FanFiction : OPPA (sekuel)

Semudah itukah Narae percaya dengan surat oppanya? Narae membuktikan bahwa dirinya bukan lagi anak kecil seperti kata oppa. Narae memantapkan diri untuk segera pergi kerumah oppanya. . Pagi yang sunyi Narae dengan seragam sekolah mengintip rumah Oppa. Terlihat ayah ibu oppa ada disana dan disitu juga ada Oppa bersama wanita hamil tua. Narae menutupi mulutnya tak percaya pada apa yang dilihatnya. Mobil membawa oppa dan wanita hamil pergi….

Kembali ke masa kini

Wajah Narae lesu lemas tidak berdaya didepan danau. Air matanya kering memikirkan kejadian 3 hari lalu. Ingin rasanya Narae menghubungi Yoseob tapi pasca Yoseob menyerahkan surat oppa Narae tidak pernah menggubrisnya jika Yoseob ikut datang ke danau. Narae bingung, kenapa tidak dia kejar mobil oppa atau menemui orang tua oppa. Menandakan bahwa mental Narae masih lembek. Narae mengambil kesimpulan bahwa dia memang masih kecil kemudian Narae menangis lagi.

“Narae… Narae” Yoseob menepuk pundak Narae

Yoseob dengan seragam sekolahnya datang. Yoseob memasang tenda sebelum membangunkan Narae yang tertidur disamping pohon. Menyadari ada Yoseob disampingnya, Narae memasang jarak.

“Penipu” teriak Narae

“Kau menghendakinya atau tidak kau harus mendengar penjelasanku lebih dulu” tegas Yoseob

“Jangan sentuh aku” Narae menjauhkan dirinya

“Baiklah kalau itu maumu. Dengarkan penjelasanku dengan baik, ceritanya begini…” Yoseob memulai penjelasannya

~~~

2011

“Serahkan surat ini pada Narae 3 tahun lagi” Oppa menyerahkan surat tanpa amplop kepada Yoseob dan Yoseob membacanya dengan sangat kaget

“Ju Hyun, jangan bercanda soal kematianmu” Yoseob menyelak

“Tidak… Waktuku memang tidak lama lagi. 3 tahun atau kapanpun itu aku akan segera mati dalam waktu dekat ini” Ju Hyun terbatuk

“Kau siapa hah? Manusia macam apa yang begitu mempercayai perkataan dokter? Tidakkah kau kasihan berusaha membohongi Narae dalam waktu lama?” Yoseob kehabisan kata-kata

“Itu karena aku mencintainya. Itu karena aku tidak ingin merusak perasaannya yang masih belia” tangis Oppa pun tumpah. Tidak lama kemudian Oppa mengeluh kesakitan didadanya

“Ju Hyun Ju Hyuuuuuun” Yoseob berteriak

~~~

“Saat kau ujian dia belum mati tapi dia ada diatas pesawat menuju Amerika untuk berobat” Yoseob terisak sementara Narae diam saja sambil memotong rumput disekitar danau. Perlahan Yoseob mendekat.

“Dalam 3 tahun itu oppa percaya bahwa dia akan mati seperti prediksi dokter. Tapi keajaiban terjadi… Oppa mampu bertahan dari kankernya. Hanya bertahan tapi tidak sembuh” ujar Yoseob yang duduk disamping Narae

~~~

2014

Sehari sebelum penyerahan surat

Ju Hyun datang ke Korea dan langsung menemui Yoseob saat tiba dirumah.

“Huh, kau datang?” Yoseob gembira dengan memegang surat Narae ditangan kanannya

“Hei pelankan suaramu. Duduklah dulu” Oppa duduk diranjang Yoseob

“Kau kelihatan sehat Ju Hyun. Jadi besok kau bisa mengaku didepan Narae kalau kau masih hidup dan aku tidak perlu menemuinya untuk menyerahkan surat ini. Kau tahu aku sangat gugup untuk bertemu Narae” Ju Hyun menahan tangan Yoseob saat ingin membuang surat itu

“Kau tetap harus menyerahkannya besok” suara Oppa terasa berat

“Kenapaaaa? Apa kau belum puas berbohong?” Yoseob berteriak

“Hei… Nanti pacarku dengar” Ju Hyun berbisik

“Sigh, kau punya pacar jadi kau melupakan Narae?” Yoseob jadi marah

“Dia anak dokter pribadi ku di Amerika. Kami berdua saling mencintai, dia hamil tua sekarang” oppa langsung mendapatkan tinju dari Yoseob

“Keluar kau dari kamarku. Keluar!!! Aku akan menyerahkan surat ini ke Narae besok. Jangan coba-coba memunculkan diri lagi” Yoseob menunjuk pintu

“Ya terimakasih atas pukulanmu. Akan kuberitahu lusa aku kembali ke Amerika. Terimakasih atas bantuanmu” Oppa pergi dari kamar Yoseob

~~~

“Aku kemari atas permintaan orang tua oppa. Orang tua oppa melihatmu lari waktu kau mengintip. Aku pun sama sekali tidak berharap kau memaafkan oppa karena aku pun berat memaafkannya. Meskipun ceritanya seperti itu aku paham oppa ada diwaktu yang sulit jadi kumohon mengertilah keadaannya” Yoseob mulai memegang tangan Narae

Narae tetap memilih diam. Dia beranjak dari samping pohon dan masuk ke tenda yang dibuat Yoseob. Narae menutup pintu tenda dan berteriak minta dibelikan makanan.

“Narae, kau baik-baik saja?” Yoseob bertanya

“Iya, pergilah” dan saat Yoseob menjauh Narae pun menangis bahkan saat Yoseob tiba Narae masih menangis

Yoseob mencoba menghibur

“Narae ayo kita pacaran” Yoseob berusaha berkata seceria mungkin

“Lupakanlah oppa oppa kini tidak sendirian. Jika kita pacaran aku akan membahagiakanmu dan tidak lagi menganggapmu sebagai anak kecil. Mari kita buktikan bahwa kita telah dewasa, kita tahu cinta beserta norma-normanya” Yoseob berteriak didepan danau

Tidak lama kemudian Narae keluar dari tenda. Narae mendorong Yoseob ke danau lalu Narae ikut menjatuhkan diri. Keduanya bermain ciprat-cipratan dengan ceria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s