Catatan Saya Selama PIFAF 2016

LOL baru kali itu ada cowok yang meluk bahu saya :p
LOL baru kali itu ada cowok yang meluk bahu saya :p

Catatan ini dibuat demi berjaga-jaga jika saja tulisan saya nantinya dimuat di salah satui surat kabar lokal di Polewali Mandar. Namun berhubung tulisan saya nyatanya tidak dimuat, maka lebih baik saya posting disini saja.

***

31 Agustus 2016

Sesuai berita acara PIFAF yang saya dapatkan, hari ini dijadwalkan
pada jam 8 pagi para peserta PIFAF menjalani acara penanaman Mangrove
di Desa Galeso kemudian dilanjutkan dengan acara “Gathering
Relationship and Games Attraction Tourism” di Pantai Mampie. Sekitaran
jam 8, saya sudah tiba di pantai Mampie dan suasana pantai masih sepi.
Bahkan butuh waktu lama berdiam di pantai agar bisa melihat para
panitia pengurus pantai mulai sibuk menyusun kursi di salah satu
gazebo.

Jam 9 lewat, kami sementara meninggalkan pantai menuju ke tempat
penanaman mangrove (bakau). Terlihat sudah banyak polisi berdatangan
mengamankan acara hingga pada jam 9.30 rombongan peserta PIFAF menaiki
4 bus pariwisita Polewali Mandar akhirnya tiba di lokasi. Perwakilan 5
Negara yakni Rusia, Rumania, Bangladesh, Korea Selatan dan Indonesia
terlihat begitu bersemangat menjalani kegiatan ini. Mereka berfoto
gembira dengan mangrove yang telah mereka tanam juga berfoto bersama
beberapa pejabat daerah salah satunya Camat Wonomulyo.

Kegiatan lalu dilanjutkan di pantai Mampie. Usai penyambutan singkat
dari Bupati Polewali Mandar, dilanjutkan dengan para peserta PIFAF
bermain permainan Mammaling. Sepantauan saya, babak penyisihan pertama
mempertemukan tim Rumania melawan tim Rusia. Mudah saja bagi tim
Rumania yang berisi pria tinggi besar mengalahkan tim Rusia yang
berisi para remaja. Dan dilanjutkan dengan Malaysia melawan Korea
Selatan yang entahlah saya tidak menemukan tim Bangladesh. Pertarungan
tim lelaki dari Malaysia dan tim perempuan dari Korea Selatan
dimenangkan dengan mudah oleh tim Malaysia. Dan tiba di pertarungan
final antara Malaysia melawan Rumania. Sebuah pertarungan alot yang
beberapa kali diwarnai protes oleh tim Rumania. Permainan seru ini pun
dimenangkan oleh tim Rumania, mereka mendapatkan bingkisan berupa
boneka porda Polewali Mandar.

Saatnya Free time. Pengunjung di Pantai Mampie kian memadat dan mereka
semangat meminta foto bersama dengan para turis. Pelayanan pantai
mampie jadi dibuat lebih istimewa untuk para turis ini. Bagi mereka
yang hidup dengan gaya barat, pakaian minim para bule yang berenang di
pantai menjadi tontonan para warga sekitar. Bak ironi, mereka menonton
para bule berenang beserta anak-anak mereka dan seringkali berseloroh
kata-kata yang kurang pantas diucapkan orang tua untuk anak mereka
yang masih kecil. Pendidikan usia dini bukan persoalan sepele sebab
tentunya akan membawa pengaruh pada perkembangan mereka. Lalu
dimanakah kesadaran ini? Dimanakah kesadaran bersama? Entahlah, saya
sendiri meyakini bahwa pertanyaan ini akan abadi. Ditengah hiruk pikuk
ajang internasional seperti PIFAF, Polewali Mandar masih harus terus
berbenah agar masyarakat tak hanya ramah dan berbaik hati pada turis
belaka.

Maka free time bagi para turis yang berlangsung berjam-jam ini pun
diselingi dengan pelepasan tukik oleh para turis. Simbolis yang bagus
dengan Sulawesi Barat yang sedang serius-seriusnya mengelola wisata
bahari.

