Curhatku : FTV Pengorbanan Seorang Ayah, Ketika Reza Menjadi Ditmar

Judul diatas sekilas akan mendatangkan berbagai macam dugaan bahwa saya akan membuat Fanfiction baru atau semacamnya. Tapi bukan, itu merupakan judul sebuah FTV berformat Sinema Pintu Taubat. Bisa bayangkan blognya Evi akan membahas FTV semacam itu? Tidak perlu dibayangkan karena sekarang telah menjadi kenyataan. Ini semua karena Reza Zakarya, idola saya tercinta yang memulai debut aktingnya. Tentu diawal saya tidak begitu menyetujui jika Reza memasuki dunia akting sebab buat saya masih banyak tugas Reza sebagai seorang penyanyi belum terlaksana. Namun tak mengapa, hitung-hitung cari pengalaman dengan gaji yang lumayan. Tak mengapa pula membintangi Sinema Pintu Taubat daripada seperti debut akting Leslie Cheung dimana dia di tipu dan bermain dalam film dewasa. Ah Reza benar-benar menjadikan saya orang yang selalu berfikir positif.

Ditmar dan Astrid adalah sepasang suami istri yang mempunyai satu anak bernama Alya. Alya kerap membantu ibunya yang bekerja sebagai pembantu di rumah ibu Ningsih dengan anaknya bernama Bram. Suatu waktu Alya memecahkan guci di rumah itu, ibu Ningsih kalap dan hendak menghukum Alya. Ditmar melihatnya dan hendak menolong sang anak dengan menawarkan uang dikantong Ditmar sebagai uang ganti guci yang pecah tapi ibu Ningsih tetap tidak mau dan kekeuh menghukum Alya. Terjadi adegan tarik-tarikan dan tanpa sengaja Alya menghempaskan ibu Ningsih ke lemari hingga perabotan tajam di atas lemari jatuh mengenai perut ibu Ningsih. Meninggalnya Ibu Ningsih menggemparkan warga dan demi anaknya Ditmar mengaku bahwa dialah pelaku pembunuhan Ibu Ningsih. Saksi mata lain dari kejadian itu adalah ibu Ditmar sendiri tetapi Ditmar memohon agar ibunya diam saja. Astrid langsung kecewa dan membenci suaminya sementara Alya amnesia melupakan kejadian tersebut dan ikut pula membenci ayahnya. Astrid pun menggugat cerai Ditmar dan menikahi Bram. Ditmar yang bebas dari penjara harus melihat istrinya bersama lelaki lain bahkan kenyataan bahwa anak yang sangat disayanginya membencinya membuat Ditmar merasa sakit. Tapi Ditmar tidak berputus asa, Ditmar menjadi tukang kebun di rumah Bram agar terus bisa melihat Alya. Hmmm sebuah pengorbanan.

Saya adalah tipe orang yang anti subjektif dalam menilai kemampuan akting seseorang sebab saya suka menonton film maupun serial dan saya termasuk selektif dalam memilih tontonan. Dan kali ini saya menonton Sinema Pintu Taubat dan saya janji tidak akan menaruh ekspektasi lebih, baik dari segi cerita maupun akting dadakan seorang Reza. FTV format SPT terkenal dengan kekonyolannya seperti eksekusi cerita yang tanggung dan agak low budget. Iya, semua itu bahkan terjadi pada FTV ini tapi saya salut sekali dengan ceritanya. Bukan karena Reza melainkan cerita FTV ini lumayan fresh untuk ukuran FTV format SPT. Bisa dibilang FTV SPT ini merupakan salah satu dari sedikitnya FTV SPT yang saya sukai.


Berasa malaikat

Saya memutuskan menonton SPT ini dirumah sepupu saya yang seorang Rezalliants sebab saya menduga bahwa saya akan ngakak dan saya tidak mau ngakak sendirian. Dan memang benar, kami pun ngakak bersama-sama tapi menjelang ending kami berdua sama-sama manyun bahkan dia sampai menangis. Saya sendiri menahan diri untuk menangis padahal endingnya sedih sekali, sangat dejavu dengan kondisi lemah Reza di babak 15 besar. Ya Tuhan, saya sudah melihat foto adegan Reza di RS dan menduga saya akan dejavu dengan kejadian itu dan ternyata benar😦

Untuk akting Reza, walaupun body language nya awkward yang barangkali karena dia kurus, ya cukup lumayan. Peran Ditmar begitu pas untuknya, mewek dan marahnya juga pas😀. Reza itu kalau menyanyi di reff pertama mulai beracun dan di reff kedua racun semua, rupanya itu kembali berlaku dengan aktingnya. Di sekmen 1 masih dibawah standar dan di sekmen akhir mulai beranjak dari standar. Yah ini sangat lumayan untuk ukuran akting dadakan, setidaknya melebihi ekspektasi saya yang secuil berharap jika akting Reza memuaskan. Nanti kalau ikutan kelas akting saya yakin pasti bagus. Hehehe objektif, saya objektif loh.

Formatnya adalah Sinema Pintu Taubat tapi apakah Ditmar dalam usaha melindungi anaknya ada pada posisi sebagai umat yang taubat? Saya rasa iya… Jika saja Ditmar tidak menutupi kebenaran pada istrinya sendiri, dalam penjara dia mengatakan yang sebenarnya bisa jadi Astrid tidak akan membencinya. Menutupi kebenaran apapun alasannya tentu akan membawa akibat di masa depan. Tapi saya tetap suka karakter Ditmar, penyabar namun tak terkesan melakukan kebodohan. Eh subjektif❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s