Setelah Menonton Raazi, Vicky Kaushal Ganteng Sekali

Raazi adalah film yang salah satunya diproduksi Dharma Productions, nama Karan Johar adalagi sebagai produser. Juga lagi-lagi bintangnya adalah rising star kesayangannya Karan, eneng Alia Bhatt. Oiya sudah menonton film The Ghaazi Attack yang juga dibuat Dharma Productions itu? Raazi ini kayak prekuelnya hehe

Lanjutkan membaca “Setelah Menonton Raazi, Vicky Kaushal Ganteng Sekali”

Iklan

Tiga Lagu Galau Kumar Sanu

Pertanda belum move on nya saya dengan Mohra adalah dengan terus mengulang video lagu Kash Kahin Aisa Hota


Saat suara Udit Narayan begitu gagah terdengar juga matching diwajahkan oleh aktor siapapun (terutama SRK) namun suara Kumar Sanu masih menempati ruang yang spesial di hati saya.

Lanjutkan membaca “Tiga Lagu Galau Kumar Sanu”

Film India : Mohra (1994)

Poster fanmade Mohra

Awalnya hanya berkenalan dengan lagu Ae Kash Kahin Aisa Hota di televisi. Dalam sekali dengar lagu itu membuat saya jatuh cinta pada Akshay Kumar yang bersuara Kumar Sanu. Akshay Kumar terlihat patah hati, Raveena Tandon kelihatan bersedih dan Naseerudin Shah sangat like a boss dibalik permainan pianonya. Karena keepikan di video klipnya itu saya jadi sangat ingin menonton filmnya yang Lanjutkan membaca “Film India : Mohra (1994)”

Film India : 3 Deewarein (2003)

3 Deewarein diotaki oleh Nagesh Kukunoor yang juga ikut bermain di film ini, sebagai salah satu terpidana hukuman mati. Sebab namanya yang paling asing diantara Juhi Chawla, Jackie Shroff dan Naseeruddin Shah itu, saya googling dan akhirnya menemukan salah satu karya filmnya yang terbaru adalah film berjudul Rainbow tentang dua orang anak yang berjuang agar bertemu Shahrukh Khan. Ternyata itu garapan beliau juga ya hehehe

Teen Deewarein dari cover saja sudah sangat Shawshank Redemption sekali. Memang ada segelintir dari 3 Deewarein yang terinspirasi langsung dari Shawshank Redemption, namun perbedaan dari kedua filmnya lah yang membuat film India ini layak untuk ditonton. Bercerita tentang tiga terpidana hukuman mati yang dijadikan objek dari sebuah film dokumenter mengenai kehidupan penjara dalam sudut pandang mereka. Ada Jackie Shroff yang gemar berpuisi namun membunuh istrinya sendiri, ada Nagesh Kukunoor yang mendorong istrinya ke jalanan hingga tertabrak mobil dan Naseerudin Shah perampok pembunuh pegawai bank yang sedang hamil tua. Tak lupa kreator dokumenter yang diperankan Juhi Chawla juga berusaha mengulik apa yang membuat ketiganya harus dihukum seberat itu. Ada beberapa misteri yang hendak disembunyikan dan saya puas sama endingnya.

Disini kelihatan sekali betapa menggodanya om Naseerudin Shah membawa karakternya. Saya belum pernah lihat si om memerankan karakter suami yang gemar selingkuh sih, sejauh ini hanya sebagai aktor genit tak bertanggung jawab di Dirty Picture. Kalau Jackie Shroff suaranya merdu sekali membacakan puisi dalam bahasa Inggris. Hingga akhirnya yang mengagetkan terjadi di ending berkaitan dengan karakternya Juhi Chawla yang sedari awal mencurigakan. Film ini dengan kesederhanaannya, ditonton dalam keadaan mengantuk hingga sempat tertidur, sungguh film yang bagus. Jadi kikuk begini tulisannya karena tidak membicarakan ending. Ya ini pilihan, yang penting coba nonton dulu deh.