Untuk saya acara hari ini cukup berjalan lancar. Salah satu dari Turis
Malaysia yang kami wawancai mengatakan bahwa ia cenderung bosan untuk
terus makan dan tidur selama di hotel. Namun ia merasa senang selama
berada di Polewali Mandar. Sampai bertemu di Opening Ceremony besok
soalnya saya penasaran dengan Tim Bangladesh karena sering panitia
sendiri menyebut mereka sebagai India.

***

1 September 2016

Hari pertama berlangsungnya PIFAF 2016 sudah mulai sibuk sejak pagi
tadi namun saya baru bisa menonton pada saat acara malamnya
berlangsung sekitar jam 8 malam. Tidak jauh dari panggung PIFAF yang
terletak di sekitaran gedung olahraga Polewali, tenda-tenda yang
sebelumnya saya lihat dipenuhi para PNS kini berubah menjadi
stand-stand penjual beragam barang dengan harga obral. Dan seperti
biasa, yang paling banyak mengundang perhatian masyarakat adalah
penjual obat beserta atraksi sulapnya.

Saya mendapatkan tempat di sisi kanan panggung utama PIFAF. Berbeda
dengan informasi dari jadwal yang beredar, PIFAF 2016 malam ini tidak
hanya melibatkan para tim penari rakyat dari dua negara melibatkan
tiga negara langsung diantaranya India, Malaysia dan Rusia. Entah
apakah ini kerja kepanitiaan yang kurang baik dalam memberikan
informasi ataukah masing-masing perwakilan penari dari Bangladesh
maupun India turut berpartisipasi dalam PIFAF 2016? Entahlah. Untuk
hal lain, sangat menarik serta patut dipuji melihat kesanggupan
panitia PIFAF menyediakan dua layar slide di sisi kanan kiri panggung
untuk memudahkan penonton yang jauh dari panggung utama agar tetap
bisa melihat dengan baik.

Penampilan Internasional pertama berasal dari Tim India. Menampilkan
seorang penari wanita tunggal dan sepantauan saya tarian yang ia
bawakan termasuk tarian kepercayaan bagi umat Hindu. Disitu letak
keunikan dari sebuah tarian, bahasanya universal dan banyak ditujukan
menyambung kepada Tuhan maupun sesama. Saya tidak bisa tidak tersentuh
mendengar alunan tabla, sebuah penampilan yang indah.

Sebagai sesama Melayu, apa yang ditampilkan Tim Malaysia dari Sanggar
Citra Budaya bukanlah hal yang asing. Medley tarian ditampilkan mereka
dengan sangat baik dan berhasil menghibur para penonton termasuk saya
sendiri. Ada tarian Zapin, tarian Songket hingga tarian kotemporer
yang bertujuan mempromosikan “Visit Malaysia” pada khalayak Polewali
Mandar. Menghibur hingga saya ingin melihatnya lagi.

Penampil negara terakhir berasal dari Rusia bagian Utara yang
berbatasan langsung dengan Mongolia. Paras mereka yang sangat Asia
berhasil mengecoh banyak penonton hingga mereka disangka berasal dari
Jepang atau Korea Selatan. Mereka membawakan sebuah tarian ritual
dalam budaya mereka, sebuah tarian yang tidak membutuhkan banyak
teknik seperti dua tarian India dan Malaysia sebelumnya. Menurut
keterangan MC, tarian rakyat tersebut bertujuan sebagai penyambung
antara roh nenek moyang dengan masyarakat demi mendapatkan keselamatan
dan kemaslahatan umat. Rasanya tidak ada tarian semacam ini di Mandar
dan menarik melihat apa yang ditampilkan para penari Rusia sekaligus
mengenali budaya mereka lewat sebuah tarian. Setelah menari, para
penari wanita kembali ke panggung dan menyanyikan beberapa lagu rakyat
yang dalam budaya mereka bertujuan menyambung silaturahmi antar
sesama.

