Film India : October (2018)

Jika kau menyebut film festival di luar film India sebagai jenis film yang high class, maka October adalah film India yang high class




Saya sudah terbiasa dengan film India yang semakin baru justru semakin tidak seperti film India. Menonton October membuat perasaan-perasaan seperti itu muncul kembali, tetapi tetap syok memikirkan betapa mudah jalan negara-negara Barat bila hendak membuat remake dari film ini. Hanya ganti pemain dan ganti bahasa. Maka dari itu lebih lazim untuk kaget mengapa India bisa membuat film seperti ini. Terus benarkah October sama sekali tidak memiliki unsur ke-India-an di dalamnya?

Film October bercerita tentang penjaga pasien rumah sakit bernama Dan. Ia yang bengal di tempat kerjanya sebagai pelayan hotel jadi makin bengal dengan sering bolos dari pekerjaannya demi teman kerjanya di hotel yang sama yang kini terbaring koma karena sebuah insiden. Selayaknya cerita-cerita sejenis, October punya banyak pelajaran hidup yang alangkah baiknya diresapi langsung oleh penonton. Sekaligus agar semakin banyak orang yang merasakan sesak-tak-terperi atas konfliknya, yang meng-India-kan October sebagai sebuah film India.

India, lewat Shoojit Sircar, sangat suka bermain perasaan. Konflik yang disajikan cenderung biasanya, saking biasanya bahkan penonton masih bisa merenungi konflik yang tersaji dalam October saat masih menonton, lebih-lebih sangat bisa memuji kemajuan demi kemajuan yang ditunjukkan Varun Dhawan sebagai aktor. Panggilan Dan yang sangat tidak India itu merupakan karakter tempramental yang Varun Dhawan banget, bisa dikatakan versi soft nya Varun di Badlapur. Varun kembali berhasil mengikat saya, betapa Varun sangat ahli apabila memainkan karakter emosional seperti Dan sembari meratapi Dan yang sedikit mirip dengan saya. Saya masih perlu banyak belajar, salah satunya dari Dan

Judul October berkaitan dengan kelahiran sang tokoh wanita yang mengalami koma. Betapa Dan seakan mengabdikan seluruh hidupnya demi kesembuhan si wanita yang diambang kematian. Bahkan kepada bunga melati yang bertebaran di poster maha indah itu.

Iklan

Tembak Aku Day6

Yang Jeong In Stray Kids hehehe bukan

Sebagai anomali JYP, DAY6 kembali menggebrak saya lewat mini album part 1 nya bertajuk Shoot Me. Nah yang juga jadi judul lagu ini hasilnya bagus sekali, lagi lagi DAY6 mempersembahkan karya memuaskan. MV nya juga bagus.

Lagu Shoot Me yang punya sub judul Vicious Words Hurt Like A Bullet ini rasa-rasanya punya pesan yang hendak ditujukan kepada haters, selayaknya lagu Korea jaman sekarang. Di MV nya, bertempat di cafe seorang perempuan membentuk pistol dengan tangannya dan berhasil menembak telak lawan bicaranya, ya aktor yang mirip IN di atas. Lalu orang lain yang juga di cafe ikut-ikutan perempuan itu tadi dengan tangan membentuk pistol hingga laki-laki itu tertembak penuh kesakitan. Endingnya yang cakep, si laki-laki hendak membalas atas serangan yang ia terima dengan mengulurkan tangan. Bukannya tangan si laki-laki ikut membentuk pistol melainkan tangannya terlihat hendak menjabat. Nah orang-orang yang menyerang tadi mulai tersadar, gambar di MV nya jadi terlihat lebih cerah seperti mengganti efek kamera aplikasi foto di android mu.

Day6 jjang, bahkan lagu selain Shoot Me juga enak didengar. Semoga kali ini rejeki mereka first win amiin.

Film India Gangs of Wasseypur

Ramadir Singh, dalam usahanya menjadi penguasa di Wasseypur harus menghadapi lawan berat mulai dari anak hingga cucu dari Shahid Khan. Lalu siapa Shahid Khan itu? Ia merupakan mantan perampok kereta api yang kemudian jadi kaki tangan Ramadir sendiri. Suatu hari Ramadir menguping pembicaraan Shahid yang berniat ingin membunuh Ramadir bila sudah saatnya dan malam itu juga Ramadir mendahului niat Shahid. Seakan menjadi petaka bagi Ramadir, ia harus berhadapan dengan Sardar Khan kemudian Faizal Khan. Untuk nama yang terakhir sungguh tak memberikan ketenangan bagi Ramadir di masa tuanya.

