Tesa Sang Bidadari Tuan Solem

Tesa

Bodohnya saya kenapa baru melirik novel ini, kenapa tidak sedari dulu . Novel berjudul Tesa karya Marga T ini kalau tidak salah terbitan tahun 1988. Novel percintaan, hahahahaha.

Tesa Rodan, perempuan Indonesia yang berkuliah di Austraulia karena sakit hatinya terhadap sang sahabat bernama Shakira telah merebut pacarnya bernama Goffar. Tesa yang mulai menyadari betapa konyolnya alasan dia berkuliah di Australia merasa tidak enak jika terus-terusan meminta biaya kuliah pada keluarganya yang tidak kaya. Meskipun ragu tapi karena Tesa butuh uang, dia pun menerima pekerjaan dari teman satu asramanya bernama Pika. Karena kesibukan Pika dengan kuliah kedokterannya, Pika mempekerjakan Tesa sebagai perawat Pasha, pacar Pika yang kuliah kedokteran tetapi mengalami kebutaan karena kecelakaan. Pika sebelumnya meminta Tesa mengganti namanya dengan Selina agar ketika Pasha sudah bisa melihat lagi, Tesa bisa tenang lagi. Kebutaan membuat Pasha menjadi pemarah luar biasa dan Tesa sudah sangat sabar meladeni majikannya. Tetapi keduanya tetap saling memperhatikan satu sama lain. Operasi Pasha mulai menemui titik terang, Selina pun menghilang dengan alasan dari Pika bahwa Selina telah kembali ke Jakarta, padahal Pasha sudah sangat ingin tahu bagaimana wajah Selina itu. Beberapa waktu kemudian, Pasha pun bertemu Tesa tanpa tahu gadis yang ditemuinya adalah Selina. Mereka menjadi akrab dan Pasha pun tahu bahwa Tesa adalah Selina, perawatnya ketika buta dulu. Pasha yang tidak diperhatikan Pika langsung saja mencintai Tesa dan beberapa kali gadis tersebut mencoba mengelak perasaan kasihnya kepada Pasha karena takut akan merebut pacar temannya itu. Lalu bagaimanakah kelanjutan cinta Pasha dan Tesa? Dengan segala kerumitan yang ada mampukah keduanya bersatu? Yang jelas mereka mampu🙂

Diiringi hujan petir, saya membaca novel ini dari jam setengah sepuluh malam dan terpaksa stop baca sampai jam setengah dua. Bakalan lucu ya kan kalau saya tidak tidur sampai jam 2 pagi dan itulah yang saya lakukan dini hari tadi. Penyebabnya ialah novel ini, novel yang membuat saya berganti-ganti posisi ketika dibaca. Pokoknya feel saya selama tengah malam itu kacau balau. Saya serasa kosong, pipi saya memerah, dada saya sakit, saya sumringah seperti kuda, itu semua karena novel ini. Bagaimana Marga T dengan perfectnya menciptakan Pasha Solem, sang dokter baik hati dan narsis. Dan juga gaya bahasanya yang membuat saya ikut terbawa suasana tiap Pasha menunggui Tesa di tangga, berduaan di apartemen dan tiap Pasha mengurung Tesa dengan lengannya diselipi pesona Pasha sangat berhasil digambarkan Marga T. Saya saja yang membayangkannya sudah meleleh, hahaha matilah kau Evi. Jika saja di Tesa ada point of view dari Pasha Solem, mungkin saya akan lebih kejang-kejang lagi dengan karakter sang Dokter Nyentrik ini.
Oh ya, saya melanjutkan membaca novel ini ketika saya baru bangun jam setengah 7 pagi (maklum lagi dapet) dan jam 8 pas novel Tesa telah berhasil saya selesaikan. Rasa lega dan good mood mengawali pagi saya hingga siang ini, ketika entri ini lagi ditulis. Segala rasa parno musnah sudah. Mau tahu kenapa saya parno membaca novel Tesa? Ya makanya kalian baca juga dong :p

Menurutku Tesa jauh lebih baik dibanding Badai Pasti Berlalu, novel Marga T paling fenomenal. Tesa merupakan tokoh utama yang baik, tahu kapan waktunya marah dan kecewa. Hati Tesa selalu mengelak Pasha tapi bahasa tubuhnya tidak berbohong manakala Tesa sangat menikmati waktu-waktunya bersama Pasha. Pasha pun lain lagi, tokoh utama pria dari Indonesia ini adalah seorang dokter tampan dan narsis. Kenapa ada pria model macam Pasha ditahun 80an? Hahaha.. Pika dan Goffar (Go Far? Pergi Jauh?) juga tak kalah menyebalkannya, sekilas seperti tidak mensyukuri kenikmatan yang ada. Tapi apa daya manusia. Untuk suasana kampusnya hampir tak terasa sama sekali. Mungkin saya sudah terbuai cinta Tesa Pasha serta kekerenan Pasha Solem yang dalam khayalan saya dia seperti Lee Seung Gi (karena waktu jeda sebentar cek twitter, saya melihat foto Lee Seung Gi. LOL). Itulah saya, sesuka apapun saya dengan genre hiburan yang berat-berat, saya akan tetap jatuh jika disajikan genre cinta seperti yang disajikan Tesa. Sudahlah, saya masih tersihir novel ini. Novel cinta yang berhasil🙂

Allah memberikan cinta tapi kenapa kita selalu menyalahkan cinta atas kemalangan hidup? Setiap kemalangan pasti ada hikmahnya, semuanya akan indah pada waktunya, lewat cinta itu.

4 pemikiran pada “Tesa Sang Bidadari Tuan Solem

  1. keren mbak ulasan buku jadulnya *langsung cari di perpus sekolah. Kalau dilihat dari postingan2 mbak kok seleranya hampir sama sih dengan saya, suka korea tapi tetep suka juga dengan indonesia (yang berbau jadul). bedanya kalau saya kalau jadul indonesia suka lagu2nya (lagu sekarang sih juga ada yang suka cuma ngk sebanyak lagu jadul yang kusukai😀.
    salam kenal mbak sekalian promote blog saya

    https://myhappyairen.wordpress.com/2015/06/17/just-khayalan-mv-lee-seung-gi-%ed%95%98%eb%8b%88/

    *rada ngk terima Seunggi dibanding-bandingin sama Pasha Solem, maklum nge-biasin Seunggi, kkk

    1. Kalau kamunya suka dangdut kayak saya, barangkali kita saudara kembar hehehe. Saya gak bandingin Pasha sm Seunggi kok, hanya tanpa sengaja saya membayangkan Pasha itu Seunggi yg membuat saya beberapa waktu lalu menyukai Seunggi. Thank u yah udah mampir dan link blognya😀

      1. Bisa jadi^^ tapi sayangnya saya nggak doyan sama musik dangdut apalagi dangdut koplo jaman sekarang dengernya aja bikin pusing apalagi ditambah liat style penyanyinya.. Haduuuh… ups *digeplak penikmat dangdut* *angkat 2 jari*

        Lagu jadul bagi saya lagu tahun 2000an awal sampe 80an kebawah cuz saya kelahiran 98. Entah kenapa saya lebih doyan lagu jadul drpd yg sekarang terutama yg genre-nya pop jazz bossanova gitu *nggak bermaksud macam2* *genre musik sebenarnya sama aja* *namanya aja selera itu relatif*

        Maaf klu OOT (out of topic) dan numpang promosi. Niatnya cuma mau blogwalking aja😀

        https://myhappyairen.wordpress.com/2015/07/14/hidden-identity-part-1/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s