Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)

Film jadul Indonesia terutama genre romance, baik itu karya Syumandjaya, Wim Umboh atau Teguh Karya selalu punya titik cringe yang bikin saya sebagai penonton merasa canggung saat menontonnya. Lantas saya berpikir kecanggungan itu sudah jadi nasib badan bagi seorang penonton masa kini jika hendak menonton film lama. Pasti akan selalu ada kecanggungan yang bikin keki, lebih-lebih di film Rhoma Irama yang secringe apapun tetap saja saya habiskan.

Memikirkan ini, saya benar-benar menyesal kenapa sejak dulu tidak pernah kepo sama duo Chaerul Umam dan Asrul Sani, Chaerul sebagai sutradara dan Asrul sebagai penulis skenario. Duet PD nim dan SW nim ini berhasil membuat mahakarya romcom terbaik yang pernah lahir di Indonesia berjudul Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Seingat saya, tertawaan yang lahir sepanjang menonton filmnya memang karena filmnya lucu, bukan karena cringe yang sering muncul di film lama Indonesia hadir lagi di film ini. Selayaknya romcom yang silly, saya heran sekali saya tidak mendapati kecanggungan yang saya alami saat menonton film lama Indonesia, di mata saya Kejarlah Daku Kau Kutangkap bukanlah film lama, ia baru dan relevan bila akan ditonton anak muda jaman sekarang. Baik skrip maupun gaya penyutradaraan sama-sama sempurna, kalau ditonton dalam keadaan sudah terestorasi pasti makin mantap hasilnya. Jangan sekali-kali melewatkan film itu jika kamu punya waktu luang untuk menonton.

Duet Chaerul-Asrul yang saya nikmati setelah Kejarlah Daku Kau Kutangkap adalah Titian Serambut Dibelah Tujuh. Chaerul-Asrul dengan film serius membuat saya berekspektasi tinggi dan hasilnya tidak sia-sia. Titian Serambut Dibelah Tujuh adalah salah satu film Indonesia terbaik yang saya tonton. Lagi-lagi saya tidak merasakan cringe, jikapun tertawa saya ingat kelewat menertawakan totalitas Soekarno M. Noor sebagai aktor.

Isi dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh juga relevan dengan apa yang ada di masa kita sekarang bahwa ternyata sejak dulu oknum tak bertanggung jawab bertameng agama memang sudah ada. Tidak hanya munafik namun juga bejat, kebanyakan penduduk kampung yang penuh dengan asap ini hampir semuanya seperti itu terutama para petingginya yang diperankan dengan apik oleh Rachmat Hidayat, Soultan Saladin dan Soekarno M. Noor. El Manik sebagai protagonis juga memerankan karakternya dengan sangat baik, sejak menonton November 1828 saya mulai suka dengan aktingnya. Dewi Irawan sebagai gadis gila yang doyan musik seriosa sepintas horror namun bukankah horror bahwa lingkungan menyebut kita sebagai orang gila padahal lingkungan itu sendirilah yang sebenarnya membuat kita menjadi gila?

Soultan Saladin yang selalu jahat itu merasa tertantang untuk mencabuli tiap perawan cantik yang ada di desa. Rachmat Hidayat yang senantiasa hipokrit sepintas mirip dengan karakternya dulu di November 1828. Paling total ialah Soekarno M. Noor dan Youstine Rais yang memerankan istrinya beliau. Karakter mereka gila, cenderung LGBT, mempertegas bahwa kampung ini bukan kampung sembarangan dan menjadi beban berat bila didatangi seorang protagonis setampan dan semulia apapun niatnya. Percayalah film ini film bagus, jarang-jarang ada film Indonesia sebagus ini, bahkan yang terbaru pun masih bukan tandingannya film ini. 