Film ini berhasil mengiming-imingi banyak penonton yang baru akan menonton dengan sebutan (entah dari mana) sebagai The Godfather nya India. Film ini populer bahkan di luar kalangan penyuka film India, seperti saya, waktu itu. Dan semakin berniat menonton saat lagi gandrung-gandrungnya sama om Nawazuddin Siddiqui di Kahaani. Film dua bagian ini disutradarai oleh Karan Johar nya film thriller yakni Anurag Kashyap hehehe. Habisnya Anurag, seperti Karan, juga sudah mencoba berakting waktu itu sebagai polisi jahat di film My Name is Akira hehe.

Jika hendak memirip-miripkan Gangs of Wasseypur (I & II) dengan The Godfather (I & II), saya tertarik dengan masing-masing perbedaan ayah dan anak dalam memimpin gang mereka. Di The Godfather, Don Vito sebagai ayah dan Michael sebagai anak punya warna kepemimpinan yang sangat jauh berbeda. Vito yang kalem juga kharismatik itu begitu disegani oleh lawan-lawannya terutama yang hendak meminta tolong dengannya. Hal yang tak dimiliki oleh Michael ini membuat beberapa rekan ayahnya malah berbalik arah, membuat Michael tersinggung bahkan cenderung brutal dalam tiap-tiap pengambilan keputusan. Terlebih lagi pernikahannya tak berjalan mulus. Nah sifat-sifat Michael inilah yang memiripkannya dengan Sardar Khan, anak tunggal dari Shahid Khan yang baru saja dibunuh oleh Ramadir. Dalam usaha pembalasan dendamnya pada Ramadir, Sardar Khan bersumpah tidak akan menumbuhkan rambutnya hingga Ramadir tewas ditangannya.

Sardar dengan berbagai kekerasan yang dijalaninya mulai menyusun strategi hendak melumpuhkan pertambangan batu bara Ramadir. Akhirnya setelah sekian lama Sardar berhasil menjadi orang paling ditakuti di Dhanbad, termasuk Wasseypur. Kehadiran Sardar membuat Ramadir ngeri, meskipun pada anak buahnya ia menampik bahwa Sardar tidak ada apa-apanya dengan Shahdid Khan, ayah Sardar yang telah dibunuh Ramadir. Disamping itu selain Ramadir, keturunan Shahid Khan juga harus mendapatkan musuh tambahan dari keturunan Sultana yang kini berkoalisi dengan Ramadir.

Dalam kekuasaan ditangannya, Sardar seakan lupa pada niat awalnya melenyapkan Ramadir. Setelah menikah pun Sardar masih saja jatuh cinta dan memperbanyak keturunannya. Setelah Sardar penghabisan, anaknya yakni Faizal Khan yang melanjutkan peran ayahnya menguatkan keluarga Khan sebagai gang ternama. Sebagai pengganti ayahnya, Faizal musti menanggung dendam bahwa orang yang melenyapkan kakek juga ayahnya masih hidup di luar sana. Faizal lebih terfokus ingin segera melenyapkan Ramadir, keluar masuk penjara bahkan juga berniat menjadi politisi demi menyaingi Ramadir. 

Dibandingkan dengan Sardar, Faizal terlihat lebih penyayang keluarga. Faizal menyayangi ibunya dan setia pada wanita yang ia taksir di bioskop. Lalu impian untuk membunuh Ramadir oleh keluarga Khan akhirnya terwujud di tangan Faizal dan Gangs of Wasseypur pun jadi pertarungan antara keluarga yang takkan pernah usai.

Sisi lain film India yang terpercaya adalah Anurag Kahsyap. Jika keluarga Bhatt lebih ke thriller erotisnya maka Anurag punya pengalaman bermacam-macam menangani film yang tak jauh-jauh dari pembunuhan juga persaingan antar gang. Seperti yang lain saya juga sepakat mengatakan bahwa Gangs of Wasseypur itu film bagus, sebagaimana pendekatan budaya India lebih terasa oleh orang Indonesia sebagai sesama Asia. Pesannya sudah jelas, jika ingin hidup damai maka janganlah memicu dendam.

Faizal Khan tidak bertumbuh besar dengan kebanggaan seorang ayah terhadap anaknya, sebagaimana kurangnya interaksi Nawazuddin dan Manoj di film ini. Perbedaan besar kepemimpinan ayah-anak ini sangat menarik untuk diikuti, belum lagi akting pemain yang bagus dalam film dua bagian yang jika ditotal bisa sampai 5 jam ini. Nonton deh bunuh-bunuhan di India ini, tak seindah India dibayanganmu sebelumnya.

Novel Titik Temu Karya Ghyna Amanda adalah Delusi yang Elegan




Hasil tak begitu penting, yang terpenting adalah proses. Nah, seperti itulah novel Titik Temu karya Ghyna Amanda.

