Mandar yang menjadi harga diri

Menjanjikan lahirnya tulisan kedua yang ujungnya tak kunjung dikeluarkan itulah yang menjadi masalah, terlebih saat sudah lupa ingin menuliskan apa. Btw kok ya bisa menggebu-gebu ditulisan pertama itu? Ya karena, sebenarnya, selain dirasa perlu juga karena mempelajari Mandar ini merupakan salah satu mata kuliah saya di semester 6. Alhamdulillah kelompok saya sudah naik diskusi jadi sudah agak lega dan bisa mengerjakan tugas yang lain.

Judul di atas terinspirasi dari kemenangan perwakilan Sulawesi Selatan di LIDA, ya serumpunnya Sulawesi Barat atau lagi-lagi perwakilan Sulawesi menang di acara kontes dangdut. Sudah bukan hal yang mengherankan lagi sebenarnya bahwa Sulawesi terkesan tak bosan ingin menjadi artis tampil di tv atau semacamnya dengan menjadi juara satu. Namun apa yang dirasakan ternyata lebih dalam dari itu, tak sekadar ingin menjadi artis, para pendukung dari Sulawesi ini lebih menekankan ke arah harga diri. Jadi bayangkan bila yang menang justru dari daerah lain, pasti harga diri yang dimaksudkan ini akan merasa kalah tak kuat lagi. Sebagai seorang Sulawesi, Ah saya mampu membayangkannya.

Berkaitan dengan harga diri dan rasa malu, di Mandar sendiri ada yang namanya siri dan lokkoq. Siri bisa diandaikan dengan kentut di depan umum maka lokkoq lebih ekstrim lagi dengan apa yang kita rasakan bila ditampar di depan umum. Tentu kedua perasaan malu itu memiliki taraf berbeda dan inilah yang dijunjung orang Sulawesi, apalagi yang Mandar seperti saya. Mempertahankan harga diri terlebih jika mengorbankan nyawa dirasa perlu, ya hal hal semacam itu. Menjunjung tinggi kebenaran adalah segalanya, seperti ayahnya Doel yang menasehati Doel agar selalu jujur, Mandar itu begitu.

Iklan

Mandar itu Underrated yang Baru Saja Saya Sadari

Memang ada yang mengatakan bahwa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tapi untuk hal yang satu ini, sebagai orang Mandar, saya sangat keterlaluan.

Banyak yang tahu bahwa asal saya dari Sulawesi, tanpa tahu tepatnya di Sulawesi Barat dan lebih tidak tahu lagi bahwa saya orang Mandar. Lah bagaimana orang mau tahu kalau yang bersangkutan pun cuek dengan asal usulnya? Duh, saya amat menyesal kenapa sejak dulu dulu saya kurang mempelajari Mandar, terlebih saya orang yang suka belajar Sejarah. Mungkin saya bisa disebut orang tanpa jati diri, benar-benar saya tak paham tentang Mandar. Lalu saya berpikir bahwa saya yang ada sekarang ini (dengan blog ini) adalah salah satu akibat sebab tak pernah perhatian dengan budaya sendiri.

Wajah saya sering disalah-pahami orang sebagai wajah orang Jawa. Tapi saat saya mulai bicara akhirnya ketahuan juga kalau saya Mandar. Apalagi aksen saya sangat Mandar Campalagian sekali, yang kadang-kadang malu untuk saya keluarkan sebab aksen Mandar Campalagian kerap ditertawakan bahkan oleh orang Mandar dari daerah lain. Lalu, orang-orang di Sulawesi Barat masih lazim menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu mereka, tapi bahasa ibu saya adalah bahasa Indonesia sebab meski saya Mandar Campalagian, saya tinggal di Wonomulyo yang merupakan salah satu simbol kemajemukan di Sulawesi Barat. Hmmm hal tersebut tetap saja kan bukan alasan untuk saya tidak memperhatikan Mandar dalam diri saya?