Iklan

Setelah (Akhirnya) Menonton Film Terminal Cinta 1977

Sekali lagi menekankan bahwa saya adalah pencinta novel trilogi Kampus Biru nya Ashadi Siregar. Dari ketiga novel masing masing berjudul Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu dan Terminal Cinta Terakhir tersebut, yang merupakan favorit saya adalah novel yang ketiga. Hanya saja versi film novel ketiga yang judulnya dipersingkat jadi Terminal Cinta itu tak sefenomenal versi film novel pertama, akses untuk gratisan nonton filmnya sangatlah susah padahal aktornya sekaliber WS Rendra. Nah syukurlah rasa penasaran yang lama terhadap versi film ini pun terbayar sudah, akhirnya couple kesukaan Joki Tobing-Widuri menjadi nyata punya wajah mirip Rendra dan Marini

Mari flashback sejenak terhadap versi film dua novel sebelumnya. Film Cintaku di Kampus Biru karya Wim Umboh mempertegas Roy Marten sebagai aktor paling tampan yang pernah dimiliki negara kita. Meraup kesuksesan lewat film Cintaku di Kampus Biru, sosok Roy Marten jadi identik dengan Anton Rorimpandey, tokoh yang diperankannya di film itu. Bahkan di film kedua, Anton yang sudah bukan tokoh utama masih diperankan oleh Roy Marten. Nah di film ketiga ini mungkin saja tidak lagi ditangani orang yang sama dengan dua film sebelumnya, mempersingkat judul menjadi Terminal Cinta bagi saya merupakan upaya untuk berdiri sendiri dan terlepas dari dua film yang dari sisi cerita seharusnya tak bisa lepas. Pelepasan itu dimulai dengan mengganti pemeran Anton jadi aktor Amroso Katamsi, bukan Roy Marten lagi, oh no!!!


Bad Casting Ever
Rendra dan Marini dipasang jadi line up memerankan Joki Tobing dan Widuri. Rendra sebagai Joki yang kemana-mana berjaket merah lalu kemudian Marini sebagai Widuri yang wajahnya tidak se-Jawa penglihatan saya. Fatalnya mereka berdua tak diberikan kesempatan lebih untuk membangun chemistry, itulah yang membuat saya sangat tidak menikmati kebersamaan mereka, pelukan Joki di bahu Widuri saat mereka berjalan-jalan jatuh cinta sungguh hambar sekali. Ternyata selain ingin melepaskan diri dari dua film sebelumnya, sutradara Abrar Siregar juga terlihat berusaha untuk lepas dari novelnya. Saya tak tahu, mungkin karena terlalu cinta dengan novelnya makanya saya jadi begini. Ingatan-ingatan kecil saya tentang Joki Widuri sama sekali tak diadegankan di filmnya, bukannya membangun cara lain untuk menghidupkan chemistry malah keduanya sangat minim adegan bersama. Kekurangan ruang ini jatuhnya membuat Joki Widuri versi Rendra Marini jadi tidak emosional, padahal di versi novelnya Ashadi Siregar bikin saya stress sebab Joki Widuri terlalu complicated. Tidak ada yang memberi kesan kuat mengapa hubungan pemuda dari Batak dan janda dari Jawa ini begitu alot, begitu keras, begitu sulit untuk dikata-katakan sulit disatukan. Tak telihat Joki yang gila karena Widuri terus-terusan menutup diri, tak terlihat Widuri yang sangat menderita karena dirinya dan karena kematian Todi kecil. Tak ada adegan Joki dan Widuri berpelukan di rumah sakit dimana Joki menghapus air mata di wajah Widuri dengan kecupannya, tidak ada adegan yang begitu.

Bad casting ever itu datangnya dari Rae Sita. Bayangkan saja di film pertama beliau jadi Ibu dosen perawan tua yang dipacari Anton dan di film ketiga ini Rae Sita jadi Erika, istrinya Anton. Haduuuhhhh gara-gara ini saya jadi tergelak luar biasa padahal adegannya tidak lucu. Tapi paling benci sama casting Tuan Stephen. Really addduuuu.