Film India : October (2018)

Jika kau menyebut film festival di luar film India sebagai jenis film yang high class, maka October adalah film India yang high class




Saya sudah terbiasa dengan film India yang semakin baru justru semakin tidak seperti film India. Menonton October membuat perasaan-perasaan seperti itu muncul kembali, tetapi tetap syok memikirkan betapa mudah jalan negara-negara Barat bila hendak membuat remake dari film ini. Hanya ganti pemain dan ganti bahasa. Maka dari itu lebih lazim untuk kaget mengapa India bisa membuat film seperti ini. Terus benarkah October sama sekali tidak memiliki unsur ke-India-an di dalamnya?

Film October bercerita tentang penjaga pasien rumah sakit bernama Dan. Ia yang bengal di tempat kerjanya sebagai pelayan hotel jadi makin bengal dengan sering bolos dari pekerjaannya demi teman kerjanya di hotel yang sama yang kini terbaring koma karena sebuah insiden. Selayaknya cerita-cerita sejenis, October punya banyak pelajaran hidup yang alangkah baiknya diresapi langsung oleh penonton. Sekaligus agar semakin banyak orang yang merasakan sesak-tak-terperi atas konfliknya, yang meng-India-kan October sebagai sebuah film India.

India, lewat Shoojit Sircar, sangat suka bermain perasaan. Konflik yang disajikan cenderung biasanya, saking biasanya bahkan penonton masih bisa merenungi konflik yang tersaji dalam October saat masih menonton, lebih-lebih sangat bisa memuji kemajuan demi kemajuan yang ditunjukkan Varun Dhawan sebagai aktor. Panggilan Dan yang sangat tidak India itu merupakan karakter tempramental yang Varun Dhawan banget, bisa dikatakan versi soft nya Varun di Badlapur. Varun kembali berhasil mengikat saya, betapa Varun sangat ahli apabila memainkan karakter emosional seperti Dan sembari meratapi Dan yang sedikit mirip dengan saya. Saya masih perlu banyak belajar, salah satunya dari Dan

Judul October berkaitan dengan kelahiran sang tokoh wanita yang mengalami koma. Betapa Dan seakan mengabdikan seluruh hidupnya demi kesembuhan si wanita yang diambang kematian. Bahkan kepada bunga melati yang bertebaran di poster maha indah itu.

Film India Gangs of Wasseypur

Ramadir Singh, dalam usahanya menjadi penguasa di Wasseypur harus menghadapi lawan berat mulai dari anak hingga cucu dari Shahid Khan. Lalu siapa Shahid Khan itu? Ia merupakan mantan perampok kereta api yang kemudian jadi kaki tangan Ramadir sendiri. Suatu hari Ramadir menguping pembicaraan Shahid yang berniat ingin membunuh Ramadir bila sudah saatnya dan malam itu juga Ramadir mendahului niat Shahid. Seakan menjadi petaka bagi Ramadir, ia harus berhadapan dengan Sardar Khan kemudian Faizal Khan. Untuk nama yang terakhir sungguh tak memberikan ketenangan bagi Ramadir di masa tuanya.

Film ini berhasil mengiming-imingi banyak penonton yang baru akan menonton dengan sebutan (entah dari mana) sebagai The Godfather nya India. Film ini populer bahkan di luar kalangan penyuka film India, seperti saya, waktu itu. Dan semakin berniat menonton saat lagi gandrung-gandrungnya sama om Nawazuddin Siddiqui di Kahaani. Film dua bagian ini disutradarai oleh Karan Johar nya film thriller yakni Anurag Kashyap hehehe. Habisnya Anurag, seperti Karan, juga sudah mencoba berakting waktu itu sebagai polisi jahat di film My Name is Akira hehe.

