Film : Broken Blossoms (1919)

Saya sudah lama terobsesi dengan Akira Kurosawa beserta film-film Jepang klasik karya beliau yang katanya sebuah film melegenda berkat keapikannya tapi apa daya tidak mudah menemukannya terutama Seven Samurai. Jadi saya berinisiatif mencari daftar film favorit Akira Kurosawa siapa tahu saja saya menemukan film yang cocok lalu saya mendapatkan ini, film paling tua yang ada dalam daftar film favorit Akira Kurosawa yang nantinya menjadi film tertua saya tonton seumur hidup.

Broken Blossoms mempunyai subjudul The Girl and The Yellow Man, film tahun 1919 yang bercerita mengenai kisah cinta seorang gadis muda malang dan pria kuning yang seorang China. Keduanya bertemu saat si gadis bernama Lucy baru saja dipukuli sang ayah yang merupakan seorang petinju, Lucy pingsan di toko kelontong milik si Pria Kuning. Pria Kuning sendiri adalah perantau yang niat awalnya ingin menyebarkan ilmu Buddha ditempatnya merantau tapi kenyataan memang tidak selalu indah bahkan di film tahun 1919 sekalipun.

Film yang sederhana, kamera hitam putih sederhana dan film ini bisu tidak mengeluarkan suara apapun. 2 orang sama-sama terasing dari masyarakat, ada Lucy yang senyum dengan dorongan jarinya juga si Pria Kuning seorang China penganut Buddha yang tidak kalah menyedihkannya. Lalu keduanya bertemu dan saling jatuh cinta menandakan betapa cinta itu memang ajaib. Mengetahui anaknya berhubungan dengan laki-laki apalagi dari ras berbeda dengan mereka ayah Lucy naik pitam hingga terjadilah kisah tragis sebagai ending film ini.

Film yang aneh membuatnya membosankan diawal tetapi dipertengahan hingga akhir Broken Blossoms menampilkan keindahannya. Aneh karena menampilkan orang China, menyebutnya Yellow Man yang mungkin bisa dianggap rasis. Dan lebih aneh lagi saat Yellow Man tidak diperankan oleh orang China, si pemeran yang aslinya bule itu harus menyipit-nyipitkan matanya juga berjalan dengan sangat aneh bak kakek tua. Jatuhnya si bule malah mirip orang sakit ketimbang orang China, begitu terasingnya kah dia di perantauan? Hmmm…
Karena ini film bisu keterangan-keterangannya muncul dalam bentuk teks jadi seperti menonton novel dan ada beberapa kata-kata puitis digunakan seperti Confucius. Saya pun menganggapnya sebagai keindahan.

Walaupun cerita Broken Blossoms bisa ditebak di jaman sekarang ini, keindahan cinta lewat chemistry Lucy dan Yellow Man yang saling melengkapi tetap tidak bisa ditampik. Saya ikut merasakan kebahagiaan mereka betapa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Film ini juga tetap bisa membuat saya merasakan ketegangan pada saat Lucy disiksa sang ayah, penyebabnya tidak lain oleh akting pemeran Lucy dengan ekspresi ketakutan dan merasa terancam begitu bagus dia tampilkan. Berbanding terbalik dengan akting pemeran Yellow Man, hehehe. Sebuah film patut dicoba walaupun sebenarnya Broken Blossoms membuat saya tidak ingin mencoba film bisu lain dalam waktu dekat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s