Sebenarnya Terminal Cinta bukan tontonan yang buruk. Saya suka bagaimana misteri Widuri diungkap ke penonton menjelang film berakhir. Saya suka modus Joki mendekati Widuri sebab ingin belajar bahasa Jawa. Saya suka soundtrack film ini membangun kesan romantis, sajak Joki Tobing Untuk Widuri karya WS Rendra terdengar sebagai lagu. Saya suka WS Rendra yang sempat-sempatnya memasukkan sajak alirannya di adegan tempat pelacuran, Rendra menari bertelanjang dada dengan keren penuh kharisma. Saya suka Maruli Sitompul (yang juga kekurangan ruang itu) memerankan ayahnya Joki. Paling suka sama casting Lia, adik perempuannya Joki, sungguh manis sekali.

Ah mungkin salahnya film ini sebab kekurangan durasi. Meski sejak awal sudah berekspektasi rendah, tetap saja merasa kecewa dengan filmnya. Terlalu kecewa sebenarnya, saya jadi tidak semangat melihat akting Rendra. Mungkin, jika ingin menikmati akting Rendra sebagai Joki, ya jangan baca novelnya. 

Dawuk adalah Novel Kesukaan Saya

Mahfud Ikhwan atau yang biasa saya sebut sebagai Mas Dushmanduniyaka adalah salah satu orang yang membuat saya menjadi penggemar berat film dan lagu India. Terutama lagu India, saya yang biasanya malu mendengarkan lagu itu kini sudah tak malu lagi, bahkan barusan keras-keras memutar lagu Jaab Hum Jawan Honge, salah satu soundtrack dari novel Dawuk yang merupakan karya sastra terbaru persembahan Mahfud Ikhwan.

Awal perkenalan dengan Mahfud lewat blog India nya sungguhlah saya tidak tahu bahwa Mahfud seorang sastrawan. Di luar kegemaran beliau sebagai Mas Dushmanduniyaka, ternyata Mahfud sudah aktif mengeluarkan beberapa buku termasuk yang hits novel Kambing dan Hujan, tapi belum baca sih hehe. Dengan mengorbankan biaya ongkir muahal dari Jogja ke Polewali Mandar, akhirnya novel yang saya cita-citakan berjudul Dawuk itu saya beli dan hamdalah selesai saya baca. Sudah cetakan kedua, wah wah

Dawuk yang tipis lagi merakyat itu menimbulkan dampak yang besar bagi saya, terutama tiga pertanyaan ujung tulisan masih berkesan sampai sekarang. Judul artikel ini dipermantap dengan kesukaan saya terhadap Dawuk yang punya banyak quote. Tak afdol rasanya jika hanya mengutip quote satu kalimat di Dawuk, harus dua atau tiga kalimat sebab saling berkaitan, pertanda Dawuk, yang tipis itu, padat berisi seperti tubuhnya Ina Indomelek, hehe.

Mat Dawuk hadir sebagai antihero dengan wajah mengerikan, bahkan saat tersipu malu pun masih saja kelihatan jelek, kalau bagi Warto Kemplung saja jelek apalagi bagi kita ya hahaha. Nah nama yang terakhir itu, Warto Kemplung itu adalah kesukaan saya di Dawuk. Gayanya meminta kopi kepada pemilik warung sembari pelan pelan menyomot rokok orang lain, ia lakukan dengan keren. Tapi tak terbayangkan apabila bertemu Warto Kemplung di dunia nyata, pasti menyebalkan sekali heh

Sayang sekali, tulisan ini cenderung mainstream, tak sedahsyat rasa suka saya terhadap novel ini. Sungguh, bukan karena novel ini ditulis oleh Mas Dushmanduniyaka yang membuat saya menyukainya, hanya Dawuk memang ajaib, klise tapi menggemaskan. Terutama lembar pasca interval dalam bualannya Warto Kemplung, tensi saya sebagai pembaca justru tak turun malah semakin seru. Apa adanya tanpa keren-kerenan dengan sejenis twist pun sungguh ending bukunya saya suka. Buku ini, saya suka.