Mojok selaku penerbit melakukan promosi novel terbaru mereka berjudul Titik Temu. Sinopsisnya yang menyebutkan kisah cinta remaja perempuan Belanda dengan seorang dokter pribumi berlatar suasana pasca kemerdekaan Indonesia membuat saya menjerit terobsesi untuk segera membacanya. Premis yang indah juga terlihat sesuai selera ini diterbitkan oleh Mojok, kolaborasi mencengangkan dan tak boleh dilewatkan. Ohya di awal saya langsung teringat dengan novel karangan Yanti Soepomo berjudul Queen of the East maha underrated itu

Sophie Kuhlan dan Andjana Ranggawangsa, itulah nama mereka. Saya pikir, Ghyna Amanda tidak akan seliar saya dalam mendelusikan couple lintas budaya ini. Tapi yang saya dapati saat membaca novelnya, Ghyna tidak hanya liar namun juga elegan dalam berdelusi. Tidak norak seperti saya hahaha (syukurlah banyak cinta-cintaannya hehe). Novelnya bagus sekali, proses rumit menuju penyatuan mereka sangat membaperkan pembaca, apalagi saya. Hanya sayang sama endingnya yang lagi-lagi memakai ending khas novel romance-period (?) jadi agak mengurangi keeleganan novel ini. Tetap saja bagus kok wajib baca deh.

Saking wajibnya membaca Titik Temu, novel ini sejatinya tidaklah sedelusi yang saya gambarkan di sini. Ghyna punya pesan yang hendak ia sampaikan, lewat karyanya lagi lagi ia membuktikan betapa berharga manusia, tidak ada yang sia sia sebab sesama manusia saling membutuhkan, lewat cinta dan kepercayaan yang memupuknya.

Selamat menikmati novel ini. Kepolosan Sophie sebagai gadis 17 tahun dan si tua Andjana berumur 37 tahun merupakan hubungan yang istimewa lagi romantis tapi complicated sekali. Oiya Sangat tidak disarankan untuk membaca yang di bawah tulisan peringatan ini.

Dokter Andjana Ranggawangsa dalam imajinasi saya adalah sosok Takeshi Kaneshiro di film The Crossing sebab mereka berdua sama-sama tokoh dokter di masa peperangan. Buat saya membicarakan Takeshi Kaneshiro itu sensitif. Ia adalah delusi di semester awal saya merasakan diri menjadi pengangguran. Takeshi Kaneshiro membuat saya terobsesi dengan lelaki tua, sebagaimana perbedaan usia 20 tahun antara Andjana dan Sophie sementara saya dan Takeshi bertambah tua 2 tahun dari rentang waktu mereka. Lalu bertemu lagi yang sejenis Takeshi Kaneshiro dalam diri Dokter “Adjie” Andjana tentulah mengungkit masa lalu, sebuah gejolak terhadap lelaki tua yang makin tua malah makin ganteng. Dorongan oedipus complex kian liar, delulu menyebut-nyebut Aniki sebagai suami, kegemaran terhadap tampilan tua Takeshi dengan janggut, kharisma Takeshi sebagai lelaki tua begitu meluluhkan. Lantas realita menyadarkan, lelaki tua tapi hot seperti Takeshi Kaneshiro itu selebriti, dokter pribumi yang tua seperti Andjana Ranggawangsa hanya ada di novel.

Dawuk adalah Novel Kesukaan Saya

Mahfud Ikhwan atau yang biasa saya sebut sebagai Mas Dushmanduniyaka adalah salah satu orang yang membuat saya menjadi penggemar berat film dan lagu India. Terutama lagu India, saya yang biasanya malu mendengarkan lagu itu kini sudah tak malu lagi, bahkan barusan keras-keras memutar lagu Jaab Hum Jawan Honge, salah satu soundtrack dari novel Dawuk yang merupakan karya sastra terbaru persembahan Mahfud Ikhwan.

Awal perkenalan dengan Mahfud lewat blog India nya sungguhlah saya tidak tahu bahwa Mahfud seorang sastrawan. Di luar kegemaran beliau sebagai Mas Dushmanduniyaka, ternyata Mahfud sudah aktif mengeluarkan beberapa buku termasuk yang hits novel Kambing dan Hujan, tapi belum baca sih hehe. Dengan mengorbankan biaya ongkir muahal dari Jogja ke Polewali Mandar, akhirnya novel yang saya cita-citakan berjudul Dawuk itu saya beli dan hamdalah selesai saya baca. Sudah cetakan kedua, wah wah

Dawuk yang tipis lagi merakyat itu menimbulkan dampak yang besar bagi saya, terutama tiga pertanyaan ujung tulisan masih berkesan sampai sekarang. Judul artikel ini dipermantap dengan kesukaan saya terhadap Dawuk yang punya banyak quote. Tak afdol rasanya jika hanya mengutip quote satu kalimat di Dawuk, harus dua atau tiga kalimat sebab saling berkaitan, pertanda Dawuk, yang tipis itu, padat berisi seperti tubuhnya Ina Indomelek, hehe.

