FanFiction : Tentara Medis Bernama Reza

Inspirasi Bebas dari Novel “Lembah Membara” karya Moerwanto

Aku tidak tahu tepatnya sudah berapa jam berbagai ledakan memekakkan telingaku tetapi yang jelas syukurlah opera peperangan ini telah berhenti walau aku harus dituntut was was jika saja terjadi peperangan susulan. Masa bodoh, semenjak ditugaskan sebagai tentara medis aku pun menemukan hal yang jauh lebih menyebalkan daripada bau obat-obatan di Rumah Sakit.

Kuputuskan ke toilet untuk buang air kecil dan aku melihat Bramantyo Haryo melakukan hal yang sama. Aku memposisikan diri tepat disampingnya lalu kuajak bicara…

“Ini benar dengan saudara Bram?” tanyaku cepat

“Iya betul. Ada urusan apa bung?” balasnya ramah

“Bisakah nanti kita bercakap-cakap sebentar diluar?”

“Suatu kehormatan saya diajang bercakap dengan Bung. Nama anda Reza kan dari unit Medis?” betapa kaget aku sebab ternyata orang ini tahu namaku

“Tepat bung. Saya jadi tidak sabar bercakap-cakap dengan anda” aku dan Bram tertawa kecil

Lantas kami duduk berdua di posko unit medis. Kupandang Bram sejenak, sosoknya begitu gagah mengenakan seragam tentara. Bibir bawahnya yang keunguan cukup menonjol membuatku berpikir barangkali Bram seorang pencium hebat.

“Sudah sangat sering saya mendengar Bung dari cerita kawan-kawan Prajurit. Lantas kenapa Bung bisa mengenali saya? Saya baru akan terjun ke medan perang mengangkut para Prajurit yang tidak sadarkan diri” tanyaku sangat penasaran dan Bram sampai kebingungan

“Yuca, pacarku yang seorang anggota Palang Merah sering bercerita tentang anda. Bagaimana kecakapan anda mengobati kami yang luka parah, dedikasi anda pada Inggris padahal kakek anda seorang Jerman…” Bram batal melanjutkan perkataannya

“Ini tidak adil manakala Bung ternyata sudah tahu banyak tentang saya hahahaha” selorohku agak panik

“Oh maaf bung saya tidak sengaja. Cerita bung hampir sama dengan cerita saya, kulit saya coklat jadi Bung pasti tahu kalau saya bukan orang Inggris” nada suara Bram memelan

“Ya begitulah kira-kira. Saya merasa jika kita tidak punya kemampuan kita berdua akan mati sekarang juga” aku dan Bram tertawa, nada tawa kami terdengar sumbang

Kulirik arloji sesekali seragam tentara medis yang aku kekanakan. Menjelang petang aku dan Bram bermain asap dari mulut kami sendiri. Baguslah Bram tidak mengeluhkan kegemaranku merokok padahal aku adalah petugas kesehatan

“Tidakkah anda merasa bersalah pada negeri anda, Indonesia, sebab kecakapan anda justru pergunakan di negeri orang?” tanyaku mulai serius

“Wah berat sekali pertanyaan anda. Tentu ada perasaan bersalah namun disaat itu juga saya merasa masih mencintai Indonesia. Saya menjadi tentara demi menuntut dendam kematian ayah saya di sana” jawab Bram tetap kalem

“Dendam kepada siapa Bung?”

“Entah jelasnya rasa dendamlah yang membuatku berada disini”

“Lantas kenapa tidak pulang ke Indonesia untuk menunaikan dendammu?” aku bertanya lebih menuntut

“Aku pun mau pulang tapi aku tidak ingin meninggalkan kasihku Yuca” jawab Bram dalam

“Oh begitu. Aku tidak akan berkomentar soal itu, keputusanku untuk terjun sebagai tentara medis seiring pula keputusanku untuk tidak membuat komitmen apapun dengan wanita. Cepat atau lambat aku akan meninggal jadi beruntunglah anda dan kekasih anda” ucapku dan tanpa sengaja aku batuk batuk sementara Bram hanya diam

“Aku hanya berkomitmen untuk tetap setia di Inggris. Aku lahir di Inggris, ibuku Inggris meski garis keturunanku sebagai anak lelaki adalah Jerman. Ayahku kecewa ketika aku memilih sebagai tentara Inggris seiring kekecewaanku pada Ayah yang menceraikan ibu” aku kembali terbatuk

“Bung Reza, anda tidak apa-apa?” Bram menunjukkan kepanikannya padaku terlebih melihat ada darah dimulutku

“Saya senang ternyata Bung adalah sosok baik sebab saya menyangka Bung orangnya suka menyombongkan diri bahwa hati Bung adalah Indonesia” sahutku lemah dan mataku perlahan mengabur

Bram mengguncang badanku keras. Nada suaranya panik sekali. Kukuatkan untuk kembali bertanya…

“Jika Tuhan bersama Anda lalu saya bersama siapa?” kemudian mataku tertutup

Ombang-ambing nasionalisme berakhir di Inggris sesuai yang aku mau. Perasaanku diantara Jerman dan Inggris akhirnya berlabuh setia di Inggris. Kemudian Reza mendelik heran pada FanFiction karya Evi yang dibacanya…

“Ya Ampun Ev… Kamu kok bikin cerita gini banget? Jelek ini ah” sahut Reza pasrah

“Bener kak otak saya sedang tumpul. Tunggu cerita selanjutnya aja ya, saya mau bikin cerita yang bertolak belakang dari image Kak Ejja selama ini” kata Evi seceria mungkin

“Apa itu?” Reza menopang dagunya penasaran

“Ada deh… Intinya saya mau pinjam nama dan wajah Kak Ejja saja, FF nya bakal saya buat agak dewasa” kemudian sebuah pukulan spidol dari Reza mendarat di kepala Evi

~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s