‘Eka Kurniawan Lebih Cabul dari Ayu Utami’

Entah kenapa, lagi-lagi, judulnya begitu lagi. Maafkan saya atas judulnya.

Saya berharap pertemuan pertama saya dengan Eka Kurniawan terjadi lewat novel anyarnya berjudul Cantik Itu Luka. Namun apa daya buku elit itu harus didapatkan dengan cara yang elit pula. Buku Eka Kurniawan yang lain, yang alhamdulillah berbentuk fisik–milik teman saya berjudul Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas kini ada di tangan, minta dibaca sesegera mungkin. Hingga akhirnya momen lebaran kemarin saya pun membaca novel ini. Agak disturbing tapi semangat sekali membayangkan bagaimana jika buku ini difilmkan. Lagi-lagi alhamdulillah, niatan untuk itu ternyata sudah ada sejak lama. Bagusnya sih filmkan SDRHDT (aduh singkatannya) lebih dahulu baru filmkan Bumi Manusia hahaha.

Jadi SDRHDT adalah kisahnya Ajo Kawir, pria yang hidup mati lalu kemudian hidup lagi. Sembari sesekali tertawa, pembaca dibuat bersedih atas impoten yang dialami Ajo Kawir akibat trauma masa kecilnya. (Ah, pernahkah kata impoten tersebutkan dalam novel ini? Sigh siapa yang baca siapa yang lupa). Dan mungkin, hanya Ajo Kawir lah pria impoten satu-satunya yang ditepuk-tangani pembaca saat sembuh dari sakitnya itu. Ya kesembuhan Ajo Kawir di ending buku (spoiler nyam nyam) adalah kebahagiaan saya terlebih saat menyadari halaman bukunya semakin tipis saja. Horeeee.

Nama besar Eka Kurniawan tak perlu diragukan lagi, saya tak bisa menyembunyikan kekaguman saya atas peran besar Eka dalam dunia kesusastraan di Indonesia manakala novelnya sudah banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia. Bahkan kisahnya Ajo Kawir baru-baru ini juga sudah di-Inggriskan. Oh seluruh dunia akan merayakan kesembuhannya Ajo Kawir. Saya turut senang.
Namun kebesaran nama Eka Kurniawan justru tak terlihat dari gaya kepenulisannya. Hemm membaca kisah Ajo Kawir berarti turut merasakan kisahnya yang sangat berhasil mengikat emosi pembaca dengan gaya menulisnya Eka yang tidak gemar berbasa-basi. Bahasanya mudah untuk dipahami, sederhana seakan-akan yang menulis novel ini bukanlah penulis dengan nama besar. Mungkin seperti itu cara Eka mendekati pembacanya, ia mengangkat konflik tak biasa (bahkan cenderung tabu) dengan komunikasi gamblang antar tokoh sehingga novel ini tak akan dijeda begitu saja oleh pembaca, ya saya contohnya. Banyak kata-kata kasar disertai aku-kamu, menandai membuminya novel ini hehhe bahwa kevulgaran bukan hanya milik bangsa Barat saja (gajebo). Terasa rumit di novel ini hanyalah pada bab nya yang panjang-panjang dan juga kilas peristiwanya disampaikan sepotong-sepotong yang bikin saya pusing. Tapi saya yakin pembaca lain pasti tidak pusing hehehe.

