra dan Leon juga keduanya sama-sama kesepian membuat mereka menjadi sahabat sejati sampai mati. Setelah sebelumnya mereka menjalani 3600 Detik (1 Jam versi dramatis) penuh kebahagiaan. Oh indahnya.

Iseng saya mendapatkan link e-book 3600 Detik lalu tanpa pikir panjang saya mendownload. Percayalah, saya menghabiskan membaca novel ini kurang dari 2 jam. Lah kok bisa? Saya pun heran. Mungkin e-book yang saya download tidak seperti novelnya yang konon mempunyai 208 Halaman. Keheranan saya berlanjut ketika membaca isi 3600 Detik. Penggunaan bahasa baku ketika ada dialog Sandra dan Leon juga penyebutan nama diujung kalimat ketika percakapan Papa dan Mama Sandra bikin saya ciut sesaat tetapi tak menghentikan tangan untuk meng-scroll halaman demi halaman e-book. Mungkin gaya penulisan di novelnya jauh lebih bagus ketimbang di e-book ini. Saya tahu diri kok, kalau gratis jangan banyak protes. Hehehe.

Untuk saya pribadi 3600 Detik sangat minim konflik seperti yang saya perkirakan ketika membaca sinopsis singkatnya. Ujung-ujungnya ending mudah ditebak tapi saya maklum karena ini novel remaja. Andai saja 3600 detik tidak melulu dari pov si author mungkin akan bisa jauh lebih indah. Penasaran akan bagaimana jika ada pov dari Sandra atau Leon. Meskipun saya tidak terlalu tersentuh dengan chemistry persahabatan antara Sandra dan Leon, saya suka sekali dengan penulisnya yang konsisten membuat mereka bersahabat hingga akhir. Remaja tidak harus selalu tentang masa-masa percintaan, bukan?
Mari bicara tentang ending novel ini.
~~~
Momen ketika Leon meninggal dunia sejujurnya sangat kena tetapi saya cukup terganggu manakala sebelum Leon pergi Sandra mengajaknya dulu ke taman bermain dan mencoba wahana komedi putar dan kincir (apalah itu bahasa kota nya). Ting dong, momen kunci 3600 detik mengingatkan saya pada film Jepang I Give My First Love To You dimana sebelum kematian Takuma, Mayu dan Takuma juga pergi ke taman bermain mencoba berbagai wahana roller coster juga mobil-mobilan (apalah itu bahasa kota nya). Makin terganggu lah saya ketika menyadari Leon dan Takuma sama-sama bermasalah dengan jantung. Kesalahan kali ya karena tahu I Give My First Love To You duluan ketimbang 3600 detik. Setelah googling, 3600 Detik rilis lebih dahulu (2008) ketimbang I Give My First Love To You. Entahlah, yang jelas gara-gara hal ini momen 3600 Detik sudah tidak surprise lagi.

3600 Detik, novel lain yang menekankan betapa kita sebagai manusia harus menghargai dan mensyukuri apa yang Allah telah berikan dalam sudut pandang remaja dengan penggambaran sangat indah. Jangan berputus asa, jangan menyia-nyiakan dan teruslah menikmati hidup mumpung kita masih diberikan waktu oleh Allah. Remaja SMA tidak melulu soal cinta, kesepian dalam hidup justru akan lebih bermakna jika didampingi oleh seorang sahabat yang mampu memberikan energi juga secercah harapan dalam kelamnya kehidupan. Pesan moral yang indah, seindah pikiran yang tidak tertekan membaca 3600 Detik. Butuh 1 jam untuk membahas 3600 Detik🙂

7 pemikiran pada “3600 Detik

  1. dira

    cieeeeee evi….
    walah, walah, saya ngiranya juga tentang romance lho wkwkwk
    memang jangan lihat dari luarnya saja🙂
    thanks a lot, vi

    1. dira

      u know vi? karena dira hanya melihat dari kover (tema romance yang mainstream) jadinya ga dira beli hahaha
      padahal banyak juga yang bilang bagus😛

      1. dira

        btw vi, komen yang i got a boy vs mr mr itu,
        secara lagu emang lebih gebrak yang i got a boy hehe
        tapi secara koreo, dira suka mr mr yang manis🙂

      2. Org pertama kali dgr IGAB pada ga suka, saya pertama kali dgr IGAB langsung suka. Org pertama kali dgr Mr.Mr pada suka, saya pertama kali dgr Mr.Mr langsung ga suka. Hahahahahaha.

      3. dira

        hahahaha dasar
        kalo dira jarang gitu vi, lebih ke “pertamanya ga suka, eh malah jadi suka setelah diliat lagi”😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s