Fanfiction : Jodha Akbar ~ Tiada Penyesalan Untuk Cinta

Akulah Ratu Jodha, putri yang menikah karena persoalan politik kerajaan. Walaupun terdengar kejam tapi ini salah satu baktiku sebagai seorang putri kepada orang tua. Tepat 7 hari setelah hari pernikahanku dengan Jalal, namanya, dia akan menjemputku untuk dibawa ke Agra. Aku sejujurnya bingung kenapa setelah kita menikah dia malah ke Agra tanpa membawaku istrinya untuk ikut dengannya. Tapi ah sudahlah toh aku tidak pernah satu kalipun tertarik pada si Jalal itu. Aku muak tiap kali mendengar prajurit memberitahu kedatangan Jalal dengan berkata “YANG MULIA RAJA DARI INDIA YANG DIKENAL DENGAN KEBAIKAN SERTA KEMURAHAN HATI” ah konyol sekali, aku masih ingat betul manakala Jalal datang menyusup ke kerajaan kami. Tatapannya begitu mengerikan dan kuharap dia bukan suami yang ringan tangan. Astaga Jalal datang, dia akan masuk ke kamarku dan aku, rambutku masih…

“Assalamualaikum” Aku bingung harus menjawab apa. Suara berat itu buatku merinding, ya Jalal masuk dengan pedang ditangannya dan kuharap dia tidak tersinggung dengan penampilanku.

“Sudahlah Ratu Jodha, tidak usah repot-repot. Tampil seperti itu saja karena kebetulan aku menyukainya” sahut Jalal sambil tersenyum yang kurasa tulus.

“Bolehkah aku duduk disini, diranjang ini?” dengan cepat aku mengangguk dan dengan cekatan Jalal duduk.

“Ini pertemuan kita yang ketiga kali. Saat aku menyusup kemari, pernikahan kita dan sekarang. Kudengar kau adalah putri yang punya pendirian kuat juga cerdas jadi jangan malu” Jalal berkata menatapku.

“Ayolah Ratu Jodha, duduk disampingku”

“Katakan apa maumu segera” dengan spontan aku membalasnya. Ups!

“Oh tidak tidak. Sebagai istri bisakah kau membuatkan aku minuman hangat, mungkin?” Jalal ternyata bisa selembut ini padaku dan tanpa basa-basi kuturuti perintah pertama Jalal sebagai suami.

Keluar dari kamar aku terus mengingat Jalal. Ketika aku melewatinya saat keluar kamar tadi kenapa aku merasakan bau wangi yang bukan dari wewangianku? Dia mengenakan jubah hitam, badannya besar namun dia terlihat kurang sehat ataukah hanya perasaanku saja. Sorot mata tajam, penuh kewaspadaan tapi meninggalkan kesan hangat yang luar biasa. Sampai kusadari ternyata aku melamun berdiri didepan dapur tanpa membuat minuman yang diminta Jalal. Sudah berapa lama aku melamun. Aku jadi tak enak hati.
Segera kubawakan minuman untuk Jalal dengan langkah kakiku yang tergesa-gesa. Saat aku sampai dikamarku ternyata Jalal sudah tertidur lelap. Melihat wajahnya yang tengah tertidur nyenyak membuatku iba. Ingin kuusap rambutnya tapi aku merasa tidak pantas. Kuputuskan menyelimuti Jalal dan kutarik kelambu agar dirinya tetap terjaga. Kuputuskan duduk dikursi, menopang dagu dan mata ini terasa nyaman memandang Jalal. Diluar pertemuan pertama kami yang menyebalkan dan pernikahan tak kuhendaki Jalal memang sangat tampan. Aku tertawa tubuhku terasa panas.

Malam tanpa bintang aku duduk disebuah danau. Kupandangi diriku dalam pantulan air danau lalu kurasa ada seseorang dibelakangku. Kulihat wajahnya pada air danau, dia Jalal tengah tersenyum licik. Kulepaskan diriku dari mimpi ini, kubuka mataku dengan kuat. Aku kaget, didepanku Jalal tengah berdiri melihatku tertidur.

“Kau sangat cantik Ratu Jodha”

“Apa katamu.. Pergi dari sini. Kamu orang yang kejam. Pergi”

Kulihat Jalal terheran dia nampak kebingungan dan tiba-tiba Jalah jatuh ke lantai. Astaga apa yang terjadi. Badannya kaku, wajahnya nyaris biru, mulutnya berbusa, dia bergerak tidak jelas.

“Jalal… Jalal… Kenapa begini, maafkan aku..” Aku menangis.. Aku menangis.. Aku kasihan melihatnya. Langsung kupeluk Jalal yang tak terkendali. Kudekap kepalanya kuat dalam dadaku. Ku berdo’a pada Tuhan, hanya ini yang bisa kulakukan. Selamatkan suamiku.

~~~

“Maafkan aku Ratu Jodha, aku menikahimu dengan kondisiku yang seperti ini. Aku mencintaimu, aku ingin memilikimu seutuhnya” Jalal menggenggam tanganku. Kami berdua tertidur di ranjang. Ternyata seperti ini rasanya tidur bersama pria, nyaman tapi aku tetap diam.

“Kurasa sebentar lagi aku akan mati”

“Tidak Jalal. Jangan mati, aku mencintaimu” kututup mulut Jalal dengan telapak tanganku. Jalal meraihnya lalu dia mencium tanganku dengan lembut.

Perlahan tangannya memegang rahangku, senyumnya penuh ketulusan. Bibir kami berdekatan dan inilah ciuman pertamaku bersama seorang pria. Terasa hangat dan lembut.

“Kumohon izinkan aku”

“Tiada penyesalan untuk cinta, Jalal”

~~~

Selain menjadi seorang suami yang baik ternyata Jalal merupakan Raja yang baik pula. Sungguh berat kurasakan, kami belum pulang ke Agra tapi Jalal harus mengikuti perang. Kuberikan darahku pada pedangnya dan aku menangis melihat dia pergi dengan baju besi. Betapa gagahnya suamiku ini. Tuhan jagalah dia.

Perang selesai tapi yang datang hanya prajurit. Prajurit berkata Jalal tewas di medan perang karena penyakitnya kambuh. Prajurit menyerahkan pedang Jalal padaku, aku menangis memeluk suamiku.

4 pemikiran pada “Fanfiction : Jodha Akbar ~ Tiada Penyesalan Untuk Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s