Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Sebuah Baper

Dibawah Lindungan Kabah

Hamka adalah sastrawan yang familiar apalagi setelah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck difilmkan. Bahkan ketika pertama kali kelas Kesusastraan dimulai, sudah ada perdebatan antara saya dan Raodah mengenai apakah Hamka dan Buya Hamka adalah sosok yang sama atau beda. Namun belum pernah sekalipun saya merasakan karya-karya Hamka. Awal mulanya saya hanya iseng menonton versi film Di Bawah Lindungan Ka’bah yang dibintangi Herjunot Ali dan Laudya Chintya Bella dan ketika melihat adegan CPR saya langsung berfikir bahwa benarkah Hamka memasukkan hal seperti ini dalam novelnya? Hingga akhirnya saya memutuskan membaca salah satu karya Hamka yang termahsyur itu sekaligus pertama kalinya saya membaca sastra buatan Hamka.

Sebab dikelas Kesusastraan pernah terjadi perdebatan mengenai perbedaan novel dan novelet, saya pun menyebut Di Bawah Lindungan Ka’bah sebagai jenis novelet sebab memang sangat tipis sekali. Saking tipisnya saya rasa “Sebuah kisah pilu mengenai kasih tak sampai antara Hamid dan Zainab” sudah cukup menjadi sinopsis singkat cerita Di Bawah Lindungan Ka’bah. Untuk saya novel ini tidak begitu bagus alias biasa saja. Tidak membawa perasaan apapun kepada saya baik itu senyum-senyum sendiri karena menikmati keromantisan atau merasakan kesedihan berujung air mata. Barangkali sebab novel ini terlalu polos yang mungkin sesuai zamannya. Tapi disitu pula saya menyadari bahwa Hamka lewat gayanya menulis masih mampu mengagetkan saya apalagi momen ketika saya membaca Di Bawah Lindungan Ka’bah merupakan momen-momen pergolakan hati saya terhadap seorang lelaki. Hamka paham betul bagaimana cara mengesankan para pembaca karyanya.

“Tetapi Tuan… kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk cinta.”

Lalu kembali saya membayangkan bahwa tuduhan teman-teman selama ini benar adanya, bahwa saya memang mencintainya.

Iya, saya memikirkannya. Iya, dia kerap kali masuk dalam mimpi saya.

Iya sekali, saya bahkan tidak peduli akan kekurangannya.

Iya sekali, seperti Zainab yang mencintai Hamid saya pun tertarik padanya sebab dia tentu tidak menarik bagi wanita pada umumnya.

Iya, sampai saat ini saya menolak menyebut perasaan ini sebagai perasaan cinta atau lebih tepat saya meragukan bahwa ini adalah cinta.

Kami adalah dua sosok yang sangat berbeda, “mustahil” adalah kata yang tepat berada diantara kami berdua. Tapi semakin mustahil semakin kuat pula sosoknya dalam ingatan saya. Semakin tidak jelas apa penyebab dia menetap dalam ingatan saya jika memang saya tidak mencintainya.

Sebagai seorang wanita saya mendekatinya seperti seorang lelaki. Sebab saya sangat ingin menjadi temannya dan mustahil jika saya menjadi pacarnya. Tapi yang terjadi justru tidak seperti yang saya harapkan bahkan kini mustahil rasanya jika saya menjadi temannya. Disini saya sangat ingin jujur padanya dan disini pula saya sadar betul bahwa saya adalah perempuan. Bahkan saya bukan temannya, serasa tiada hak bagi saya untuk jujur mengenai apa yang saya rasakan kepadanya.

Oh indahnya jika kami berteman jika kami akrab. Jika dia jatuh cinta kepada wanita lain dia akan menceritakannya kepada saya. Jika saya putus asa pada Tuhan dia akan meyakinkan saya agar kembali pada-Nya. Barangkali jika Zainab dan Hamid tidak terpisah oleh jarak mereka mungkin tidak akan meninggal semuda itu. Maka dari itu aku ingin bersamamu. Itu saja, bersama sebagai temanmu karena aku sadar kau terlalu suci untuk kunodai sebagai kekasihku.

3 pemikiran pada “Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Sebuah Baper

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s