FanFiction : Reza Zakarya ~ Fansign


Jika kau tidak berdaya untuk bermimpi jadi marilah kita membuat mimpi

Botak planetarium menyilaukan segala penjuru tempat ini. Tempat ini sedari pagi sudah ramai hilir mudik para fans yang bersemangat ingin bertemu sang idola. Di tempat tersebut terpampang spanduk besar bertuliskan “Fansign Pertama Reza Zakarya” dan salah seorang gadis tengah membaca lantang tulisan pada spanduk tersembut. Perlahan sebuah senyum tersungging dari bibir sang gadis berambut pendek, matanya berkaca-kaca begitu emosional.

Aku bangga padamu, Reza. Aku bangga akhirnya kau bisa sesukses ini sebab jika dirimu sukses itu artinya mimpiku telah tercapai.

Lalu kumemutuskan duduk diantara tanaman hias diruangan ini, aku sendirian sementara mataku terfokus pada lalu lalang para fans atau tepatnya 100 fans beruntung yang bisa mendapatkan tanda tangan Reza pada album Reza Zakarya milik mereka dan juga bisa melakukan kontak tangan dengan Reza. Aku masih duduk sembari beberapa kali kupastikan album milik Reza masih ada dikantong jaketku. Diam-diam kugunakan benda segiempat itu untuk mengipas sebab ruangan ini memang luar biasa pengap panas dan silau akibat pantulan botak planetarium pada sudut tertentu. Kuhentikan aktivitas mengipas sebab beberapa fans Reza memincingkan matanya melihat kegiatanku yang aneh terlebih saat itu juga petugas keamanan menyuruh kami untuk mendekat sebab Reza akan masuk ke ruangan fansign. Ajaibnya ruangan yang panas seketika itu juga berasa menjadi dingin, kugoyangkan jari-jariku dibalik sepatu sneakers hitamku dan kupastikan kakiku mendingin. Lalu kulihat telapak tanganku mulai mengeluarkan keringat begitu juga dahi yang penuh dengan peluh. Ya aku gugup, antri berhimpitan dengan para fans seketika itu juga membuat tubuhku lemas juga kaku. Nyaris aku keluar dari antrian ini tetapi kedatangan pria berkacamata hitam dengan kemeja biru bermotif garis-garis putih menghentikanku. Iya, dialah Reza Zakarya.

Tanpa basa-basi dia mengambil duduk ditengah sebuah meja yang cukup panjang. Dirinya tidak lepas dari pandanganku seakan mata ini ingin menelan bayangan hidup-hidup. Dia mengumbar senyum dan mengambil sebuah spidol dari saku celana jeans nya padahal panitia sudah menyiapkan spidol untuk Reza, ya seperti itulah idolaku. Fansign dimulai dan urutanku di nomor 53 membuatku harus menunggu lama. 12 menit sudah aku berdiri tapi aku merasa jarakku dengan Reza masih cukup jauh. Keringat dingin mengucur dengan derasnya yang mengundang perhatian para panitia fansign.

“Adik baik-baik saja kan?” sahut seorang panitia menanyaiku

“Iya Mas, aku masih kuat untuk antri kok” jawabku tapi apa daya suaraku yang bergetar terdengar jelas oleh panitia

“Dik, dimohon adik untuk keluar dari antrian. Adik istirahat saja di belakang, albumnya adik bakal saya titipkan ke mas Reza untuk ditandatangani” ide sang panitia membuat mataku melotot

“Tapi mas, aku kan juga mau salaman sama kak Reza ” sebab aku tidak kuat oleh desakan para fans dibelakang yang mendorongku untuk maju, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu

~

Selama satu minggu ini aku merasa stress dan jika sudah stress biasanya aku lebih memilih makan mie instant ketimbang nasi. Barangkali itulah yang membuat tubuhku lemas dan aku menyesal sebab tubuh lemas ini aku gagal berpandangan mata dengan Reza juga gagal merasakan betapa hangat telapak tangannya. Aku duduk pasrah pada ranjang roda yang telah disiapkan dibelakang panggung. Aku hanya bisa menangis.

“Permisi, ini album milikmu?” sebuah suara tebal menyadarkanku, betapa gembiranya saat kusadari itu suara Reza

“Ishh fansnya kak Ejja gak boleh nangis dong.. Ehm hapus gih air matanya.. Oh ya namamu siapa?” Reza ikut duduk diranjang tempatku duduk, Reza menanyakan namaku untuk ditulisnya pada album milikku yang dipegangnya dan aku terbata melihat betapa dekat jarakku dengan Reza

“Namaku… Evi… Evi Jeremias” suaraku masih bergetar dan Reza menoleh mantap begitu mendengar nama panjangku

“Oh.. Kamu yang namanya Evi Jeremias.. Adekku” Reza sumringah lebar dan tangannya bergerak mengusap kepalaku. Refleks aku memegang kepalaku yang baru saja dipegang Reza bermaksud mencium wangi kepalaku sendiri dan Reza merengut

“Iish kamu kok gitu sih” sahut Reza memukulkan ujung spidol ke kepalaku

“Hehehe bercanda kak, habisnya kakak wangi banget” aku tersipu malu sangat malu dan lagi-lagi Reza tersenyum

“Kak Ejja, aku boleh minta cium sama kakak?” kutanya Reza pelan, Reza terbelalak tapi Reza mengiyakan permintaanku

Kulihat Reza mengambil ponsel dari kantongnya dan Reza mengambil selfie dengan gaya memonyongkan bibirnya. Setelah Reza melakukan itu Reza pun mengarahkan layar ponselnya ke pipiku. Aku kaget dan Reza kembali mengusap kepalaku.

“Sudah” ujar Reza sembari mengangkat dua alisnya bersamaan.

Telinga Reza bergerak dan aku jadi semakin malu. Kupegang pipiku kucubit dan mataku melotot melihat hari sudah pagi. Ah cuma mimpi.

~END~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s