FanFiction : Indah Terendah ~ Sultan Nova ~ Dating

I

Malam di Perpustakaan Rumah Sakit Swasta. Sultan berkacamata bulat tengah sibuk membaca buku jenis-jenis pisau bedah dan Sultan tersenyum dengan menarik ujung bibir kirinya. Nova muncul dan mengambil duduk disamping Sultan.

“Hai dokter, lagi apa?” tanya Nova ikut melirik buku yang dibaca Sultan

“Cuma lihat-lihat buku, tidak dibaca. Detektif belum pulang?” Sultan menutup buku dan menoleh ke arah Nova

“Belum, Detektif lainnya masih sibuk mencari hal yang bisa dijadikan petunjuk” Nova tersenyum dan Sultan membalas senyum Nova

Lama mereka terdiam. Hingga Sultan menyerahkan secarik kertas dari saku jas dokternya untuk Nova, Nova membacanya, terkejut lalu tertawa kecil.

“Aku juga mencintaimu, Dokter” Sultan pun meraih tangan Nova untuk digenggam dan Nova meletakkan kepalanya dibahu Sultan.

Sultan dan Nova berpacaran dan akhirnya resmi berkencan diluar untuk pertama kalinya sebab kesibukan di tim penyidik membuat keduanya tidak punya waktu. Kencan ini sekaligus memperingati hari jadi hubungan mereka yang ke 1 bulan. Nova menyetir tanpa alas kaki, terlihat Nova tidak menyukai gaun pink yang dikenakannya.

“Aku benci pink. Jika saja ini bukan untuk menyenangkan hati Sultan, sampai mati tidak akan kulakukan lagi” Nova memasang ekspresi sebal

Nova turun dari mobilnya dengan bersepatu high heels hitam, Nova mengubah ekspresinya seceria mungkin. Sultan yang mengenakan jas hitam menganga melihat penampilan feminin Nova.

“Nova, ini benar dirimu?” Sultan menganga

“Iya, aku cantik ya?” Nova menaikkan alisnya

“Sekali… Keburu malam ayo kita nyalakan lilin dan potong kuenya” Sultan meraih tangan Nova lalu keduanya duduk di bangku depan air mancur

Sultan dan Nova begitu menikmati kebersamaan mereka, meniup lilin bersama dan memakan kue. Nova lalu menyerahkan kantong plastik berisi apel pada Sultan.

“Kak, kau suka apel kan? Ayo kita kupas bersama, nanti kita suap-suapan” tidak lupa Nova menyerahkan dua pisau, dua pisau tidak biasa

Sultan lalu fokus mengupas apel itu dan Nova memperhatikan gerak tangan Sultan dengan seksama hingga Nova tidak sadar telah melukai jarinya sendiri

“Jarimu” Sultan menarik tangan Nova dan langsung menghisap jari Nova yang mengeluarkan darah. Nova kaget tapi tidak dapat dipungkirinya jika dia terharu

“Kau ini kenapa? Lain kali berhati-hatilah” kemudian Sultan mengusap jari Nova

“Aku terkesima, kau tampan sekali” mata Nova berbinar dan Sultan tersenyum mengusap kepala Nova

Tiba-tiba saja hujan turun. Dengan sigap Sultan melepaskan jasnya untuk dirinya dan Nova berteduh

“Kak, kita ke mobil yuk” usul Nova dan diiyakan Sultan

Mereka duduk di jok belakang mobil Nova. Berduaan ditempat sempit seperti itu tentu membuat suasana jadi canggung.

“Kuenya enak ya kak. Beli dimana?” ujar Nova berbasa-basi

“Ah baguslah, kuenya aku yang buat sendiri” Sultan tersenyum dan Nova tampak kaget

“Buat sendiri? WOW! Siapa yang ajarin kak?” takjub Nova dan mendekatkan jaraknya dengan Sultan

“Seseorang” nada bicara Sultan berubah

“Mantan ya kak?” goda Nova

“Ya begitulah kira kira” Sultan menggaruk kepalanya dan tertawa begitu juga Nova

“Kak, hujannya masih deras. Kita pulang nanti saja ya” kata Nova

Nova pun menyandarkan kepalanya dibahu Sultan dan Sultan memeluk bahu Nova. Jas Sultan dipakai untuk menutupi kaki mereka berdua. Hujan masih saja turun seiring keduanya memejamkan mata.

II

“5 hari lagi menuju perayaan hubungan kita yang ke 2 bulan harusnya kau mengajariku membuat kue” Nova masih terisak dalam pelukan Sultan dan Sultan kembali diam

“Kak, dengan tangan terborgol begitu apa tanganmu tidak kram? Mau aku lepaskan atau kita berdua kabur saja sekalian?” Nova menatap Sultan tajam dan Sultan melepaskan kurungan tangannya dari badan Nova

“Maksudmu kita jadi buronan? Tidak, jangan, jangan tambah rasa bersalahku Nova” Sultan menggenggam erat rahang Nova

“Jikapun nanti aku dipenjara seumur hidup atau dihukum mati, berat kukatakan kumohon jika itu terjadi tetaplah bahagia” kembali Sultan menangis

“Demi Tuhan.. Tidak Kak, jika kau menyerahkan diri dan berkelakuan baik selama ditahan kau akan diberi vonis ringan. Aku janji akan menunggumu sampai kapanpun” Nova mengarahkan tangan Sultan untuk memegang pipinya yang penuh air mata. Kemudian mereka menunduk hingga kepala mereka bersentuhan dengan sengaja.

“Terimakasih telah bersedia menungguku dan terimakasih karena tidak malu mempunyai pacar pembunuh sepertiku. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Baiklah aku akan pergi menyerahkan diri sekarang juga. Jaga dirimu, Nova” Sultan mengusap rambut Nova dan mengambil toples berisi jantung sebagai barang bukti

Suara tangisan Nova semakin menjadi-jadi terlebih saat Sultan tidak menoleh saat Nova memanggilnya. Nova pun mencegat Sultan

“Pegang Janjiku, Dokter” Nova mendekatkan wajahnya dengan wajah Sultan, tanda perpisahan.

~END~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s