Film Korea : The Handmaiden (2016)

The Handmaiden

Judul dalam negeri The Handmaiden (Pelayan Wanita) sendiri adalah Agassi (Nona). Berdasarkan kenyataan yang ada di filmnya, judul Korea tersebut saya pikir lebih tepat. Ini merupakan kisah dari nona yang mana akhirnya ia menemukan kebahagiaan lahir batin dari seorang pelayan wanita pribadinya #eaaa. Eh judul lokal dan interlokal (?) saling berkaitan hehehe.

Oh ya ide cerita The Handmaiden berasal dari novel karangan Sarah Waters berjudul “Fingersmith”. Mengingatkan saya dengan “An Untold Scandal” apalagi filmnya sama-sama untuk adult. Settingnya di tahun 1930-an, masa-masa Jepang Korea. Jangan lupa, sutradara film yang ikut Festival Cannes ke 69 ini adalah Park Chan Wook (Oldboy). Dan saya pun lupa lupa ingat, apakah ada unsur balas dendam gila khas Park Chan Wook di The Handmaiden?

Agassi character

Rencana awal Baekjak (yang bernama Jepang Fujiwara) adalah mengajak Sook Hee bekerjasama untuk menaklukkan hati nona Hideko agar ingin menikahi Baekjak. Jika berhasil maka otomatis Baekjak bakal kecipratan harta warisan nan melimpah ruah milik Hideko dan tentu Sook Hee akan mendapatkan komisinya. Untuk itu Baekjak meminta Sook Hee agar menyamar sebagai pelayan wanita pribadi Hideko bernama Tamago. Ya begitulah, sebagaimana rasa cinta pada umumnya telah menghancurkan rencana yang sudah tersusun rapi. Hideko dan Sook Hee menuntut kebebasan atas cinta yang mereka miliki dan happy ending hehehe.

Sebelum membahas yang lain-lain, saya ingin memuji gambar maupun musiknya sangat indah sekali. Bak perpaduan A Frozen Flower serta In the Realm of the Senses, keduanya balance dengan amat lembut dan saya lupa waktu ketika menontonnya. Saya pikir film berdurasi nyaris dua setengah jam ini akan terasa membosankan tapi ternyata tidak sama sekali. Sungguh luar biasa.

Ha jung woo agassi
Ceritanya Baekjak-nim disini pandai melukis. Hehehe peran ini memang terlahir untuk Ha Jung Woo

Film ini tidak serumit film Park Chan Wook yang lain bahkan di beberapa sisi mudah untuk menebak sikap apa yang selanjutnya akan diambil oleh para tokoh utama. Mengesampingkan adegan sesama wanita yang bikin geli, film ini adalah film yang indah. Penggarapannya amat niat sesuai perfeksionis Park Chan Wook dan akting para pemain juga tak kalah bagusnya. Eh ada Lee Dong Hwi juga loh meski hanya kelihatan sebentar dengan peran yang sesuai dirinya. Semoga cepat move on dengan ambil peran berbeda yah.

Jo jin woong agassi Tamago

Transformasi Jo Jin Woong menjadi Paman Kouzuki sungguh luar biasa benar-benar terlihat seperti orang Jepang. Kouzuki ini bejatnya bukan main dan saya jadi gemas sendiri dengan akting prima Jo Jin Woong. Kalau Kim Tae Ri sudah saya bahas di post sebelumnya, dia sangat cantik sekali. Bahkan Kim Tae Ri tetap cantik ketika melakukan adegan panas bersama Kim Min Hee.

Hideko scene
Ini adegan apaan?? Bejat banget kelihatannya -_-

Rasanya ini pertama kali bagi saya melihat akting Kim Min Hee dan tak lama kemudian ia pun tertimpa skandal perselingkuhan bersama salah satu sutradara favorit saya -_-. Meski tidak cantik-cantik amat tapi aktingnya tetap keren ditunjang dengan Kim Tae Ri yang stunning. Meski menggunakan cinta dua wanita sebagai objek, The Handmaiden bagi saya berhasil menunjukkan “The Power of Love” dengan cara berbeda. Tampil eksplisit sungguh sangat khas Park Chan Wook sekali terutama adegan Paman Kouzuki dan Fujiwara di ending film. Enggak rumit, enggak ada balas dendam gila. Semua jadi luluh karena cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s