Norwegian Wood

Setelah berhasil menamatkan novel The Fault In Our Stars kali ini novel Norwegian Wood berhasil menjadi buku berbahasa Inggris selanjutnya yang saya selesaikan. Sebenarnya novel Norwegian Wood ini merupakan novel Jepang dan terjemahan bahasa Inggris nya lah yang saya baca. Oh ya… Saya sendiri tahu Norwegian Wood itu sebagai film Jepang bukan novel (meski belum menontonnya) dan teman saya merekomendasikan agar saya membaca novel berjudul sama, disaat itulah saya baru menyadari. Setelah dipikir-pikir sebagai pengisi waktu libur nonton K-drama beberapa waktu lalu, saya membaca Norwegian Wood. Awalnya saya suka menghindar membaca buku terjemahan karena takut bahasanya jelek tapi novel yang diterjemahkan oleh Jay Rubin ini meski diawal membingungkan makin lama dibaca malah makin enjoy. Saya suka saya suka.

Norwegian Wood karangan Haruki Murakami ini bersetting di Jepang tahun 60-an. Adalah Toru Watanabe sang tokoh utama sekaligus narator yang menceritakan kisah hidupnya di tahun 60-an saat masih mahasiswa karena mendengar lagu The Beatles berjudul Norwegian Wood. Toru bukanlah mahasiswa sembarangan bukan karena dia aktif ikut organisasi bawah tanah atau semacamnya melainkan petualangan hidup dan cinta seorang Toru yang rumit tapi berputar-putar pada satu lingkaran bernama “kehilangan”. Toru kehilangan sahabat baiknya karena sang sahabat bernama Kizuki ini tewas bunuh diri tanpa alasan jelas. Toru kemudian jatuh cinta pada pacar Kizuki yakni Naoko dimana kondisi mental sang gadis pasca kematian Kizuki mengalami gangguan. Naoko menghilang lalu datanglah Midori gadis yang terbuka dan tidak pendiam seperti Naoko membuat Toru menginginkan Midori juga. Begitulah hingga Toru harus kehilangan lagi.

Hal yang membuat menarik Norwegian Wood adalah bagaimana kehidupan remaja dewasa 60-an di Jepang ini terjadi, apa yang menjadi selera mereka ditahun segitu. Toru misalnya dia sangat suka membaca novel The Great Gatsby. Jika Toru mendengarkan musik biasanya Toru memilih musik klasik yang salah satunya karya piano seorang Bill Evans “Waltz For Debby” favorit saya juga. Sangat mewah sekali untuk ukuran mahasiswa dengan adat ketimuran pada tahunnya sehingga membuat saya kurang merasakan feel Jepang nya lebih dalam lagi. Modern ini selain pada selera juga pada kehidupan mereka para mahasiswanya yang mulai terbuka terhadap hubungan intim diluar pernikahan. Mahasiswa disini juga suka merokok seperti Marlboro dan minum seperti Chivas Regal. Sangat mewah untuk saya dan agak memuakkan tapi novel ini bukan novel yang jelek.

Membaca Norwegian Wood serasa seperti merenungi diri sendiri. Tokoh-tokohnya punya sudut pandang masing-masing akan jalannya hidup mereka dan bagaimana mereka menghidupinya. Semuanya nyeleneh dan absurd alias tokoh-tokoh yang tidak harmonis dengan masa lalu jadi menampakkan sisi kelam dari diri mereka. Namun anehnya senyeleneh apapun tapi mereka tetaplah manusia biasa maka dari itu saya suka Norwegian Wood. Menjadi kelam bukan berarti menghilangkan sifat manusia itu sendiri jadi marilah kita semua menjalani hidup jauh lebih baik dari Toru dan kawan-kawannya😀

Saya membaca Norwegian Wood saat sedang suka-sukanya sama Leslie Cheung. Leslie mengakhiri hidupnya sendiri dan ini sangat mengganggu saat Norwegian Wood juga menggunakannya beberapa kali tanpa alasan jelas pula dari para tokohnya. Apakah mungkin mereka menganggap ada dewa kedamaian yang bisa diminta pertolongan jika telah mati? Ini terlalu mudah dan terlalu konyol membuat saya makin benci dengan tindakan tersebut. Jadi jangan coba membunuh kehidupan selama kehidupan masih menyukaimu pertanda akan ada takdir baik yang sebentar lagi tiba.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyukai Norwegian Wood baik itu ceritanya maupun ukuran karya novel fenomenal. Namun jujur selama membaca buku hanya Norwegian Wood lah yang sering membuat saya merenung dengan penuh kenangan, merenungi kehidupan saya, sikap saya selama ini dan paling penting dibalik “keburukan” para tokoh Norwegian Wood saya menemukan sedikit diri saya pada mereka. Entah kenapa bisa begini, membaca Norwegian Wood malah membuat saya introspeksi melebihi introspeksi saya saat membaca buku motivasi atau buku yang memang bertujuan agar pembacanya “sadar”. Seperti itulah saya menanggapi Norwegian Wood.

Lewat Norwegian Wood Haruki Murakami menunjukkan bahwa dia tahu banyak musik dan buku luar negeri menandakan dia bukan orang sembarangan berkat seleranya sama kayak saya😀. Bab 1 berjalan tidak menarik begitu juga babnya ada yang sedikit ada juga yang butuh 1 hari untuk menyelesaikannya hehehe. Entahlah kalau novel aslinya saya tidak tahu. Setelahnya Norwegian Wood jadi asik belum lagi Murakami sangat blak-blakan menyampaikan kata-kata tabu. HAHAHAHAHA komedinya juga lucu.

10 pemikiran pada “Norwegian Wood

  1. Kalo udah begini jadi inget sepupu saya baca novel bahasa inggris keempat seri Twilight, duuhhhh kalian pasti orang2 berotak encer ya ckckckck
    Saya jarang baca novel Jepang, trilogi Samurai aja ga kelar2 dibaca ditambah mau baca novel Geisha tapi ga jadi2 juga hahaha,
    Good banget buat bacaan evi, remaja 19 tahun ini😀

  2. dira

    EVI BONGKAR UMUR hahahaha akhirnya…
    saya juga suka evi yang suka intropeksi seperti saya juga (meski saya ga pernah baca novel bahasa inggris selain cuplikan-cuplikannya :P)
    seperti biasa vi, so good^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s