OIC dan Nostalgia SMA

Mungkin penyebab akhir-akhir ini saya kurang perhatian dengan Drama Korea adalah Olimpiade Indonesia Cerdas. Saya sangat menyukai OIC ditengah isi televisi jam prime time yang tidak menarik dan tidak jelas. Formatnya segar, fun dan mampu membuktikan bahwa siswa SMA jaman sekarang tidak selamanya bercitra buruk seperti yang ada pada media. Bahkan anak SMA kota ternyata sederhana, cantik ganteng bahkan bermuka bandel juga berprestasi hehehe. Semoga anak SMA desa tidak tertinggal jauh sekali dengan yang di kota ya.

Olimpiade Indonesia Cerdas musim pertama telah berakhir. Hasilnya menarik yakni MAN ternyata tidak kalah dengan SMA. Sebenarnya MAN IC Serpong bukan kesukaan berat saya tapi mereka memang mengagumkan, timnya solid sampai akhir dan mereka sangat sakti. Sampai sekarang masih sakit terasa mengingat SMAN 13 gagal masuk final karena mereka menurun *kangen Raffel jadi belum move on*
Ohiya selain beberapa sekolah yang saya komentari dengan excited di postingan sebelumnya, saya juga suka SMAN 2 Jakarta (kalau tidak salah) yang ada si William itu. SMAN 2 gagal masuk semifinal ya karena apes saja ketemu SMAN 1 Depok pada babak tersebut😀. Saya juga suka SMAN 68 Jakarta sekolahnya Adjie si ekspresif. Mereka kelihatan bodoh-bodoh tapi pada babak kotak katik mampu membalikkan keadaan. Kalau tidak salah SMAN 68 kandas di babak masuk semifinal yang katanya mereka kurang persiapan. Ada videonya loh, mereka menangis hehehe. Bukannya sedih malah lucu kayak yel yel supporter mereka.

Kemungkinannya setelah ini akan banyak jenis OIC lain menurut admin di twitter. Untuk OIC musim kedua semoga tim kreatifnya mampu belajar dari musim pertama. Pendaftaran OIC 2 sudah dibuka tapi kalau bisa berikan jeda dalam format bulan antara OIC 1 dan OIC 2 agar tidak bosan, apalagi sekarang mau semester kan. Nah hahahaha kok saya tahu waktunya mau semester ya🙂. GOODBYE OIC Musim Pertama, mari kembali ke Drama Korea.

OIC membuat saya nostalgia pada masa-masa SMA jadi saya mau bercerita sedikit tentang pengalaman pendidikan terakhir saya itu. SD SMP saya termasuk siswa tertib, disiplin dan kalau ranking masuk 10 besar. Di SMA berubah lebih dari 180 derajat, saya sering terlambat upacara, pernah bolos, melupakan PR dan terlempar dari ranking 10 besar. Itu menyakitkan dan pada masa sekarang sebagai manusia biasa tentu terbesit rasa menyesal. Menyesal sih menyesal tapi sebenarnya biasa saja karena dibalik kebobrokan saya di SMA saya memperoleh arti pertemanan tulus sesungguhnya hanya di SMA, hal yang tidak saya dapatkan di SD dan SMP. SD SMP saya didekati sebagai teman kerja PR dan teman duduk berdekatan kalau semester sedangkan teman-teman di SMA banyak yang ramah meski saya enggan memberi tahu alamat rumah sendiri, menyapa serta mentraktir saya meski tidak akrab bahkan memuji saya pintar padahal saya sudah remedial Mate-matika 3 kali. Di SMA saya jadi punya teman dekat yang mampu memahami ego saya. Di SMA pula saya juga mendapatkan guru yang luar biasa, yang auranya bukan lagi guru tapi ayah. Mengetik ini saya menangis loh, air mata tumpah ke layar HP.

Ngutip lirik lagu yang dinyanyikan The Rain waktu jadi bintang tamu Grand Final OIC (modus ke Raffel SMAN 13) :


Aku cuma rindu
Aku cuma rindu
Itu saja~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s