Harimau! Harimau!

Harimau Harimau

Sudah lama kiranya saya tidak membaca novel dan novel ini merupakan novel yang baru saya tamatkan. Menyenangkan sekali bisa membaca novel Harimau! Harimau! yang tidak tebal ini dan sama sekali bukan penyesalan sebab menamatkan novel ini ditengah berlangsungnya UAS, hehehe😀

Sebelumnya saya sama sekali tidak familiar dengan nama Mochtar Lubis. Saya iseng menemukan judul ini di Goodreads dengan berbagai respon positif dari para pembaca. Belum lagi latar belakang penulisan novel ini terjadi ketika Mochtar Lubis tengah dipenjara di Madiun membuat Harimau! Harimau! semakin menarik untuk dibaca. Ceritanya mengenai 7 pencari damar diantaranya Wak Katok, Haji Rahmat, Pak Balam, Sutan, Sanip, Talib dan Buyung yang diteror seekor harimau saat mereka akan keluar dari hutan. Sejatinya dosa akan semakin mendekat bila manusia dihimpit rasa seperti sekarat, nah maka teror harimau ini pun makin diperrunyam dengan berbagai pengakuan dosa dari para karakter novel ini. Bahwa tiada manusia yang sempurna, bahwa manusia masing-masing pernah melakukan dosa besar dalam hidupnya. Secara gamblang diuraikan oleh Mochtar Lubis dan pembaca dituntut untuk bisa mengambil hikmah atas apa yang tujuh pencari damar ini alami.

Pak Haji berkata bahwa manusia harus mengalahkan “harimau dalam hati” mereka terlebih dahulu sebelum melumpuhkan harimau yang meneror mereka. Sejujurnya kalimat diatas nampak sederhana dan punya makna jelas untuk dipahami tapi ternyata tidak sesederhana yang saya sangka, nah seperti itulah novel Harimau! Harimau. Kesederhanaan Harimau! Harimau! jujur saja membuat saya bosan ketika membaca bagian awalnya, mungkin karena efek saya menantikan sesuatu hal menimpa Siti Rubiyah bersama lelaki muda bernama Buyung atau saya sangat menantikan kehadiran si Harimau. Dan benar saja, pasca perzinahan antara Buyung dan Rubiyah menjadi titik balik yang membuat Harimau! Harimau! harus saya baca sampai tuntas. Setelah kejadian ini si Harimau lapar yang ganasnya bukan main itupun muncul membuat tensi novel ini meningkat drastis. Saya merasakan ketegangan luar biasa ketika membacanya saat tengah malam, tepat saat saya pun harap-harap cemas menantikan SMS Mister Kar yang tak kunjung tiba. Ketegangan yang dihasilkan karena membaca Harimau! Harimau! itu memorable, baru kali ini saya membaca novel dengan begini tegangnya dan ketegangan ini tidak akan saya lupakan.

Puncak ketegangan saya ketika membaca Harimau! Harimau! adalah saat Buyung dan Sanip dengan kampretnya mengorbankan Wak Katok sebagai umpan Harimau. Ya, diantara 7 pencari damar memang karakter favorit saya adalah karakter Wak Katok. Hehehe “katok” dalam bahasa Jawa artinya celana kan? Yahh ini seakan menggambarkan sifat Wak Katok sendiri, di kampungnya Wak Katok berlagak dan dianggap sebagai jubah raja namun dia hanyalah celana biasa. Dia brengsek sok keren tapi hanya pengecut luar biasa dan kabarnya sih tokoh Wak Katok ini tereferensi dari sosok Bung Karno langsung. Yah pantas saja saya menangkap kesan “pemimpin kharismatik” lewat gaya Mochtar Lubis mendeskripsikan Wak Katok, langsung saja saya membayangkan bila Harimau! Harimau! diangkat menjadi sebuah film yang memerankan Wak Katok adalah Lee Sung Jae ajusshi hehehe.

Wak Katok

Kekhawatiran umum pada cerita yang menampilkan banyak tokoh adalah tokoh lain hanya menjadi tempelan belaka. Tokoh utama Harimau! Harimau! adalah Buyung tapi Mochtar Lubis pun sangat berhasil menghidupkan enam karakter lain apalagi kesemua karakternya sangat berbeda satu sama lain dengan latar belakang serta dosa yang berbeda pula. Novel ini berakhir seperti The Raid 1 dengan tetap tidak meninggalkan kesan sederhana seperti awalnya. Kesederhanaan ini membuat amanat yang ditawarkan Harimau! Harimau! di ending menjadi tidak “wow” sebab terlalu eksplesit dan agak dipaksakan seperti saya memaksa mengartikan “Harimau dalam hati” maksud Pak Haji adalah diri manusia itu sendiri. Musuh utama manusia adalah diri mereka yang selalu terdorong untuk melakukan dosa. Sesederhana itu. Sederhana seperti dosa Buyung berzinah kepada Siti Rubiyah yang tidak terungkap melainkan hanya Tuhan, Rubiyah dan Buyung yang tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s