Saya semakin kesulitan dalam mengenali diri. Dari buku-buku perpustakaan SD, saya malah mendapati fakta bahwa Sultan Hasanuddin yang heroik dan Huruf Lontara yang saya pelajari di Muatan Lokal bukanlah dari Mandar. Ditambah dengan guru saya sewaktu SMP selalu saja mengatakan bahwa orang-orang Mandar itu belum ada yang menerbitkan buku, buku-buku di perpustakaan SMP itu kebanyakan ditulis orang Jawa, begitu katanya. Sampai tibalah pada masa saya SMA, saya study tour untuk pertama kalinya dan mengunjungi Museum Mandar di Majene. Disitulah saya mulai berpikir bahwa ternyata Mandar tidak secupu dalam pikiran saya, Mandar juga punya sejarah sendiri di luar Bugis juga Makassar, Mandar juga melawan Belanda, punya kerajaan dan punya pahlawan. Intinya Mandar underrated, kisah-kisah yang saya dengarkan dari apa yang saya dapatkan di Museum sampai Galung Lombok layak untuk diketahui satu Indonesia. Tetapi, lagi-lagi, pikiran ini kandas, berlalu, apalagi saya jadi anak IPA di SMA. Ya lagi-lagi bukan alasan. Sejarah G 30 S lebih menarik, Bung Karno, Soeharto, novel dan cerpen, bahkan menjalani hari hari di SMA memaksa diri memahami Matematika Fisika Kimia yang tak kunjung saya pahami itu. Sekelumit yang saya tahu tentang Mandar hanya penyanyi dan lagu-lagunya, Saleh AS, Rasti Rahman, Iccang Kalena, Mentari Musik, Irama Baru Records yang kesemuanya masih ada unsur Sulawesi Selatan nya. Sayang sayang modern semua akrab di telinga, lagu To Pole Di Balitung baru saya ketahui adanya saat kuliah. Bersamaan dengan mengetahui betapa kompleksnya sejarah Mandar, dengan ditulisnya tulisan ini, setelah mengunjungi Museum Mandar yang ke-2 kalinya.

*bersambung*

Tidur ya Tidur

Jaman sekolah rendah dulu, saya nyaris tak pernah tidur siang karena banyak tontonan favorit tayang di jam siang tersebut. Paling indah tepat jam 9 malam saya bergegas tidur saking semangatnya bangun pagi untuk bersekolah. Lalu segalanya berubah, disiplin itu sudah tak ada lagi, sekarang saya kacau bukan main, apalagi sejak SMA sampai menganggur bahkan paling berantakan saat kuliah.

Salah satu kegemaran saya adalah berpura-pura memejamkan mata alias pura pura tidur. Itu saya lakukan agar lebih bisa rileks menuju tidur yang sebenarnya. Tapi sekarang, terkadang sangat susah untuk tidur bahkan sehabis melakukan itu. Atau yang lebih lemah lagi, saya bahkan sudah terlelap begitu saja. Dulu yang anti tidur di sembarang tempat sekarang gampang tidur di sembarang tempat. Saya yang biasa kuat begadang sekarang sudah ngantuk tiap masuk jam 10 malam, menguap kemana-mana. Bagus sih bisa tidur awal tapi ya tetap aneh saja rasanya. Sekarang saya sudah punya hobi tidur, tidur sedikit-sedikit, dalam keadaan tak tenang. Oh tukang tidurnya saya.

Menjadi Aktor (Part 1)

Pengalaman panggung pertama saya terjadi pada waktu itu, masih kecil sekali saya menyanyi lagu Boneka India di acara karaoke 17-an, saya menyanyi mempercayakan diri atas tugas itu. Detailnya saya lupa.

Lalu kini, saya memulai semuanya lagi dari nol. Panggung adalah tempat yang asing dan yang kelak lebih besar dibanding panggung 17-an dulu itu. Banyak aktor mengatakan bahwa mereka merasa kecil saat baru pertama kali akan naik panggung. Sementara saya meyakini jika mereka menyebut diri sebagai kecil maka saya adalah kerdil. Saya akan disaksikan oleh mereka yang bermata tajam di depan panggung sedang saya sendiri hampir tidak percaya bahwa saya akan naik panggung lagi.

