Setelah (Akhirnya) Menonton Film Atheis 1974

atheis

Achdiat, lewat karyanya ini, berhasil menggebrak masa-masa pengangguran saya yang dipenuhi keputus-asaan. Desember, tiga tahun lalu, saya mengkhatamkan roman ini dan terkadang masih terbayang-bayang hingga sekarang pertanda saya belum sepenuhnya move on. Tanda-tandanya berupa pencarian file film adaptasi roman Atheis tahun 1974 di Youtube. Tiga tahun lalu jangankan film, cuplik adegan yang biasa diupload di channel Sanggar Cerita saja tidak ada. Sekarang Alhamdulillah… Akhirnyaaa…

Film karya sutradara Sjumandjaja ini memiliki sub judul “Kafir” dan dibintangi oleh Deddy Sutomo sebagai Hasan, Kusno Sudjarwadi sebagai Rusli, Emmy Salim sebagai Kartini dan tak lupa salah satu aktor favorit saya yakni Farouk Afero sebagai Anwar. Komposisi yang sejak lama bikin saya penasaran ini akhirnya tertuntaskan dengan penuh kepuasan, mengingat saya memang tidak berharap banyak pada versi filmnya. Benang merah film Atheis ini masih sama dengan romannya dan apa yang ditambah pada versi film bagi saya berhasil menjadi sebuah kelebihan, ya termasuk adegan ketika Rusli nyaris khilaf pada Kartini. Itu annoying tapi masuk akal hehehe. Dan juga pada pertemuan pertama antara Hasan dan Rusli, ketika Rusli menyebut astaga maka Hasan menyebut astagfirullah hehehe. Karakter Hasan pada versi film ini pun tidak serapuh Hasan versi roman, pas sekali dengan tampilan Hasan a la Deddy Sutomo. Ya kecil-kecil beliau sudah mencari kaki langit. Kece kan? Nah, tapi harus saya akui, pergolakan batin Hasan versi roman tetap yang paling greget.

Paling luar biasa adalah film jadul dengan durasi dua setengah jam ini, dengan pertimbangan betapa buruk kualitas suara maupun gambar yang di Youtube itu, justru tidak membuat saya merasa bosan saat menontonnya. Saya menikmati akting Deddy Sutomo dan Kusno Sudjarwadi dengan baik, ya padahal selama membaca novelnya saya justru membayangkan tokoh Rusli itu berperawakan seperti aktor favorit saya lainnya, Dicky Zulkarnaen hehehe efek fangirl. Untuk Emmy Salim, meski tidak secetar Kartini dalam bayangan saya selama ini, beliau juga berakting baik. Lewat penampilan singkatnya, Christine Hakim tetap memikat dengan tertawanya yang amat renyah itu. Nah Farouk Afero lah yang paling juara disini, maka bayangan saya saat membaca novelnya menjadi kenyataan. Semoga bayangan lain, berupa restorasi dengan biaya yang mahal itu, bisa segera terkabul.

2 pemikiran pada “Setelah (Akhirnya) Menonton Film Atheis 1974

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s