Catatan Pra Kuliah : Zatra Perdana


Kampus biru kampus hantu

Malam kemarin merupakan malam terakhir pelaksanaan Taaruf (Ospek) di kampus tempat saya berkuliah jadi kami para Mahasiswa Baru diminta untuk menginap sebab kami akan melakukan beberapa kegiatan ibadah di kampus sesuai konsep Taaruf itu sendiri. Selesai melakukan istighosah panjang kami pun makan malam. Suasana mulai chaos saat pembagian makan malam berlangsung membuat mesjid kampus jadi sangat berisik sehingga panitia marah-marah sambil berteriak menegur kami para Maba. Suasana jadi mencekam ketika Maba yang tengah dihukum diluar mesjid mengalami kesurupan tapi Panitia tetap meminta kami untuk tenang dan tidak panik dan kami juga diminta untuk melanjutkan makan malam. Seperti yang sudah saya duga para makhluk halus ini ikut masuk ke masjid dan merasuki beberapa Maba perempuan. Chaos sekali, panitia yang awalnya meminta kami untuk tenang dengan panik mengevakuasi kami ke area halaman masjid. Panitia memberi kami aba-aba untuk melakukan dzikir dan juga panitia meminta agar kami jangan panik serta jangan mengosongkan pikiran jangan melamun. Lantas saya pribadi bingung, dituntut untuk jangan mengosongkan pikiran pada suasana kacau seperti ini siapa yang harus saya pikirkan? Saya ikut berdzikir dengan ragu-ragu dan saya nyaris panik sebab kepala saya pun mulai terasa pusing. Hingga sekelebat bayangan hitam melintas didepan mata saya, adalah Zatra Perdana alias Kak Zatra yang merupakan salah satu kakak panitia pada Taaruf ini dengan sibuk menggiring tandu dan membawa mereka yang tidak enak badan ke ruang kesehatan. Dia nampak begitu sibuk bersama panitia lain, yang saya amati pada dirinya selama 10 hari kak Zatra adalah sosok lelaki kuat tapi dia jengah juga menghadapi kesurupan massal itu.

Zatra Perdana. Rambutnya gondrong ikal dan dia sering menyanggul rambutnya juga mengenakan bandana hitam. Malam itu dia mengenakan baju panitia Taaruf berwarna hitam serta celana jeans lengkap dengan tanda pengenal tergantung di pinggang kanannya. Dia sibuk mengabadikan momen taaruf dengan kamera Nikon hitam sebelum kesurupan massal itu terjadi. Lalu dia kembali sibuk mengurusi Maba yang kesurupan bahkan Kak Zatra sendirian menggendong salah satu Maba yang pingsan, hal yang tidak pernah saya temukan dilakukan oleh panitia pria lain. Di sisi lain saya merasa iri dengan Maba tersebut ditambah waktu shalat subuh Maba yang pingsan tadi sudah sadar dan bergosip dengan kawannya jika semalam dia digendong sama Kak Zatra.

Kak Zatra bersama kesibukannya mondar mandir area masjid memenuhi pikiran saya. Mata saya mengikuti kemana arah kak Zatra pergi dan ketika suasana mulai agak kondusif kami kembali masuk ke dalam masjid. Kak Zatra ikut melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tapi mata saya tetap tidak ingin lepas memperhatikan dirinya. Saya memperhatikan dirinya yang sibuk dengan kamera tapi gesture nya terlalu canggung untuk disebut sebagai fotografer handal. Badannya tinggi kurus dan hanya giginya saja yang putih tapi dia punya lesung pipi dan itu mengesankan kak Zatra orangnya manis sesuai kesan pertama saya pada dirinya waktu Pra-Taaruf dilakukan 3 September lalu. Ternyata kepala saya pusing karena blitz kamera tapi saya kekeuh memperhatikan Kak Zatra dan Alhamdulillah dia tidak sadar saya memperhatikannya. Pandangan mata saya terhenti begitu kak Zatra duduk beristirahat tepat dibelakang saya dan saya gugup.

Esok paginya kami para Maba pun dipulangkan ke rumah sembari menunggu suasana kampus normal lagi. Sebelum pulang untuk menutup Taaruf para Maba bersalaman dengan para panitia dan ketika saya bersalaman dengan kak Zatra saya iseng mengatakan “good job kakak ganteng”. Kak Zatra hanya bisa tersenyum mendengar ucapan saya dan salah satu kakak senior perempuan seakan merasa pujian saya untuk Kak Zatra mengada-ada tapi ah sudahlah. Saya ingat 12 jam sebelum kesurupan massal terjadi, saya menjelaskan pada salah satu kakak senior bernama Kak Adel kenapa saya bisa mengagumi Kak Zatra. Saya berkata apa adanya, sosok Kak Zatra membuat saya kagum dan saya ingin menjadi seperti dirinya begitu aktif sebagai mahasiswa nanti. Kak Adel diam saja mendengar penjelasan saya dan sebelum meninggalkan saya kak Adel kurang lebih berkata “Zatra emang gitu kesannya dia galak tapi kalau udah kenal dekat anak-anak cewek bisa klepek-klepek dengar suaranya dia”. Kak Adel meninggalkan saya dengan penuh rasa bingung, klepek-klepek?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s