FanFiction : Indah Terendah ~ Ditmar dan Nova

“Hai Reza. Maaf aku pergi tanpa memberitahu apapun. Sebenarnya kau sudah ingin ku beritahu saat kita menghabiskan malam bersama, tapi aku tidak tega merusak momen indah kita dengan info itu. Sebuah kisah indah yang walaupun tingkatnya terendah dalam pertemanan kita namun aku menghargainya. Aku ke Bali berniat untuk liburan tapi kalau disini aku dapat pekerjaan barangkali aku tidak akan kembali lagi ke Ibukota. Kuusahakan komunikasi kita tidak akan terputus. Temanmu, Endah”.

Nova membaca sebuah memo di meja kerja yang dibersihkannya. Nova tersenyum dan menyimpan memo itu di saku seragam Office Girl nya. Nova pun melanjutkan pekerjaannya dengan hati gembira, melap meja kerja para karyawan dan mengepel. Semua itu Nova jalani dengan rasa syukur berlipat ganda, Nova kini tidak lagi merasa terbebani masa lalu rumah tangganya yang kelam.

1 jam lagi waktu makan siang berakhir dan Nova sama sekali belum makan siang. Bos melihat Nova dan menegurnya.

“Hei kamu… Sudah tinggalkan pekerjaan itu, kulihat lantainya sudah bersih. 1 jam lagi waktu makan siang berakhir jadi pergilah makan, kuperhatikan kau belum makan siang” Bosnya berkata galak

“Terimakasih atas perhatiannya, Pak. Saya akan segera makan siang” Nova tersenyum dan membereskan alat pelnya

“Tapi sebelumnya buang sampah ini dulu” kata Bos Nova menyerahkan sekantong plastik hitam. Nova mengambilnya dan beranjak permisi.

~~~

Nova pergi membuang sampah dan melihat ada seorang office boy yang tengah memotong rumput dibawah terik matahari. Nova terheran dan serasa tidak mengenali orang yang serius bekerja didepannya.

“Permisi… Mas…” Nova memutuskan menyapa dan orang itu menengok

“Iya… Ada apa?” dan tampak seorang pria dengan wajah yang pucat. Nova terhenyak

“Mas wajahnya pucat sekali. Ayo ikut saya pasti mas belum makan siang” Nova terlihat begitu khawatir

“Terimakasih” sebuah senyum hangat hadir di bibir office boy itu.

Karena keduanya terlambat makan siang, kantin kantor menjadi sepi saat mereka makan bersama. Nova berinisiatif mengajak bicara.

“Maaf sebelumnya, rasanya saya belum pernah melihat Mas di kantor ini. Apa Mas Office Boy baru?” tanya Nova penasaran

“Benar, saya baru diterima kerja disini kemarin. Ehm boleh kenalan? Nama saya Ditmar lalu namamu siapa?” pria bernama Ditmar mengulurkan tangannya untuk berjabat

“Nama saya Nova” Nova mengatupkan dua tangannya dan Ditmar tersenyum lebar

Mereka kembali melanjutkan makan dan Ditmar mulai bertanya pada Nova

“Dik Nova tinggal dimana?” tanya Ditmar

“Oh… Saya tidak punya tempat tinggal” Nova menunduk

“Memangnya Dik Nova belum menikah?” Ditmar merendahkan suaranya

“Sudah… Tapi cerai” Nova memperdalam tundukannya

“Oh maaf kalau saya sudah lancang menanyai urusan pribadi adik” Ditmar menunjukkan perasaan bersalahnya

“Tidak apa-apa Mas Ditmar. Kebetulan saya juga membutuhkan teman curhat. Apa Mas Ditmar mau menjadi pendengar?” Nova agak malu-malu

“Dengan senang hati Dik Nova” Ditmar tersenyum manis sekali

“Dulunya saya seorang pembantu rumah tangga. Suami dan mertua menyuruh agar saya meminjam uang majikan untuk berfoya-foya dan saya menuruti kemauan mereka. Kini ibu mertua saya sudah meninggal dunia dan suami saya dipenjara karena ketahuan mencuri dirumah majikan saya. Rumah saya jual untuk mengganti uang majikan dan sekarang saya tinggal di gudang kantor ini” air mata Nova menetes tapi kemudian Nova memperlihatkan senyum tegarnya. Ditmar menunjukkan rasa kagum

“Saya tidak menyangka. Mantan istri saya juga dulunya pembantu rumah tangga tapi saya digugat cerai karena saya masuk penjara demi melindungi anak saya. Kini mereka berdua telah bersama sosok suami dan ayah baru. Biarlah saya pergi saja meninggalkan mereka asal mereka bahagia” Ditmar pun ikut curhat. Mendengar itu Nova iba

“Tidak disangka kisah rumah tangga kita berdua punya sisi sedih masing-masing” Nova kembali tersenyum

“Iya, pantas saja wanita didepanku ini terlihat seperti sosok yang hebat. Jujur saya sudah sering memperhatikan Dik Nova karena Dik Nova kelihatan ulet dalam bekerja” Ditmar memuji Nova dan Nova tersipu malu

“Mas Ditmar juga begitu. Meski ini pertama kalinya saya melihat Mas Ditmar saya langsung yakin kalau Mas Ditmar orangnya baik. Mas Ditmar ayah yang penyabar dan berjiwa besar” saling memuji dan saling senyum. Ditmar dan Nova cukup cepat untuk akrab

“Dik Nova sudah punya anak dari pernikahan terdahulu?” Ditmar merasa keceplosan

“Oh belum… Kerja lagi yuk Mas Ditmar, jam makan siang sudah habis” Nova berdiri

“Ok Dik Nova. Nanti kita bertemu lagi ya, saya akan cari rumah kontrakan yang pas untuk adik” Ditmar ikut berdiri

“Oh, terimakasih Mas Ditmar” mereka berdua pun meninggalkan kantin kantor dan berjalan beriringan.

~END~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s