FanFiction : Indah Terendah – Part 3

Menjelang sore Reza sudah berada di Bali, hal pertama dilakukannya adalah mencari hotel tempat menginap. Taksi yang dinaiki Reza turun ke sebuah hotel bintang 5. Hotel yang membuka potongan harga biaya menginap pasalnya sang pemilik hotel tengah berulang tahun dan malam nanti akan menyelenggarakan pesta besar. Begitu Reza memasuki hotel semua pegawai terbengong seakan mengenali Reza. Reza seperti menyadari hal itu dan Reza memperoleh kunci kamar dengan mudahnya.

Reza memasuki kamar hotelnya dan jelas-jelas kamar hotel itu merupakan salah satu kamar termahal di hotel tersebut. Reza meletakkan tas mininya dan merebahkan diri di kasur. Saat memikirkan kira-kira kemana Endah pergi, pintu kamar Reza diketuk dan Reza membukanya. Terlihat seorang kakek sekaligus pemilik hotel yang tengah berulang tahun mendatanginya. Reza memperbolehkan masuk.

“Cucuku.. Akhirnya kau ingat ulang tahun kakekmu ini” sahut Kakek dengan mata berbinar-binar

“Iya Kek, maaf jika selama ini aku selalu dingin pada kakek” ujar Reza duduk di tempat tidurnya dan menyembunyikan wajah lelah

“Kau kemari karena pikiranmu sudah berubah kan?” tanya kakek sambil memegang 2 tangan Reza

“Saat ini aku tengah mempertimbangkannya. Tapi Kek sebelum itu kakek harus memecat paman yang menjadi direktur di Jakarta” ucap Reza tegas dan Kakek kaget

“Kenapa? Ada masalah apa dengan pamanmu?” Kakek terheran

“Dia telah berani menyakiti wanita yang aku suka di Kantor selama aku bekerja disana dan sekarang aku ke Bali karena mencarinya” ucap Reza setengah tertahan

“Ah kau ini masih sama seperti yang dulu ternyata cucuku yang tampan ini tidak datang karena ulang tahun kakeknya melainkan karena seorang wanita. Pergilah cari dia” Kakek menepuk bahu Reza dan beranjak dari kamar

“Tunggu Kek. Kakek bisa mengarahkan pengawal Kakek untuk membantuku mencarinya?” tanya Reza penuh harap tapi Kakek tetap mendekati pintu kamar

“Apa? Kakek tidak dengar! Hahahahaha” sahut Kakek meninggalkan kamar Reza. Reza manyun, paham bahwa untuk urusan ini Reza harus berusaha sendiri.

~~~

Sehabis mandi Reza turun dan para pegawai hotel beriringan mengucapkan selamat sore padanya, dengan ramah serta singkat Reza membalas iringan sapaan tersebut. Reza mencari tempat duduk dan mengutak-atik ponselnya. Tanpa Reza sadari didepannya lewat wanita yang dicarinya, adalah Endah menyeret koper tengah mencari kamar. Endah begitu semangat, kapan lagi dia bisa menginap di hotel bintang 5 dengan tarif murah.

Endah berjalan berkeliling hotel yang ramai nan luas dan Endah melewati dapur hotel. Endah mengintip menemukan para chef berwajah kebingungan sambil dibentak-bentak.

“Kalian ini bagaimana? Kenapa tidak ada yang tahu menyayat ikan ini?” bentak salah seorang chef dengan tangan diperban. Sementara 5 chef didepannya menunduk malu.

“Memangnya siapa chef kepala disini sebelum aku? Kenapa dia berani merekrut orang-orang tidak becus seperti kalian. Tinggal pisahkan kulit…” bentakan Chef terhenti

“Barangkali bantuanku diperlukan. Aku bisa melakukannya” sahut Endah seperti tidak sadar

“Siapa lagi orang ini? Keamanan usir dia” Chef makin mengeraskan suaranya sembari menunjuk pintu keluar

“Aku bisa. Serahkan padaku” kata Endah menahan gugupnya

“Ah berlagak sekali orang ini. Baiklah pergi sterilkan tanganmu dulu, ingat jika kau gagal kau akan menjadi budak kita semua dengan waktu yang belum ditentukan” si Chef menghempaskan kedua tangannya dan mengaduh kesakitan

~~~

Reza berjalan-jalan tanpa matanya terkesan fokus. Tapi pandangan Reza tertuju pada sebuah koper didepan pintu dapur hotel. Reza memutuskan membawa masuk koper itu dan tidak lama Reza mengenali sebuah suara yang kemudian membuatnya sumringah. Curi-curi pandang Reza melihat seorang wanita yang dikerumuni banyak chef. Badan jangkung menolong Reza saat Reza ikut mengerumuni si wanita, betapa bahagia hati Reza begitu memastikan bahwa benar wanita itu adalah Endah. Reza memperhatikan dengan seksama Endah yang serius menyanyat ikan. Tampak senyum bahagia dan tatapan kagum dari Reza untuk Endah.

“Hah dia berhasil” Chef yang marah-marah tadi melongo melihat hasil kerja Endah. Sontak para chef lain bertepuk tangan dan Endah menghela nafas lega

“Terimakasih atas bantuanmu” para Chef melempar senyum manis ke Endah

“Sama-sama. Senang aku bisa membantu. Aku permisi dulu” Endah melambaikan tangannya

“Hei kalau kau lapar kemarilah. Kita makan bersama” teriak chef yang tangannya diperban itu dan Endah mengangguk dari jauh

Endah keluar dari dapur hotel menyadari kopernya lenyap. Kunci kamar pun, seketika itu Endah meraba bajunya dan panik.

~bersambung~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s