Catatan Akhir Kuliah : Festival Teater Putih Abu-Abu Ke-7

FTPA7

Saya merasa bahwa Juni ini akan menjadi bulan Ramadhan yang paling kelam dalam hidup saya. Hampir semua kegiatan berstatus deadline terutama penyelesaian tugas-tugas menjelang UAS ke-2. Besar kemungkinan tidak menonton drama Korea tapi saya sudah menemukan sumber hiburan lain yakni Festival Teater Putih Abu-Abu ke-7 atau disingkat FTPA7. FTPA7 adalah festival teater yang melibatkan anak-anak SMA sebagai peserta dan kegiatan ini diselenggarakan oleh UKM paling prestisius di kampus saya, KOSASTER SIIN yang bergelut di bidang kesenian. Sebagai mahasiswa baru, senang sekali rasanya bisa berpartisipasi sebagai penonton FTPA7 meski saya hanya menonton empat dari sembilan pertunjukan yang ada😀. Maka dari itu saya jadi ingin membahas satu-persatu pertunjukan yang saya tonton dan saya menyukai semua penampilan mereka🙂

Pada Selasa sore 31 Mei saya menonton pertunjukan singkat berjudul “GAUL” yang dibawakan Teater SMEKSA ART dari SMKN 1 Polewali. Berdasarkan judulnya saja bisa ditebak bahwa pementasan ini membahas tentang pergaulan bebas yang berujung pada kehamilan salah satu pemain utama bernama Cicci’. Sayangnya pementasan ini jadi serba tanggung terutama dari naskahnya yang kurang berani menampilkan realita remaja di Polewali Mandar sebenarnya. Naskahnya datar, tidak ada dialog menohok nurani seperti yang saya harapkan. Tetapi untung saja aktor yang memerankan ayahnya Cicci’ berlakon dengan sangat baik. Aktingnya mampu menyelamatkan pementasan yang cenderung membosankan. Overall saya tetap menyukai penampilan SMEKSA ART, tetap menghibur dalam waktu yang termasuk singkat.

MA Nuhiyah Pambusuang

Di Rabu 1 Juni sore saya bela-belain menginap di rumah teman agar dapat menyaksikan seluruh penampilan perwakilan tiga sekolah tersisa yang belum pentas. Pertama ada penampilan Nuhiyah Art dari MA Nuhiyah Pambusuang dengan naskah “Siri’ dan Cemburu”. Asal tahu saja, orang-orang Mandar (garis keras) sangat menjunjung siri’ sebagai prinsip hidup dan diri mereka. Hal itulah yang coba divisualkan dalam pementasan ini, seorang Pua Hasanah yang sangat menjaga harkat martabat keluarganya harus menyerah melawan kecemburuan tak berdasar istrinya sendiri. Naskah yang sulit di mengerti dan bahkan saya bingung mengenai seorang Kindo Hasanah yang terlihat bijak di adegan pertama tapi berubah drastis jadi wanita cemburuan akut di adegan selanjutnya. Saya pun agak gagal menebak arah drama ini, saya pikir Hasanah dan The fabulous Haris akan dijodohkan namun justru menyorot antara Siri’ dan cemburu yang entah apa benang merah dari dua hal tersebut. Drama ini membuat saya nampak bodoh, saya seperti bukan orang Mandar saja.

Akting Haris dan cameo cerdas dari seorang bernama Alibaba menjadi titik humor tak terlupakan dari pementasan MA asal Pambusuang ini. Juga ketika Hasanah menangisi kepergian ayahnya, ya ampun nak saya jadi sedih.

MAN majene

Selanjutnya pementasan kedua jam delapan menampilkan naskah berjudul “Cinta Dimana?” oleh Sanggar Gamba Mamea dari MAN Majene. Sebuah kisah cinta segitiga antara Rubi’ah (Rabi’ah), Pu’ding dan Daeng yang mainstream namun dikemas sangat manis sekali. Adalah Rubi’ah, kembang desa yang mencintai seorang pemuda keterbelakangan mental bernama Pu’ding. Rubi’ah dalam duka nestapa yang membelenggunya ketika seorang Daeng kejam berusaha keras untuk menikahinya, belum lagi sosok Pu’ding yang sama sekali tidak mampu membantu karena keterbatasannya membuat Rubi’ah semakin putus asa. Karena tidak ingin Pu’ding dibunuh Daeng dan juga Rubi’ah kekeuh tidak ingin menikahi Daeng, Rubi’ah membunuh dirinya. Daeng yang melihat Pu’ding tengah berusaha “membangunkan” Rabi’ah langsung menikam Pu’ding sebab menuduh Pu’ding lah yang telah “menidurkan” pujaan hatinya itu. Tak lama berselang, menyadari kesalahannya Pu’ding pun menggorok lehernya sendiri. Semua penonton ngeri melihat properti darah dari leher Daeng yang terlihat sempurna.

