Atheis : Hasan Kartini (♥ε♥)

“Evi, film favorit kamu apa? Hmmm atau buku favorit kamu apa?”

Sebuah pertanyaan simple yang umumnya ditanyakan orang-orang. Sebagai yang ditanya saya pun berusaha menjawabnya se-simple mungkin yakni dengan menyebutkan apa yang ada apa yang langsung terbayang dalam otak saya. Untuk film, sepertinya pikiran saya sudah terlatih menjawab “Oldboy” padahal jujur saja ada film yang saya merasa film itu lebih dari Oldboy. Untuk Buku, jika ditanya Buku favorit kemungkinan besar saya akan menjawab Novel berjudul “Atheis” karangan Achdiat Karta Mihardja. Sama seperti Oldboy saya pun merasa ada Novel yang lebih dari Atheis. Setelah diselidiki ternyata saya menjawab ini dengan condong pada pertanyaan “kamu merekomendasikan film dan buku apa untuk saya?”. Ah sebuah pembuka yang tidak penting😦

Intinya Atheis bagi saya adalah novel yang pantas dipentingkan hingga Atheis termasuk judul pertama yang saya siapkan jika saja saya ditanyai soal Novel Favorit. Sebab pentingnya Atheis membuat saya merasa akan sangat buruk jika tidak ada tulisan tentang Atheis di blog ini. Atheis itu novel yang bahkan saya sendiri tidak berani membahasnya jadi mari kita membahas Atheis tidak berdasarkan tema-nya melainkan salah satu sisi lain novel ini ya apa lagi kalau bukan C.I.N.T.A. Percayalah ini termasuk modus kalau saya kangen sesuatu cinta-cintaan😀

Jangan sampai rasa cintamu kepada manusia melebihi rasa cintamu kepada Tuhan. Kata-kata ini terdengar mudah tapi kita akan merasakan susahnya begitu membaca novel Atheis. Lewat Hasan sang tokoh utama kita diperlihatkan Hasan yang rajin ibadah sekalipun begitu dirinya mencintai Kartini membuat Hasan seakan tak ber-Tuhan lagi. Hasan bukannya tanpa alasan mencintai Kartini sampai segitunya sebab sosok Kartini mengingatkan Hasan pada cintanya di kampung yakni Rukmini dan Hasan gagal memiliki Rukmini. Dengan mencintai Kartini bisa dipastikan Hasan ogah mengalami kegagalan cinta untuk kedua kalinya. Toh Kartini tidak dijodohkan seperti Rukmini, status janda Kartini bukan masalah berarti bagi Hasan hanya saja Kartini yang tidak ber-Tuhan itu dalam hati kecilnya Hasan berharap Hasan bisa meng-islamkan Kartini setelah mereka menikah. Tapi bagaimana bisa membawa Kartini ke jalan lurus jika iman Hasan saja tengah bermasalah?

Hasan dan Kartini merupakan pasangan yang manis tetapi banyak sekali hal sangat “sayang” terjadi dalam hubungan mereka terlebih 3 tahun pernikahan keduanya. Ketika membaca novel Atheis lagi atau lebih tepatnya membaca part PDKT nya Hasan Kartini saya turut senyum senyum sendiri menikmati keromantisan Hasan Kartini. Hasan merupakan sosok pribadi naif cemburuan agak childish tetapi akhirnya memberanikan diri mencium mesra Kartini di bawah sinar rembulan saat mereka berduaan. Kartini sendiri juga mencintai Hasan bahkan sangat setia pada suaminya itu walaupun Kartini masih saja suka keluar rumah dan biasa diantar pulang sama Anwar, troublemaker novel ini😀. Kalau tidak salah pernikahan Hasan dan Kartini terjadi pada tanggal 12 Februari 1941 alias 2 hari sebelum valentine. Intinya lewat kisah cinta Hasan dan Kartini kita diperlihatkan bahwa cinta tanpa kepercayaan itu sama juga bohong. Kepercayaan pada Tuhan dalam hubungan mereka saja nyaris tidak ada dan begitu kepercayaan pada pasangan diuji hasilnya Hasan memukuli Kartini, Kartini menginap dengan Anwar membuat Hasan berprasangka buruk hingga Hasan ditembak sama Jepang pada jam malam. Akhh bisa dipastikan Kartini lah sosok yang paling terluka atas nasib malang Hasan.

Lantas saya berpikir bagaimana jika Hasan melanjutkan niatnya untuk meng-islamkan Kartini saat mereka menikah? Bisa jadi berhasil tetapi hal seperti ini kembali pada Hasan sendiri. Hasan beribadah berlandaskan ketakutannya pada siksa kubur dan Hasan belajar ilmu tarekat supaya bisa move on dari pernikahan Rukmini. Kecintaan Hasan pada Tuhan sejujurnya sangatlah rapuh jadi begitu bergaul dengan Rusli Kartini terutama Anwar rasa cinta itupun goyah jatuh begitu saja. Akhh mau apa lagi selain belajar dari Hasan itu sendiri. Jadi kira-kira bisakah saya mencintai Tuhan seperti saya mencintai idola maupun crush bahkan melebihinya?

Kecantikan dan kelembutan Kartini sungguh membuat Hasan terlena. Sementara Kartini memandang Hasan sebagai sosok yang bisa diandalkan yang tahan banting melindunginya. Maka malam itu dia mengenang pertemuan mereka, ketika Hasan mendekap Kartini yang nyaris jatuh hingga kecupan mesra mereka dibawah cahaya perak. Komitmen untuk bercinta dan dicintai tentu pula mengingatkannya pada kerasnya Hasan memukul Kartini. Dia ngeri tak tahan lagi dia menutup bukunya. Dia keluar rumah menuju WC dan langkahnya terhenti menikmati sinar rembulan menyinarinya. Dia menengadah bergumam dalam hati

“Dibawah paparan ini apakah aku juga cantik seperti Kartini? Lalu keindahan ini siapa yang membuatnya jika bukan Tuhan Yang Maha Esa?”

2 pemikiran pada “Atheis : Hasan Kartini (♥ε♥)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s