Catatan Pra Kuliah : Menjadi Mahasiswa


18 agustus 2015 waktu saya ikut ujian tertulis calon mahasiswa baru

3 tahun menjadi Rapunzel dirumah sendiri tidak sepenuhnya menyenangkan. Di usia yang mau tidak mau saya menganggap diri saya sendiri sudah dewasa, saya mulai minder mengingat betapa banting tulang kedua orang tua saya bekerja sementara saya hanyalah rapunzel yang sama sekali tidak cantik. Saya menjalani hidup dengan sangat malas dan penguat hidup saya pada masa-masa itu hanyalah blog ini, kawan dunia maya beserta Dira yang amat saya sayangi. Lantas saya mulai mengubur impian untuk menjadi mahasiswa, entah kenapa. Sampai hati nurani menjalankan terornya.

Kurang lebih selama menjadi pengangguran saya kerap bermimpi aneh yakni mimpi bersekolah. Saya mimpi sekolah dengan teman SMP dan juga mimpi sekolah dengan teman SMA. Bahkan ada satu mimpi dimana kami semua melakukan apa yang orang dewasa lakukan setelah dalam skenarionya saya beserta kawan-kawan meraih sukses. Sesungguhnya 40% ini mimpi yang unik sekaligus menyenangkan, sisanya menyakitkan. Lantas saya bertanya pada diri saya sendiri, apa benar sampai mati saya tidak akan menjadi mahasiswa? Apakah benar impian untuk berkuliah sudah terkubur dalam-dalam? Di tahun 2015 ini, Tuhan beserta restu-Nya menunjukkan kepada saya bahwa impian bukanlah benda mati.

Selama setahun belakangan ini tayangan Olimpiade Indonesia Cerdas banyak mempengaruhi hidup saya dan cara pandang saya terhadap pendidikan saya kedepan. Saya tersugesti untuk kembali memperjuangkan hak yang semestinya tertulis dalam takdir hidup saya yakni… MENJADI MAHASISWA. Entah termotivasi apa, saya tertidur ketika orang tua saya tengah sibuk menghubungi beberapa sejawat mereka agar saya bisa berkuliah. Lantas saya bingung, yang terlintas dalam pikiran saya kala itu darimana ayah dan ibu mendapatkan uang untuk membiayai saya kuliah? Tetapi seperti perkataan kakak saya, jika kau terus-terusan memikirkan biaya mahal atau mahalnya biaya kau tidak akan bisa kuliah Evi. Lalu saya pun terdiam, tidak berani lagi menatap muka orang tua bahkan untuk bertanya mengenai apa rencana mereka agar saya bisa kuliah.

Waktu berlalu sangat singkat ketika saya mendapatkan formulir pendaftaran mahasiswa untuk gelombang 2 dan mengembalikannya 4 hari kemudian. Saya bahagia, kesempatan menjadi mahasiswa semakin terjangkau dari jarak saya berada. Tetapi saya tidak bisa berbahagia lama-lama sebab pada saat itu juga keluarga saya mengalami cobaan begitu. 1 dari 3 kakak perempuan saya memilih kabur dari rumah dan menikah dengan pacarnya disana. Sebagai adik yang tidak paham dengan segala situasi ini saya sangat terpukul dan saya merasa begitu stress hingga berbagai jerawat muncul bersamaan di bagian dahi. Ibu saya pulang dengan tangisan sebab gagal membujuk kakak untuk kembali ke rumah, tangisan yang saya kenali ibu akan menangis seperti itu jika ibu merindukan almarhumah Nenek. Pada saat itu saya berpikir atau lebih tepatnya mensugesti dirik, jika terus memaksa kakak untuk kembali ke rumah atas nama cinta keluarga saya akan seperti Rahwana yang ngotot menculik Dewi Sinta dari tangan Sri Rama. Saya serta keluarga berusaha tegar, mengikhlaskan kakak bersama cintanya dan sugesti itu sama sekali gagal. Nyatanya setiap malam saya menangis berharap akan ada keajaiban, saya tidak bersemangat menulis di blog dan saya kembali tidak bersemangat untuk menjadi mahasiswa.

Show must go on, semangat tidak semangat saya musti mengikuti ujian masuk. Saya sadar saya tidak belajar sama sekali sebab stress tapi disini keluarga saya bermain luar biasa dengan terus memberikan semangat dan do’a. Tanggal 18 agustus saya menjalani ujian tulis dan saya cukup terhibur bisa bergabung dengan para adik kelas atau mereka pasti seangkatan dengan para peserta Olimpiade Indonesia Cerdas. Tanggal 19 agustus yakni pada saat saya ulang tahun, saya menjalani tes kedua yakni tes wawancara. Tidak lancar karena gagap saya kumat tapi anehnya pewawancara menyukai jawaban yang saya lontarkan. Ini aneh, sampai pada penentuan hari ini tanggal 20 Alhamdulillah saya lulus sebagai Mahasiswa Fakultas Keguruan Jurusan Bahasa Indonesia. I can’t believe it.

3 pemikiran pada “Catatan Pra Kuliah : Menjadi Mahasiswa

  1. dira

    barakallah evi🙂
    selalu semangat ya
    semoga evi bisa melewatinya dengan sabar dan syukur yang selalu diajarkan…
    hihi bahasa indonesia? guru nih ceritanya
    lebih sering cerita dong ya
    ah, pokoknya sukses evi
    and thank you >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s