Bukan Impian Semusim

Bukan Impian Semusim

Ketertarikan saya pada novel-novel jadul karya Marga T membuat saya mendaratkan pilihan terhadap novel ini . Kayaknya novel ini rilis pada tahun 70-an karena sudah dibuatkan filmnya pada tahun 1981 yang dibintangi Deddy Mizwar. Bukan Impian Semusim, lebih tepatnya Bukan Impian Musiman :p

Saya cukup kaget membaca kata pengantar Bukan Impian Semusim yang mana dijelaskan bahwa novel yang saya baca ini merupakan edisi revisi. Atas desakan pembaca yang tidak menerima akan hasil sad ending dalam versi original Bukan Impian Semusim, versi revisi ini pun dibuat happy ending. Alasan lainnya karena teknologi medis sudah canggih jadi tokoh pria bernama Miki (versi originalnya bernama Adri) tidak meninggal dunia. Bah!! Saya kena spoiler *kemudian ciut*

Bukan Impian Semusim menceritakan Nina, gadis SMA asal Palembang yang sekolah di Jakarta. Nina ini punya impian ingin menjadi biarawati. Nina yang punya aura menarik dalam dirinya membuat Miki jatuh cinta pada sahabat adiknya ini tapi Miki cukup kecewa tatkala teman-teman Nina mengatakan Nina ingin jadi biarawati. Keluarga Nina menyusul ke Jakarta, ayahnya yang kehilangan pekerjaan menjadi pemarah, Ibunya sakit-sakitan sehingga adiknya tak ada yang mengurus. Atas pertimbangan sang ibu, Nina bekerja dan menunda mimpinya. Kematian adik Miki membuat pemuda itu jadi sangat kehilangan terlebih Nina menghilang juga setelahnya. Miki lalu mendapati Nina bekerja diperusahaan ayahnya. Miki membujuk Nina untuk menikah dengan alasan membantu keluarganya juga. Nina akan begitu kejam jika meninggalkan keluarganya saat Nina telah menjadi biarawati. Melewati gejolak dalam hatinya Nina pun menikah dengan Miki dan kekacauan keluarga Nina mulai mereda. Rumah tangga Miki dan Nina melewati berbagai cobaan mulai dari penolakan ibu Miki yang akhirnya mereda sebab kehadiran anak lelaki kembar bernama Johannes dan Andreas, serta keinginan dua anak kembar itu yang ingin menjadi pastur dan kanker kelenjar yang diidap Miki. Semuanya mereka lalui dengan akhir bahagia.

Saya butuh 7 jam untuk melahap novel ini seluruhnya. Meskipun lagi-lagi membahas perihal biarawati, saya cukup merasakan dilema dalam diri Nina antara meneruskan impiannya atau menolong keluarga dengan menikahi Miki. Miki terang-terangan mencintai Nina tetapi Nina butuh waktu untuk mencintai Miki, membuat Miki galau jika saja Nina masih memikirkan impiannya itu. Takdir berkata lain, Miki dan Nina menemukan kebahagiaan mereka dan tak disangka dua anak mereka ingin menjadi pastur. Seakan Tuhan menuntut ganti rugi akan batalnya impian itu, entahlah saya tidak begitu paham. Oh ya menurut pengarang alasan lain hidupnya Miki yakni pengarang tak ingin Tuhan seakan-akan menghukum Nina karena Nina tidak mempertahankan niatnya. Ya bagus juga. Hanya saja saya kurang suka dimana ketika berobat di New York penyakit Miki ternyata salah diagnosa. Huh.. Heol!!! Kurang greget jadinya. Mungkin inilah kenapa para pembaca masih ada yang menyukai versi asli Bukan Impian Semusim. Btw penyakit Miki mengingatkan saya pada penyakit komedian kemayu asal Indonesia yang mana keduanya sama punya benjolan sekitar leher. Jika diperhatikan komedian tersebut belum juga sembuh hingga kini, ya dipikir keputusan salah diagnosa memang keputusan terbaik untuk novel ini *jitak evi, sok tahu medis*. Tidak seperti ketika membaca Tesa, saya merasa seperti tidak bisa bahagia seluruhnya melihat kemesraan Nina dan Miki karena pasti akan ada penderitaan lagi setelahnya. Padahal sudah tau spoiler Bukan Impian Semusim tapi tetap saja saya ada rasa was-was.

Bukan Impian Semusim merupakan novel yang cukup panjang jadi beberapa part yang menurutku bisa dipersingkat menjadi panjang seperti ketika Nina masih SMA. Maunya saya kan momen-momen Miki Nina sebelum menikah bisa diperbanyak *aduh kumat*. Novel yang bagus, ada pesan moral. Masih lebih bagus dibandingkan Badai Pasti Berlalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s