Selain penampil negara dengan membawakan beberapa tarian rakyat
mereka, acara malam PIFAF 2016 juga diselingi Grand Final Lomba
Festival Lagu Daerah untuk Putra dan Putri. Panggung PIFAF menjadi
sangat ramai berkat penampilan Wakil Walikota Palu yang kita ketahui
bersama adalah jabatan Bapak Sigit Purnomo alias Pasha Ungu saat ini.
Pasha tampil membawakan dua lagu daerah Palu dan membawakan beberapa
lagu hits Ungu serta bernyanyi bersama Bapak Gubernur, Wakil Gubernur
juga Bapak Bupati. Dalam hal kekompakan penonton rasanya masih kurang
yang mungkin disebabkan karena tiadanya Floor Director bagian pengarah
penonton. Apapun itu, semoga pertukaran budaya yang coba digalangkan
acara ini bisa berhasil.

***

pifaf-wonomulyo

2 September 2016

Hari ini saya tidak punya agenda liputan malam. Saya bertugas menonton
street performance tim India, Malaysia dan Rusia di Alun Alun
Wonomulyo. Apakah karena keterlambatan sudah sangat lumrah terjadi di
Indonesia, rombongan yang dijadwalkan berangkat jam 2 siang justru
molor beberapa jam hingga akhirnya mereka baru tiba sekitar jam 4
sore. Tetapi antusias para warga tidaklah surut, area lapangan tenis
penuh oleh masyarakat sampai pagar pembatas yang berwarna hijau
dipanjat banyak anak kecil.

Penari negara pertama berasal dari India dan penampilannya hari ini
berbeda dengan yang ditampilkan malam lalu. Berbalut sari berwarna
merah jambu, alunan musik yang terdengar kontemporer dan tak lupa
senyum manis sang penari tunggal, sejujurnya saya lebih menyukai
penampilannya hari ini ketimbang malam kemarin.

Dilanjutkan Malaysia dengan tarian yang sama dengan malam kemarin
ditambah sebuah tarian baru. Mereka mengenakan kostum berbeda berwarna
keemasan dan membuka tarian dengan properti mirip Wayang dari
Indonesia. Tetap menghibur, khas Malaysia sekali.

Dan pada saat performa Reog Ponorogo dari Indonesia, sayangnya saya
harus pulang lebih dulu sehingga harus melewatkan penampilan dari Tim
Rusia yang sepintas terlihat memakai kostum berbeda berwarna kuning.

***

3 September 2016

Di hari ke-3 malam penyelenggaran PIFAF 2016 yang bertepatan dengan
weekend membuat sekitaran Stadion S Mengga berubah menjadi lautan
manusia. Saya lama berada di area parkir dan saya melihat betapa
petugas parkir mulai dari yang berseragam hingga yang hanya berkaos
oblong harus bekerja ekstra keras malam itu. Barisan motor telah
tertata rapi, jalanan menjadi sempit seiring meledaknya antusiasme
para warga berduyun-duyun menuju area Stadion S Mengga. Dengan keadaan
sesak semacam ini, sangat tidak sarankan bagi mereka yang merasa
kurang fit untuk menonton PIFAF 2016 di akhir pekan.

Berhasil memasuki area stadion, destinasi pengunjung terbagi menjadi
dua; ke panggung utama menonton pagelaran PIFAF 2016 atau bisa juga
mengunjungi stand pasar malam dengan tawaran harga obral. Ketika
sebagian besar penonton PIFAF 2016 memilih menjauhi panggung dan hanya
menonton lewat layar besar yang disediakan panitia sehingga tidak
sesak, bedanya pengunjung stand pasar malam justru harus
berdesak-desakan demi melihat barang apa saja yang dijajakan oleh para
pedagang. Akhir pekan membuat pengunjung membludak dan saya penasaran
keuntungan seperti apa yang dicapai pedagang di akhir pekan tersebut
bila dibandingkan di hari-hari lainnya.

