FanFiction : Mega dan Teja (Part 2 – END)

Teja menghitung sisa liburannya dalam seminggu dan beberapa uang dalam tabungannya. Begitu Teja memberitahukan niatnya pada Sang Ibu, Alhamdulillah Ibu Teja mengijinkan. Besok pagi-pagi sekali Teja dan Mega akan berangkat ke Jakarta, memeriksa ke sebuah rumah sakit tempat karibnya bekerja. Serasa ada bunyi angklung dalam hati Teja saking gembiranya sang pemuda yang menaruh hati pada kembang desa ini.

Teja menjemput Mega dirumahnya, Teja kembali terpukau pada penampilan manis Mega dengan kerudungnya. Sungguh gadis yang sempurna, Mega memilih memakai jilbab dikala wanita lainnya berlomba-lomba menirukan gaya rambut Yati Octavia.

“Assalamualaikum, Aa. Tidak boleh bengong masih pagi” sahut Mega kembali mengusik sanubarinya

“Oh. Mega sudah siapa? Sudah pamit sama Abah dan Umi?” Teja kembali ke kesadarannya

“Sudah kak” ujar Mega dan hati Teja kembali terusik, nyatanya Teja lebih suka dipanggil Kak dibanding Aa. Sekaligus juga Teja sadar bahwa Mega masih terlalu muda untuk jadi pendamping hidupnya.

Usai berpamitan dengan keluarga maupun tetangga berangkatlah Mega dan Teja berdua ke Jakarta. Dari jauh Pak Daus memperhatikan anak gadisnya berjalan dengan seorang pemuda, sebagai sesama pria Pak Daus paham pemuda itu menyukainya anaknya. Pak Daus kembali berfikir positif, dia yakin Teja anaknya sopan dan sudah menganggap Mega seperti adiknya sendiri.

~~~

Siang yang terik akhirnya mereka sampai di Jakarta. Alhamdulillah tidak terjebak macet. Mega kagum dengan banyaknya gedung tinggi di Jakarta tapi jantung Mega kembali berdegup manakala bus tua yang ditumpanginya bergoyang sehingga ada gesekan kecil badannya dengan badan Teja. Teja pun merasakan hal yang sama.

“Kau juga mau Bandung bisa seperti Jakarta kan, Ga? Maka dari itu sembuhlah demi desa kita dan demi aku” batin Teja dalam hatinya

Teja dan Mega tiba disebuah Rumah Sakit. Sebab Teja memang sudah punya karib disana, tidak perlu menunggu lama untuk Mega diperiksa. Teja dan Mega pun disuruh kembali ke rumah sakit esok harinya menerima surat hasil pemeriksaan saat keduanya menyadari jika sudah terlalu malam untuk pulang ke Bandung.

“Aku bisa membaca pikiranmu sekarang. Menginaplah dirumahku, disana aku juga ada adik perempuan” sahut karib Teja memecah keheningan. Teja menghela nafas lega

~~~

Entah mengapa malam berlalu begitu cepat. Mega dan Teja sudah ada di ruang tunggu rumah sakit yang mulai ramai.

“Maaf Ja. Surat pemeriksaan akan lama keluarnya. Bersabarlah menunggu, barangkali kau bisa mengajaknya jalan-jalan dulu. Di depan sana ada penjual Bakso Malang, sedap sekali” sahut sahabat Teja yang bekerja sebagai dokter intern itu. Dari nametag nya orang ini bernama Reza.

Dari penuturan temannya Teja jadi semakin khawatir, apa jangan-jangan benar jika sakitnya Mega separah itu?

“Ga, ayo makan bakso” Teja seakan tidak sadar menyebut Ga bukan Neng.

Uang 500-an keluar dari kantong Teja. Tetap saja bakso yang enak tidak mampu membuat keceriaan Mega kembali. Teja bingung, entah apa yang ada dalam pikiran Mega sehingga kali ini lebih diam.

“Mega suka nonton film? Nonton yuk” ajak Teja

“Oh, Eneng suka nonton Film Rhoma Irama” jawab Mega polos dan Teja menahan senyumnya

“Loh, kenapa ketawa Aa? Kampungan ya? Iih Aa gak boleh gitu, Ibu nya Aa juga suka nonton Rhoma Irama tiap ada layar tancap di kampung kita” Alhamdulillah Mega tertawa.

Kini keduanya sampai didepan bioskop. Saat membeli tiket, Teja tidak habis pikir uangnya akan terpakai untuk makan bakso dan nonton film. Seperti muda mudi kencan, andai saja bisa Mega bisa diajaknya ajojing. Teja buru-buru istigfar.

Film berjudul Gitar Tua diputar. Begitu senang Mega pasalnya ini merupakan film baru, belum pernah diputar di layar tancap. Sementara Teja tidak bisa menikmati film, Teja tidak menyukai dangdut dan Teja memikirkan penyakitnya Mega

~~~

Teja bersiap akan kembali ke Mesir sementara Mega masih ada di Rumah Sakit bersama orang tuanya. Teja senang setidaknya Mega sebentar lagi sehat, kankernya masih stadium awal. Mega masih akan ditemuinya setelah Teja menjadi sarjana. Teja berpamitan dengan ibunya yang menangis, anaknya harus kembali merantau ke negeri orang.
Sendirian Teja keluar dari gangnya dan angklung berbunyi dalam hati Teja begitu melihat Mega baru saja pulang dari kota bersama orang tuanya. Keduanya sumringah apalagi orang tua Mega memperbolehkan Mega berbincang dengan Teja.

“Assalamualaikum. Aa mau kembali ke Mesir?” mata Mega berkaca-kaca

“Waalaikumsalam. Iya neng, bagaimanapun juga mimpi harus dikejar. Neng sembuh kan?” Teja menjawab hangat

“Alhamdulillah, tinggal sebulan sekali ke rumah sakit periksa. Aa terimakasih” Mega melap air matanya yang tumpah. Teja menjadi iba.

“Syukurlah. Neng jangan nangis dong, harus bersyukur nanti Aa bisa ketemu Neng lagi di usia 20 tahun” ucap Teja penuh makna dan Mega keceplosan mengaminkannya. Betapa senang hati Teja.

Teja naik ke oplet nya. Mega melambaikan tangannya.

“Aa kasep tunggu Mega di Mesir ya” dan Teja terpana.

~END^^~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s