Rintangan dalam membentuk keaktoran itu kian nyata dan hanya kerja keraslah yang mampu menebusnya. Saya tidak menyangka bahwa membaca naskah akan seberat ini, bagaimana jika sudah naik panggung nanti. Membaca naskah jauh berbeda dari membaca novel yang berkonflik seru. Tidak asal mengeraskan suara, ada dinamika yang tiap penempatannya harus jeli, beberapa tone harus mampu mewakili karakter yang dibawakan. Tak ada tantangan yang tak berat dan ini tugas yang berat.

Lantas saya semalam menyadari sesuatu. Saya mempunyai tone berbeda pada saat membaca naskah dengan saat berbicara pada orang yang saya sukai. Pada saat berbicara dengan orang yang disukai, lepas tak ada nada sumbang yang kerap saya keluarkan saat membaca naskah. Lalu apakah tugas menjadi aktor ini terasa amat beratnya akibat diri saya sendiri yang belum merasakan cinta? Tanpa cinta diri saya terasa hambar sehingga terasa dua kali susahnya dalam mendalami karakter? Ah untuk saat ini saya meyakininya dulu, tidak ada pilihan lain selain bekerja keras. Mengharap Tuhan meridhoi jika memang sudah saatnya cinta datang menghampiri.

Kesan Mendapatkan C Pertama dan Seterusnya

Mengurut nilai nilai abjad dari semester satu hingga sekarang, rata-rata A adalah dewa, rata-rata B adalah noda dan satu dua nilai C adalah plak, mengganggu tatanan estetis KHS yang selama ini hanya dihiasi A dan B. Kemudian perasaan jengkel mahasiswa tersebut akhirnya mengenai saya. Apesnya dosen yang memberikan nilai C itu mengampu dua mata kuliah sekaligus maka saya mendapatkan dua C hehehe, masing masing dengan kasus ketidak-hadiran yang berlebihan dan tugas tugas yang tidak masuk. Padahal saya termasuk yang paling rajin menginput tugas dan tugas email saya terkirim, eh tapi saya melewatkan UTS mata kuliah tersebut, ya emang layak dapat C deh hehehe.

Saya tipe mahasiswa kupu kupu yang pesimistis sama dunia kampus. Apabila dosen dosen memutuskan batal masuk, saya asik dengan dunia saya sendiri. Tidak berkegiatan, tidak berorganisasi (hanya berkomunitas) dan tidak dikenali dosen tapi selalu mengusahakan selalu input tugas lebih cepat supaya tidak kerepotan di kemudian hari (ah belum ngerjain tugas). Semester 5 yang lalu memang kacau, rasa jenuh atas atmosfer kampus beserta dosen yang kelewat suka jarang masuk semakin mengasikkan saya dengan dunia yang lain. Tiap masuk kuliah selalu dengan perasaan tidak semangat, mengantuk tak tertahankan. Bahkan ketika saya melewatkan UTS mata kuliah dapat C ini, penyesalan yang saya rasakan hanya sesaat, saking sibuknya dengan dunia lain. Hingga akhirnya C itu datang dan menjadi plak dalam KHS saya, mana ada dua lagi hehehe. Lagi lagi penyesalan yang datang hanya sesaat, kepada prinsip sendiri saya tak pantas untuk kecewa atas hasil ini, dengan kata lain  I deserve that C. Hikmahnya saya bisa menyebut diri sebagai mahasiswa sejati, dengan mendapat C, padahal saya mahasiswa kupu kupu, kan epic hihihi.

Menambah C saya tak mau lagi meski membangun rasa cinta terhadap kampus sungguh tak mungkin lagi. Cinta cinta eh sudah minta judul hhahahaha.