Mat Dawuk hadir sebagai antihero dengan wajah mengerikan, bahkan saat tersipu malu pun masih saja kelihatan jelek, kalau bagi Warto Kemplung saja jelek apalagi bagi kita ya hahaha. Nah nama yang terakhir itu, Warto Kemplung itu adalah kesukaan saya di Dawuk. Gayanya meminta kopi kepada pemilik warung sembari pelan pelan menyomot rokok orang lain, ia lakukan dengan keren. Tapi tak terbayangkan apabila bertemu Warto Kemplung di dunia nyata, pasti menyebalkan sekali heh

Sayang sekali, tulisan ini cenderung mainstream, tak sedahsyat rasa suka saya terhadap novel ini. Sungguh, bukan karena novel ini ditulis oleh Mas Dushmanduniyaka yang membuat saya menyukainya, hanya Dawuk memang ajaib, klise tapi menggemaskan. Terutama lembar pasca interval dalam bualannya Warto Kemplung, tensi saya sebagai pembaca justru tak turun malah semakin seru. Apa adanya tanpa keren-kerenan dengan sejenis twist pun sungguh ending bukunya saya suka. Buku ini, saya suka.

Langsung Nonton atau Menunggu Tamat, Saya Tetap KKN


Kegalauan antara menonton langsung atau tidak Mr Sunshine dan Life akhirnya terjawab juga. Bulan Agustus yang merupakan bulan sibuk untuk menonton kedua serial itu adalah bulan jadwal KKN saya tahun ini, ya mungkin September baru balik. Itupun tetap saja disibukkan dengan membuat laporan KKN, hal yang bikin sumpek senior saya sepulangnya mereka dari KKN. Otomatis baru akan menonton keduanya ya saat akan ada waktu luang, entahlah kapan semoga tidak ditelantarkan seperti Secret Forest juga. Hmm harus siap terima spoiler nih hikseu.

Btw poster karakternya Life menampilkan Lee Dong Wook, mungkin saja tokoh utamanya juga dia. Ahh terserah sajalah. Kalau Byun Yo Han yang berperan jadi playboy bikin saya penasaran akan bagaimana dia di Mr Sunshine. Ganteng sih, siap siap cuci mata juga sehabis KKN. Mohon doanya ya agar dilancarkan amiin.

Film Sairat Sesingkat-singkatnya

Malam ini saya mendengarkan soundtrack upcoming Bollywood movie berjudul Dhadak yang merupakan remake dari film berbahasa Marathi berjudul Sairat. Niat sekali sih ya soundtracknya Dhadak yang melibatkan Ajay Gogavale, Shreya Ghoshal dan Ajay Atul yang kesemuanya itu merupakan pengisi soundtrack Sairat. Maka suasana di title track Dhadak ini sungguh sangat Sairat sekali. Apalagi lagunya bagus. Duh saya membayangkan bahwa remake ini diusahakan tak akan jauh-jauh dari originalnya.

Otak dibalik remake ini adalah Kim Eun Sook nya India, om Karan Johar yang menduduki posisi sebagai produser. Remake persembahan Karan Johar sebelumnya yang saya ingat adalah Brother hasil remake dari film Barat berjudul Warrior. Sebuah remake yang berhasil menurut saya, Brother melengkapi apa yang tidak ada di film originalnya. Lalu apakah Dhadak juga akan begitu? Dengan mengcasting adiknya Shahid Kapoor dan anaknya almh. Sri Devi? Lupa siapa namanya. Yang perlu diingat bahwa Dhadak meremake Sairat, sebuah kisah klise yang terselamatkan karena penggarapannya juga chemistry apik dua pemainnya.

Sairat adalah kisah Romeo Juliet yang jauh dari hingar bingar ibukota, pun juga main castnya jauh dari idaman layar Bollywood pada umumnya. Namun saya tak akan melupakan betapa elegan pengambilan gambar serta musiknya yang sangat orkestra itu. Sairat begitu mengagumkan sekaligus agak membuat malu, mengapa film daerah di India justru jauh lebih niat ketimbang film ibukota di Indonesia.

Hal utama yang tak akan terlupakan oleh penonton Sairat adalah endingnya yang maha realistis. Sairat menampilkan India yang saya baca selama ini di situs berita kriminal, mengerikan. Hanya bisa mengelus dada tak rela. Jadi penasaran akan bagaimana ending Dhadak dan yakin sekali bahwa chemistry couple Sairat tak akan tertandingi oleh versi Bollywood nya sekalipun. Hahahaha.