Catatan Tengah Kuliah : 2 Bulan Menjadi Mahasiswa


Lembaga Dakwah Kampus Al-Nabhani

Evi : Jawab jujur, kamu percaya gak kalau sekarang saya sudah mahasiswa?
York : Sebagai sisi lain dari dirimu, saya sendiri gak percaya tapi namanya juga kenyataan jadi harus dihadapi. Semangat Ev!!!

Ya begitulah kira-kira. Terkadang saya sendiri wow-wed tiap tahu bahwa saya telah menjadi mahasiswa. Status baru ini membuat saya jadi jarang ada di rumah, saya menghabiskan setengah hari waktu di kampus bahkan terkadang menginap di rumah teman. Oiya bicara soal teman saya merasa lebih mudah beradaptasi sekarang ini ketimbang lalu-lalu seperti waktu saya SMA dulu. Teman-teman walau masih jauh dari kata kompak sebab masing-masing sudah membentuk kelompok sendiri tapi mereka aslinya ramah kok. Mereka berisik tapi baik bahkan saking mampunya saya beradaptasi dengan mereka yang 2-3 tahun lebih muda dari saya, saya sudah sering diciyee-ciyeeein dengan salah seorang mahasiswa. Akh dasar mereka semua jiwanya masih SMA *lalu kemudian tersipu malu* *York muntah*.

Kurang lebih 2 bulan aktif berkuliah saya sudah mengalami beberapa hal yang bagi saya menarik… Walau beberapa merujuk pada hal-hal bodoh, bodoh yang bukan berarti tidak berguna.

~ Salah satu dosen pernah mengatakan bahwa sistem kuliah merupakan sistem belajar yang paling demokratis. Memang benar tapi kesannya sangat membuang waktu dan jika waktu sudah terbuang lalu bagaimana dengan uang? Kesibukan tiap-tiap dosen menuntut kami untuk bisa berkuliah hanya pada waktu tertentu artinya jadwal kuliah kami sudah tidak sesuai dengan roster. Dari 9 mata kuliah ada beberapa mata kuliah yang dosennya mau kuliah pagi dan efeknya hampir tiap hari kami ke kampus alias sistemnya sudah mirip anak SMA.
Bagusnya hal semacam diatas bisa diperbaiki dengan mengatur ulang jadwal tetapi bagaimana bisa memperbaiki cara mengajar dosen yang kurang efektif bagi mahasiswa baru minim pengalaman seperti kami? FKIP loh FKIP, siap-siap saja gaya mengajar tiap dosen akan menjadi referensi bagi kami kedepannya kalau teman-teman kami nanti menjadi guru. Eh bisakah saya skip saja hal ini? Ngeri euy, minggu depan mulai sibuk mid semester

~ barangkali satu-satunya hal yang bisa saya syukuri karena memasuki Prodi Bahasa Indonesia ialah di prodi ini saya bisa lebih banyak belajar tentang Sastra. Bekal membaca beberapa novel jadul setidaknya menolong saya dalam memahami sedikit mata kuliah Kesastraan walaupun fakta sedihnya saya belum merasa terpuaskan dengan cara dosen mengajar Kesastraan. Ya itu dia, masing-masing dosen punya khas makanya saya pribadi belum menemukan dosen favorit di kampus saya menimba ilmu. Tapi kalau senior favorit sih sudah ada, banyak malah *ehem*.

~ yang namanya maba tidak akan jauh-jauh dari senior dan saya termasuk salah satu maba yang gencar ingin berkomunikasi dengan senior meski hanya lewat sms atau sosial media. Senior yang saya maksud disini adalah senior saya ketika mengikuti Ospek dulu dan ada satu senior yang sangat sering saya kepoin tanpa rasa malu. Saking keponya bahkan teman saya menganggap saya sedang jatuh cinta dengan senior saya ini. Ya gak salah juga sih toh saya memang agak frontal dengan meluapkan segala kekaguman saya pada senior lewat sebuah kata-kata manis (bukan puisi apalagi gombal). Ya senior ini bernama Karmuji, seorang pria Jawa dari Fakultas Agama Islam Prodi Ekonomi Syariah. Setelah kekaguman saya dengan Zatra Perdana tidak bertahan lama (seiring saya melupakan keinginan untuk masuk FISIP Komunikasi), kekepoan penuh dosa saya pada kak Muji meledak berlebihan. Bagi saya kak Muji adalah penerang, kak Muji lewat penjelasan singkatnya tentang sejarah Islam membuat saya kembali kepo dengan sejarah Islam. Segala macam pertanyaan tentang sejarah Islam yang telah terkubur sejak SMP satu persatu kembali muncul di otak saya. Untuk itu terimakasih, saya sendiri tidak berani menganggap saya jatuh cinta pada kak Muji jadi semoga beliau panjang umur.

~ masih senior, senior fakultas orangnya baik-baik semua. Semoga nanti bisa lebih akrab lagi. Tapi janganlah sering mengiming-imingi maba akan pandai bicara didepan umum jika bergabung dengan organisasi

~ mahasiswa, ada “Maha” nya. Di masa ini yang pantas memakai kata itu dalam statusnya masih Tuhan semata tapi kata “Maha” dalam Mahasiswa tetap akan ada. Ya itu merupakan sesuatu yang siap tidak siap tetap harus dipertanggungjawabkan. 2 bulan ini sebagai mahasiswa saya merasa belum bisa apa-apa, masih belum dewasa bahkan saya masih belum mampu untuk menandai apakah saya sedang jatuh cinta atau tidak. Yang jelas ada satu hal luhur dalam hidup saya yang kembali terlihat selama 2 bulan menjadi mahasiswa… Kecintaan saya terhadap ilmu Sejarah apapun itu masih ada. Mustahil seseorang akan dewasa jika tidak belajar dari SEJARAH hidupnya.

10 pemikiran pada “Catatan Tengah Kuliah : 2 Bulan Menjadi Mahasiswa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s