Jika hendak memirip-miripkan Gangs of Wasseypur (I & II) dengan The Godfather (I & II), saya tertarik dengan masing-masing perbedaan ayah dan anak dalam memimpin gang mereka. Di The Godfather, Don Vito sebagai ayah dan Michael sebagai anak punya warna kepemimpinan yang sangat jauh berbeda. Vito yang kalem juga kharismatik itu begitu disegani oleh lawan-lawannya terutama yang hendak meminta tolong dengannya. Hal yang tak dimiliki oleh Michael ini membuat beberapa rekan ayahnya malah berbalik arah, membuat Michael tersinggung bahkan cenderung brutal dalam tiap-tiap pengambilan keputusan. Terlebih lagi pernikahannya tak berjalan mulus. Nah sifat-sifat Michael inilah yang memiripkannya dengan Sardar Khan, anak tunggal dari Shahid Khan yang baru saja dibunuh oleh Ramadir. Dalam usaha pembalasan dendamnya pada Ramadir, Sardar Khan bersumpah tidak akan menumbuhkan rambutnya hingga Ramadir tewas ditangannya.

Sardar dengan berbagai kekerasan yang dijalaninya mulai menyusun strategi hendak melumpuhkan pertambangan batu bara Ramadir. Akhirnya setelah sekian lama Sardar berhasil menjadi orang paling ditakuti di Dhanbad, termasuk Wasseypur. Kehadiran Sardar membuat Ramadir ngeri, meskipun pada anak buahnya ia menampik bahwa Sardar tidak ada apa-apanya dengan Shahdid Khan, ayah Sardar yang telah dibunuh Ramadir. Disamping itu selain Ramadir, keturunan Shahid Khan juga harus mendapatkan musuh tambahan dari keturunan Sultana yang kini berkoalisi dengan Ramadir.

Dalam kekuasaan ditangannya, Sardar seakan lupa pada niat awalnya melenyapkan Ramadir. Setelah menikah pun Sardar masih saja jatuh cinta dan memperbanyak keturunannya. Setelah Sardar penghabisan, anaknya yakni Faizal Khan yang melanjutkan peran ayahnya menguatkan keluarga Khan sebagai gang ternama. Sebagai pengganti ayahnya, Faizal musti menanggung dendam bahwa orang yang melenyapkan kakek juga ayahnya masih hidup di luar sana. Faizal lebih terfokus ingin segera melenyapkan Ramadir, keluar masuk penjara bahkan juga berniat menjadi politisi demi menyaingi Ramadir. 

Dibandingkan dengan Sardar, Faizal terlihat lebih penyayang keluarga. Faizal menyayangi ibunya dan setia pada wanita yang ia taksir di bioskop. Lalu impian untuk membunuh Ramadir oleh keluarga Khan akhirnya terwujud di tangan Faizal dan Gangs of Wasseypur pun jadi pertarungan antara keluarga yang takkan pernah usai.

Sisi lain film India yang terpercaya adalah Anurag Kahsyap. Jika keluarga Bhatt lebih ke thriller erotisnya maka Anurag punya pengalaman bermacam-macam menangani film yang tak jauh-jauh dari pembunuhan juga persaingan antar gang. Seperti yang lain saya juga sepakat mengatakan bahwa Gangs of Wasseypur itu film bagus, sebagaimana pendekatan budaya India lebih terasa oleh orang Indonesia sebagai sesama Asia. Pesannya sudah jelas, jika ingin hidup damai maka janganlah memicu dendam.

Faizal Khan tidak bertumbuh besar dengan kebanggaan seorang ayah terhadap anaknya, sebagaimana kurangnya interaksi Nawazuddin dan Manoj di film ini. Perbedaan besar kepemimpinan ayah-anak ini sangat menarik untuk diikuti, belum lagi akting pemain yang bagus dalam film dua bagian yang jika ditotal bisa sampai 5 jam ini. Nonton deh bunuh-bunuhan di India ini, tak seindah India dibayanganmu sebelumnya.