300 : Film Pertama dan Film Kedua

Artemisia

Pertama kali mengenal film ini ketika Arya Wiguna masih populer dulu hingga dibuatkan parodi adegan Raja Leonidas dengan salah satu epic scene nya di 300 bersuara Arya Wiguna “Demi Tuhan”. Ya emang pada dasarnya film 300 karya Zack Snyder ini populer sih meski saya justru lebih dulu mendapatkan film 300 : Rise of an Empire hehehe dan saya jadi sangat terlambat menonton 300.

300 Sparta

Film 300 yang rilis pada 2006 menceritakan tentang 300 pasukan sparta yang dipimpin Raja Leonidas tengah berperang melawan Persia. Dan sepeninggal pasukan Sparta ke medan perang, keadaan di Sparta sendiri cukup kacau dengan berbagai usaha yang ditempuh ibu Ratu (istri Leonidas) agar ada bantuan diberikan kepada suaminya. Intrik khas pun bermunculan seperti pengkhianatan salah satu pejabat Sparta kepada pemimpin Persia sekaligus musuh utama Leonidas di medan perang, Xerxes.

Cerita yang biasa-biasa saja dapat tertutupi dengan adegan aksi yang maksimal. Darah-darah berlebihan sudah seperti khas Zack Snyder yang nantinya akan digunakan jauh berlebihan lagi di Watchmen. Strategi perang para Spartan di film ini sudah cukup membuktikan bahwa Spartan itu tangguh. Ditambah lagi pemimpin mereka seperti Raja Leonidas merupakan seorang pemimpin penuh kharisma. Akting pemeran Leonidas menambah ketangguhan Sparta itu sendiri apalagi Xerxes sungguh merupakan pemimpin dengan dandanan aneh. Baru kali ini saya tidak terkesan dengan seorang villain maka jadilah 300 adalah filmnya Raja Leonidas

300 Rise of An Empire

Film “prekuel-sekuel” 300 pun rilis di tahun 2014 dengan judul 300: Rise of an Empire. Kenapa prekuel-sekuel? Bahkan saya pikir istilah prekuel-sekuel untuk film ini rasanya tidak tepat. Yang jelas film ini berlatar waktu para Spartan tengah dan sesudah berperang. Artinya 300 yang ini tidak bercerita tentang pasukan Sparta lagi melainkan tentang pasukan Yunani yang sedang terbawa suasana heroik para Spartan. Dibawah kepemimpinan Themistocles, pasukan laut Yunani berperang melawan pasukan Persia dibawah kepemimpinan ketua angkatan laut Persia, seorang wanita seksoy nan mematikan bernama Artemisia.

Ohya Zack Snyder tidak lagi berada di kursi sutradara melainkan pindah tempat yang kalau tidak salah di penulisan skenario. Tapi tidak bisa ditampik jika banyak dejavu 300 dalam film ini disertai beberapa penambahan cerita. Disini akhirnya terungkap mengenai kematian ayah Xerxes yang dibunuh Themistocles dan peristiwa inilah yang mengubah Xerxes menjadi orang kejam dengan penampilan khasnya yang super aneh. Kebencian Xerxes semakin kuat berkat hasutan Artemisia, seorang asli Yunani yang mengabdi pada Persia karena masa lalunya yang begitu kelam. Jika film sebelumnya berfokus pada Leonidas vs Xerxes, maka 300 Rise of an Empire melibatkan antara Themistocles vs Artemisia.

Kharisma Themistocles tidaklah secetar Leonidas. Maka dari itu untung saja ada Artemisia yang bengis sekaligus dilematis. Sosok Artemisia membuat film ini jadi semakin menarik meski tak bisa dipungkiri film 300 masih punya kelebihan tertentu. Tetapi saya lebih menyukai film 300: Rise of an Empire ini. Kenapa? Karena film ini membuat saya merindukan pasukan Sparta. Film ini membuat saya menyadari betapa tangguh pasukan Sparta, perasaan ini begitu kuat bahkan jauh melebihi perasaan ketika menonton para Spartan di film pertamanya. Maka bisa ditebak adegan favorit saya di film kedua ini adalah adegan terakhir. This is Spartaaaaaaa!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s