Film : November 1828 (1979)

November 1828
Saya tidak bisa membayangkan betapa luar biasa bila Teguh Karya berkarya di jaman sekarang~

Teguh Karya adalah anti mainstream. Dan ketika beliau menangani cerita sekaligus menyutradarai November 1828, maka “film perang” ini sungguh sangat berbeda dengan film sejenis lainnya. Memang tidak tepat untuk mengatakan November 1828 adalah “film perang” meski tak bisa dipungkiri kesan pertama penonton tentang film ini pasti tak jauh-jauh dari dua kata bertanda kutip tersebut. November 1828 akan sangat membosankan bila kita mengharapkan tembakan juga ledakan berlebih. Tapi sekali lagi, November 1828 adalah sajian yang berbeda dan berbedanya itulah yang membuat film ini tetap kekinian meski kita sudah sangat terlambat untuk menontonnya.

Dengan latar waktu peperangan Diponegoro, pasukan Belanda datang ke sebuah desa demi mencari keberadaan Sentot yang merupakan kaki tangan Diponegoro. Pasukan Belanda di film ini berbeda dari biasanya bahkan cenderung bersikap lunak terhadap warga desa yang notabene sebagian besar penduduknya adalah pendukung Diponegoro. Pasukan Belanda lebih memilih menunggu warga desa untuk buka mulut mengenai tempat persembunyian Sentot ketimbang mencari keberadaan Sentot secara langsung. Bahkan jauh lebih dalam lagi terjadi pergolakan batin dengan dua pimpinan pasukan Belanda yang berayah Belanda dan beribu Jawa. Rasanya jarang sekali melihat film Indonesia dengan kemampuan luar biasa mengeksplor karakter seperti yang telah dilakukan November 1828

November 1828 memiliki dialog yang dalam dan menambah kekinian dari film ini juga menambah dalam penguatan karakter itu sendiri. Akting-akting pemain pun juga bagus dan saya paling kagum dengan akting om Rachmat Hidayat sebagai demang yang berkhianat kepada Belanda. Logat Jawa nya sungguh nyata hehehe. Juga Slamet Rahardjo, El Manik, Jenny Rachman, Maruli Sitompul dll. Karena film ini termasuk anomali industri maka saya sempat berpikir bahwa film ini tidak akan terlalu berhasil di ajang penghargaan. Eh ternyata bahkan menjadi film terbaik FFI 1979. Congrats, semoga saya tidak begitu terlambat untuk mengucapkannya.

Mumpung filmnya ada di Youtube, ayo menonton November 1828. Jika menganalisa lebih detail film ini akan menghasilkan banyak sekali hal untuk dibahas makanya enggan bagi saya membahas lebih lanjut. Hehehe intinya, Jer Basuki Mawa Bea. Sungguh betapa dalam makna kebudayaan Jawa itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s