FanFiction : Mega dan Teja (Part 1)

Akhir 70-an di sebuah desa di Jawa Barat, desa yang belum begitu tersentuh modernisasi. Desa yang sebagian penduduknya masih bertani ini kedatangan salah satu pemudanya yang bersekolah di luar negeri bernama Teja. Teja turun dari oplet yang mengantarnya dan lanjut Teja berjalan kaki menuju rumahnya. Adzan Dzuhur berkumandang, Teja memilih untuk singgah di sebuah surau untuk bersembahyang. Teja terkesima manakala di depan surau ada seorang gadis manis berjilbab didepannya tengah menjemur keripik singkong. Si gadis menyadari pemuda asing didepannya tengah memperhatikan dirinya, si gadis ikut menaikkan pandangannya pada wajah Teja dan pipi bersemu timbul dari wajah si gadis.

“Eh.. Eneng. Namanya siapa?” Teja memberanikan diri mengajak berkenalan, tanda bahwa Teja penasaran

“Sholat atuh” si gadis meninggikan suaranya namun begitu lembut dan Teja jadi kikuk

“Oh iya..” Teja menggaruk kepalanya yang tidak gatal, meninggalkan si gadis muda yang tertawa

Shalat selesai dan para warga yang menyadari ada Teja diantara mereka langsung sumringah

“Teja, kapan pulang?” sahut salah satu warga menyalami Teja disusul warga lainnya

“Baru Kang. Ini belum pulang ke rumah, singgah shalat dulu” Teja menebarkan senyumnya

“Gimana di Mesir? Katanya panas” warga lain bertanya dengan semangat

“Lumayan, kurang lebih sama dengan disini. Maaf saya harus pulang dulu, kasihan Ibu menunggu dirumah. Assalamualaikum” Teja mengambil tasnya dan semua warga ikut pulang meninggalkan surau

~~~

Dengan semangat Teja berjalan pada jalan yang 2 tahun dirindukannya. Sampai Teja dikagetkan oleh sebuah suara pengusik sanubari.

“Maaf.. Ini Aa Teja anaknya Ibu Uli?” sahut gadis penjemur keripik yang sedari tadi mengikuti Teja

“Benar. Kamu teh saha?” Teja kembali mengajak berkenalan dengan cara agak berbeda

“Iiih Aa mah lupa, saya Mega anaknya Pak Daus” Mega memperkenalkan dirinya dan ekspresi wajah Teja berubah

“Masyaallah Aa lupa. Benar ini Mega? Waktu Aa pergi kamu masih SMP kan?” Teja sumringah

“Betul. Sekarang sudah SMEA. Hebat atuh Aa bisa sekolah di Mesir” Mega pun menunjukkan rasa kagumnya

“Mega juga harus seperti Aa, setidaknya untuk memajukan kampung kita ini. Surau ayahmu sudah diperbaiki, Alhamdulillah” Teja sekilas melihat kembali surau dibelakangnya

“Tentu Aa, Mega juga harus bisa sekolah tinggi. Mengingat teman-teman Mega sekarang sudah ada yang menikah bahkan sudah punya anak” Mega tersenyum malu

“Bagus. Mega belajar yang rajin, permisi Aa harus ubah haluan” ucap Teja menunjuk lorong rumahnya

“Haturnuhun, Aa jangan lupa shalat. Assalamualaikum” tukas Mega sembari menampilkan senyum termanisnya. Kembali Teja terpukau.

~~~

Teja kembali mengingat Mega dalam perjalanannya menuju surau untuk shalat Maghrib. Mengenang manisnya Mega dalam balutan kerudung putih menutupi seluruh helai rambutnya. Bahkan wanita Mesir yang ditemuinya tidak ada semanis Mega, Teja kembali tersenyum.

“Anak-anak selalu cepat besar” batin Teja dan Teja semakin sumringah begitu melihat Mega tengah menyapu di surau

“Assalamualaikum Neng Mega” sahut Teja

“Waalaikumsalam Aa Teja” balas Mega dengan lembut

“Bisa Aa bantu?” tanya Teja ramah

“Haturnuhun. Pekerjaan Mega sudah selesai” jawab Mega dengan lembut. Serasa ada semilir angin berlalu di hati Teja

Teja memutuskan masuk ke surau dan Ayah Mega langsung menjabat tangan Teja. Disuruhnya Teja mengumandangkan Adzan, Mega merasa merinding mendengarkan suara Teja. Para warga berdatangan ke surau, baik pria maupun remaja wanita yang penasaran akan ketampanan Teja.

Usai shalat Maghrib, ada warga yang pulang ada juga warga yang memilih menunggu waktu Isya. Seusai dzikir, Teja mencuri dengar perbincangan Mega dengan ayahnya. Seakan mendengar informasi tidak biasa, Teja menunjukkan ekspresi kagetnya. Teja memutuskan bergabung diantara perbincangan ayah dan anak ini.

“Maaf saya lancang mendengar perbincangan abah dan Mega” Teja bertindak sesopan mungkin

“Tidak apa-apa nak, toh ini karena kami membicarakannya disini” Ayah Mega memberikan senyumnya

“Sekali lagi maaf. Saya mau tanya memang siapa yang sakit?” tanya Teja sangat berhati-hati

“Adikmu ini, Mega. Waktu Mega pingsan di sekolahnya ketahuan kalau Mega ternyata sakit.. Apa itu namanya” Ayah Mega mulai melirik kanan kiri

“Kanker aa” Mega menyambung perkataan ayahnya dengan pelan. Astagfirullah Teja yang mendengarnya begitu merasa pilu, ternyata ada penyakit mematikan dibalik senyum manis Mega.

“Jadi kapan diperiksa ke rumah sakit?” tanya Teja menunjukkan rasa ibanya

“Tunggu uang panen dulu. Kira-kira 4 bulan lagi” jawab Ayah Mega dengan sendu

“Penyakit ini harus diperiksa secepatnya tidak bisa dibiarkan lama” usai Teja menimpali suasana surau menjadi hening. Teja tampak memikirkan sesuatu.

“Maaf Abah. Kalau Abah mengijinkan Insya Allah besok saya akan ajak Mega ke Rumah Sakit di Jakarta. Bisa kan Abah?” tanya Teja mantap

~bersambung~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s