Penampil negara malam itu diantaranya India, Korea Selatan dan
Rumania. Terlihat sekali antusias penonton jauh lebih tinggi saat para
tim luar negeri tampil ketimbang tim dalam negeri yang tampil.
Penonton yang mulanya menyebar kini mendekat ke panggung terlebih saat
Korea Selatan yang diwakili Sanggar Tari Kim Aekyung tampil membawakan
tiga tarian rakyat khas negeri mereka. Pertama yaitu tarian musim semi
sebagai wujud kegembiraan akan karunia hasil panen yang hanya dapat
diperoleh di musim semi sebab Korea Selatan termasuk negara yang
memiliki empat musim diantaranya musim semi, musim panas, musim gugur
dan musim dingin. Kedua adalah tarian para petani yang akan memulai
panen. Ditarikan oleh para lansia perempuan dengan cukup enerjik,
masing-masing dari mereka membawa alat musik pukul dan dalam gerak
tarian beberapa kali bergaya seperti petani yang tengah mencangkul
tanah. Dan tarian terakhir sebagai tarian kepercayaan penghubung roh
leluhur dengan masyarakat. Kesannya lebih mistis namun tetap indah.
Menarik melihat penampilan tarian rakyat Korea Selatan yang tak jauh
berbeda latar belakang tariannya dengan tarian Indonesia. Sebagai
sesama Asia yang sama-sama menjadikan nasi sebagai makanan pokok,
tiap-tiap negeri punya kisah dan cara tersendiri dalam mengekspresikan
apa yang mereka rasakan lewat sebuah tarian.

***

5 September 2016

Pagelaran kebudayaan PIFAF 2016 yang diikuti 5 negara ini resmi
berakhir. Tercatat para undangan luar negeri telah meninggalkan
Polewali Mandar pada 4 september lalu. Maka untuk meresmikan penutupan
PIFAF 2016, panitia menyiapkan acara pamungkas lainnya berupa Grand
Final Tomalolo Tomakappa 2016. Berkonsep seperti ajang Abang None di
Jakarta, ajang Tomalololo Tomakappa diikuti muda-mudi dari berbagai
kecamatan di Polewali Mandar. Meski diselenggarakan di awal pekan
namun masyarakat sangat semangat untuk menonton terutama muda mudi
yang memberikan dukungan pada teman mereka diatas panggung.

Ajang bergengsi di Polewali Mandar ini menunjuk 3 juri yang
berkompeten. Masing-masing 20 Tomalolo dan 20 Tomakappa di eliminasi
di atas panggung hingga tersisa masing-masing 10 perwakilan saja.
Acara jadi berlangsung seru saat sesi tanya jawab 10 besar Tomalolo
dan Tomakappa dimulai. Ada yang menjawab dengan percaya diri, sangat
gugup dan dominan para peserta menjawab pertanyaan dengan amat
singkat. Sepantauan saya, hanya ada satu peserta dari Tomakappa yang
benar-benar menjawab pertanyaan dengan baik hingga mendapat tepuk
tangan dari penonton.

Maka yang masuk 10 besar disaring lagi menjadi 3 besar. Hingga
terpilihlah Tomakappa bernama Arif Budianto dan Tomalolo Nandasari.
Selamat kepada para pemenang, semoga dapat mengemban amanah Pemerintah
Daerah dalam memajukan Polewali Mandar di sektor pariwisata. Harapan
kita semua tentu tidak hanya dari sektor pariwisata tetapi juga sektor
lainnya termasuk pendidikan. Mengutip jawaban dari salah satu
Tomakappa yang sayangnya tidak menjadi juara, Polewali Mandar tak lupa
harus berbenah dari segi Sumber Daya Manusia. Kita sudah punya modal
Sumber Daya Alam berupa kekayaan bahari yang bahkan diakui
keindahannya oleh tamu-tamu luar negeri PIFAF 2016, selanjutnya untuk
merawat serta menjaga SDA ini dibutuhkan SDM yang berkualitas dalam
memperjuangkan lingkungan hidup sehat maupun hal lainnya. Ini bukan
hanya tugas finalis Tomalolo Tomakappa melainkan tugas kita semua.

***

pifaf-closing

Ya, barangkali saja ini PIFAF saya yang ertama sekaligus yang terakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s