Tentang “Happy Old Year” (2019) Sesingkat-singkatnya

Sebagai yang bukan pengikut perkembangan sinema Thailand namun begitu menikmati menonton Bad Genius, poster film Happy Old Year yang menampilkan wajahnya Lyn dengan rambut pendek tentu bikin saya penasaran. Sungguh, saat kesempatan untuk menonton itu datang saya tak sia-siakan. Padahal tidak tahu sama sekali ini film tentang apa.

Film dibuka dengan kamera menyorot seluruh ruangan yang serba putih hingga memberi kesan bahwa ruangan ini didesain gaya minimalis. Jadi kayak lokasi syuting film-film seni yang mengandalkan sinematografi gitu hehe. Rumah ini dimiliki oleh Jean yang tengah diwawancarai mengenai keberhasilannya mewujudkan sebuah rumah minimalis. Ditanyai perihal dikemanakannya barang-barang yang sebelumnya mengisi rumah dan bagaimana cara membuang barang yang tak terpakai, Happy Old Year menjawabnya lewat flashback yang menjadi isi utama dari film ini.

Rumah Jean memang seperti ruko, terasa sesak akibat kelebihan barang-barang. Ingin membikin kantor pribadi di rumahnya sendiri, maka Jean berinisiatif membereskan rumahnya membuatnya minimalis dengan cara membuang barang-barang yang dianggap tak diperlukan lagi. Membuang kenangan yang menempel di barang tersebut. Merasa bersalah karena membuang beberapa barang yang merupakan hadiah dari orang lain, Jean mengubah caranya dengan mengembalikan barang-barang tertentu ke orang-orang yang dulu memilikinya. Jadi kayak ada alasan untuk kembali menghubungi teman-teman lamanya, baik yang masih berhubungan baik hingga yang terakhir kontakan berujung kesalahpahaman. Hmmm termasuk mantan pacar Jean. Di satu sisi bagus juga kembali menjalin silaturahmi dan di sisi lain muncul perasaan memang ada orang-orang tertentu yang sebaiknya tidak usah dicari lagi. Pokoknya emosional sekali.

Penonton film Thailand tentu tahu siapa aktor ini, ya saya enggak hehe

Mulai dari bagaimana gaya kamera menyorot serta berpindah, penggunaan warna-warna yang tidak mencolok jadi terkesan sederhana, Happy Old Year dikemas dengan perasaan-perasaan indie itu hehe. Menyelami kehidupan Jean yang penuh dilema baik pada teman-teman bahkan keluarganya, ya saya ikut merasakan emosi itu. Di awal-awal film, bahkan ketika adegannya tidak lucu, saya tertawa terbahak-bahak melihat proses Jean memasukkan barang-barangnya ke kantong sampah. Ya saya tertawa akibat membandingkan dengan saya sendiri yang tidak bisa membuang sesuatu begitu saja. Jadi Happy Old Year merupakan tipikal film yang sehabis menontonnya kamu akan kembalikan ke dirimu. Film ini berhasil relate dan menjadi dekat kepada penontonnya yaitu saya.

Barangkali saking menikmati celetukan Jay adik Jean yang senantiasa lucu, saking ikut terbawa perasaannya saat Jean menghadapi mantannya hingga ayahnya, saya jadi heran saat beberapa orang menyebut film ini membosankan mereka.

Sebelumnya saya pernah sedikit membaca buku best sellernya Marie Kondo berjudul “The Life-changing Magic of Tidyng Up”. Waktu itu merasa takjub saat tahu hal yang dianjurkan KonMari untuk dilakukan adalah membuang barang-barang. Di menit awal film Happy Old Year mengingatkan saya dengan buku tersebut. Dan rupanya film ini memang terinspirasi dari buku itu, film ini menurut saya hadir sebagai tanggapan sang sutradara mengenai hasil pemikiran KonMari. Meskipun sebenarnya dalam film tidak pernah disebutkan secara jelas nama KonMari, di beberapa adegan Happy Old Year, credit khusus untuk KonMari diberikan mulai dari adegan adik Jean membeli buku terjemahan bahasa Thailand The Life-changing hingga menonton tayangan yang menampilkan KonMari. Saya menangkap bahwa sang sutradara tidak sepenuhnya setuju dengan ide membuang barang a la KonMari. Lebih lanjut, adik Jean menyebut si orang Jepang penulis buku beres-beres rumah sebagai “iblis berwujud malaikat” dan saya ngakak dibuatnya.

Saya menilai film ini bagus dengan terlalu emosional ya hmmm gimana lagi ya film ini memang tak bisa dilewatkan. Film yang bisa bikin merenung.

2 tanggapan untuk “Tentang “Happy Old Year” (2019) Sesingkat-singkatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s