Merpati Tak Pernah Ingkar Janji

Merpati Tak Pernah Ingkar Janji Mira W

Merpati Tak Pernah Ingkar Janji. Maria lah sang merpati, merpati yang menepati janjinya sebagai biarawati. Maria bagai malaikat.

Maria merupakan anak yang didedikasikan jadi milik Tuhan oleh ayahnya, Handoyo. Maria telah dijauhkan dari dunia luar yang penuh kemaksiatan. Maka dari itu Maria jadi anak yang norak, cengeng, dan minta ampun lugunya ketika sang ayah menghendaki Maria menempuh pendidikan di SMA Wanita sebelum siap menjadi Biarawati. Teman-teman Maria bisa dikatan remaja modern yang sangat bertolak belakang dengan kelakuan Maria. Mereka semua mem-bully Maria ketika baru masuk sekolah tetapi lama kelamaan mereka menyukai Maria bahkan sangat menyayangi Maria bagaikan keluarga kandung Maria. Begitu pula dengan Maria yang dulunya kuper kini mulai agak modern sedikit. Maria jatuh cinta dengan Guntur, lelaki yang awalnya mempermainkan Maria justru balik cinta kepada Maria. Walau tidak melanggar norma-norma yang ada, modernnya Maria ditanggapi marah oleh ayahnya. Tak segan Pak Handoyo main tangan dengan Maria. Sekali lagi merpati tak pernah ingkar janji, Maria tak pernah ingkar janji.

Novel karya Mira W tahun 80an juga, dibuat filmnya dengan judul yang sama kalau tidak salah pada tahun 1985 atau 86 gitu. Walaupun saya muslim tapi saya sangat mencintai novel ini, mencintai cara Mira W mengarahkan ending novel ini akan lari kemana. Maria sungguh-sungguh mencintai Tuhannya, Maria tulus berdo’a lama-lama pada Tuhannya. Saya suka dengan karakter Maria dimana setelah dia merasakan indahnya pergaulan sehat dia pun meraih kemauannya, menjadi biarawati. Panggilan untuk jadi biarawati datang dari lubuk hatinya bukan karena paksaan ayahnya yang sekilas menyebalkan itu. Maria bahagia menjadi biarawati, menjadi milik Tuhan dan mengabdi pada masyarakat. Untuk Pak Handoyo kalau dipikir memang ada benarnya juga perilaku beliau pada Maria. Pak Handoyo sudah berjanji menyerahkan Maria pada Tuhan ketika Maria lahir apalagi ketika ibu Maria yang mantan biarawati meninggal saat melahirkan. Yang disayangkan kenapa Pak Handoyo sangat keras pada Maria suka memukul Maria, bawaannya negative thinking terus. Untung saja Maria berbudi luhur dan pendiriannya kuat, sebagai ayah tak terbayangkan bagaimana bahagianya perasaan Pak Handoyo meninggal disamping Suster Maria anak yang sesuai harapan.

Teman-teman SMA nya Maria semua seperti kuda liar. Diawal memang menyebalkan tetapi perhatian mereka pada Maria membuat saya tersentuh. Semenjak Maria yang pintar main Volley (oh.. Saya benci permainan ini) perlahan mereka mulai menerima Maria si kuper. Perhatian demi perhatian mereka curahkan setelah tak ada lagi rahasia antara mereka dan Maria mulai dari memberikan bikini, menuliskan catatan-catatan Maria yang ketinggalan hingga membantu Maria bisa berjalan-jalan dengan Guntur. Cara remaja banget ya tapi menyentuh dan bikin terharu.
Bukti kebaikan hati Maria, Guntur lah yang paling merasakannya. Tuhan lewat Maria mengubah Guntur yang berandalan menjadi manusia berguna. Guntur menjadi Insinyur pembangun jembatan dekat rumah sakit tempat Maria bertugas. Keduanya kini mengabdi pada masyarakat demi terwujudnya ketentraman yang membuat dunia ini indah akibat senyum ribuan bahkan jutaan orang. Padahal saya pribadi mau Maria nikah dengan Guntur. Ya sudahlah toh saya pun suka banget melihat keduanya bekerja untuk orang banyak. Jika sudah pensiun nanti, who knows… *digetok Maria*. Paling suka waktu Guntur manggil Pak Handoyo “Calon Mertua”. Hehehehe keren deh si Guntur. Maria dan Guntur, inilah contoh indah dari kalimat “Cinta Tak Harus Memiliki”. Terima Kasih Mira W.

Novel Merpati Tak Pernah Ingkar Janji secara keseluruhan memuaskan saya, to the point dan ceritanya konsisten hingga akhir. Meski agak terganggu dengan banyaknya tokoh terutama anak SMA teman Maria dan teman Guntur karena sulit menghapal dan menandainya. Bacaan yang bagus, contoh-contoh kebaikan dikemas dengan menarik. DAE to the BAK!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s