Saya menyukai akting ketiga pemeran utama, chemistry yang mereka munculkan sungguh terasa kuat. Ketiga pemain punya titik memorable tersendiri seperti Rabi’ah dan pakaian dalamnya yang bermotif seperti macan. Sungguh saya dan penonton lain ketawa setengah mati ketika tiba adegan Rabi’ah melipat pakaian dalamnya itu. Kalau Pu’ding yang mengalungkan sebuah radiolama, akting lugunya mampu mengundang simpati. Sebenarnya pemeran Rubi’ah benama Rubiah, hanya saja tiap Puding datang kerumah kembang desa itu Pu’ding pasti memanggil Rubi’ah dan kembali tertawa keras terdengar dari penonton. Kalau Daeng menjadi aktor favorit saya, penonton kembali tertawa sekaligus jijik ketika Daeng justru mengolesi ludah Rubi’ah di wajahnya. Akting Daeng sungguh sangat bad-ass dan saya benar-benar suka yang seperti ini. Musik latarnya pun menyatu dengan kisah cinta mereka bertiga, pokoknya meskipun sad ending tapi naskah ini sungguh sangat manis❤

SMAN 2 Polewali

Saran saya untuk naskah terbaik harus diberikan kepada “Jahiliyah Modern” yang ditampilkan Teater Eja dari SMAN 2 Polewali (subjektif banget). Meski dipentaskan menjelang tengah malam namun hampir semua penonton yang saya lihat merasa terpukau dengan totalitas para pemain “primitif abad nuklir”. Penonton duduk lebih tegak agar dapat melihat jauh lebih jelas dan saya sama sekali tidak merasa rugi memilih berdiri di bgian belakang😀. Ceritanya sendiri menggambarkan orang-orang cerdas yang mengalami kerusakan otak dan menjadi primitif dibawah kepemimpinan wanita bernama Gutada alias Guru Tapi Dajjal. Epic banget, semua nama-nama pemain adalah akronim dari watak tokoh yang mereka mainkan. Ada Naswipamu yang merupakan anak buah Gutada , Fisteren dan Watri yang seorang protagonis. Naskah drama ini terbilang berat untuk dicerna karena menunjukkan kritik keras terhadap oknum tertentu terutama bagi mereka yang cerdas tapi tak beriman. Sangat banyak dialog membuat pementasan ini hampir membosankan. Banyaknya dialog pun menunjukkan hole, beberapa pemain terasa tidak konsisten dengan perkataan sendiri terutama Watri. Tapi akting Gutada sangat keren, pantas sekali mendapat ganjaran aktris terbaik😀 (subjektif lagi). Kalau saya suka dengan Naswipamu, dia adalah sososk lovable namun sayangnya berakhir tragis oleh kaum primitif itu sendiri. Semua pemain bekerja keras, pemeran utamanya sungguh sangat cerewet dan pemain lainnya seperti para primitif tidak berhenti untuk bergerak layaknya primitif. Semuanya dimanfaatkan dengan baik, bahasa primitif yang asal bunyi itu menjadi trending di kampus pagi ini. Kasihan untuk yang tidak menonton, let’s cheer “OHEEE!!!”

Betapa gembira saya jika tiap sekolah di Polewali Mandar memiliki sanggar teater seperti para peseta FTPA7 ini. Semuanya adalah bibit unggul, tinggal bagaimana Pemerintah Daerah mampu mengembangkan potensi dalam diri para pelajar berbakat yang ada. Semoga bisa bertemu dengan FTPA ke-8 dengan penataan yang lebih disiplin, kampus kita butuh orang-orang disiplin agar menjadi lebih baik dan memotivasi saya agar bangga berkuliah disana🙂

unasman ftpa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s