Dasar memang nekad, usai menamatkan Eka Kurniawan justru saya lanjutkan dengan novel Maya nya Ayu Utami, yang anehnya setelah lama tidak melanjutkan novel itu saya justru masih ingat dibagian mana saya berhenti membacanya. Tentu ingat bagaimana judul postingan ini sebelumnya memuat nama Murakami ke Ayu Utami lalu berganti Ayu Utami ke Eka Kurniawan. Membandingkan dua penulis Indonesia handal ini tentu tak tepat, meskipun sama-sama nyeleneh selebihnya mereka dua orang yang jauh berbeda baik fisik maupun tulisannya (apasih). Ada jump yang besar saat kepala saya teralih dari kesederhanaan Eka menjadi kerumitan bahasa tapi asik khas Ayu Utami. Terutama dalam soalan itu, banyak tabu yang dieksplisitkan oleh Eka. Itulah makanya saya berkesimpulan seperti judul di atas hahaha. Iya, kecabulan Eka ini akan lebih baik jika kita bersikap seperti Ajo Kawir bahwa hidup ini kemauannya kemaluan, pemiliknya cukup menjalani saja. 

Kegokilan Ridwan Alimuddin dan “Nusa Pustaka” Miliknya

Saya terlalu bingung ingin memberikan judul apa hahaha. Intinya saya hanya ingin menumpahkan kesan mendalam saya terhadap Nusa Pustaka dan juga Ridwan Alimuddin yang saya datangi saat study tour ke Majene yang lalu. Ah tak ada dokumentasi foto.

Nusa Pustaka adalah taman baca milik Ridwan Alimuddin yang terletak di Pambusuang. Sebagai daerah pesisir, yang saya tahu sebelumnya Ridwan Alimuddin membuat Perahu Pustaka di mana ia membawa buku-bukunya di atas perahu agar bisa dibaca anak-anak pesisir lainnya. Oiyaa saya sendiri sudah tahu dan merasakan kepopuleran usaha keras Ridwan Alimuddin lewat media sosial dan salah satu bukunya juga ada di perpustakaan kampus. Kemudian saat mendatangi Nusa Pustaka dan bertemu beliau langsung untuk pertama kali, menemukan hal seperti ini di daerah Mandar sungguhlah gokil hehehe.

Dosen mata kuliah Mandar memfasilitasi kami untuk mengunjungi Nusa Pustaka sekaligus menjadikan Ridwan Alimuddin sebagai narasumber untuk tugas laporan yang akan kita buat nantinya. Ridwan menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan baik sekali, memperlihatkan kecakapan beliau dan kesungguhannya dalam menyelami ilmu sosial budaya di Mandar. Nusa Pustaka sendiri adalah tempat yang sederhana, berlantai bambu dengan banyak sekali buku. Kecintaan Ridwan terhadap perahu sandeq yang sudah terbukti di sosial media kian dipertegas saat saya mendapati ada badan sandeq di dalam ruangan Nusa Pustaka yang dijadikan meja atas barang-barang koleksi Ridwan Alimuddin. Sejauh ini, bisa dikatakan bahwa Nusa Pustaka adalah tempat asing yang membuat betah.

Alamak, yang paling mengesankan saya adalah koleksi bukunya. Di lantai bawah ada rak buku berbentuk perahu sandeq yang memang dikhususkan untuk buku-buku tentang laut. Memasuki ruangan dengan rak buku lebih formal ada banyak sekali buku di sana, bermacam-macam genre yang sudah diklasifikasikan. Saya mendapati Norwegian Wood nya Murakami versi terjemahan KPG, buku terbitan Mojok yang masih berplastik sampai novel Sherlock Holmes berbahasa Inggris wow. Padahal dosen meminta kami mencari buku-buku rujukan untuk pembuatan laporan, saya malah asik mengagumi tiap koleksi buku Ridwan Alimuddin. Masa bodo dengan tugas hehehe jika tidak bisa dibawa pulang setidaknya buku-buku ini sudah pernah saya sentuh hehehe delulunya.

Naik tangga menuju lantai atas terasa agak rapuh, apalagi ruangan sesak dengan teman-teman saya yang juga mencari buku referensi. Saking banyaknya orang, pigura foto Baharuddin Lopa dan Husni Djamaluddin di dinding sampai ikut bergoyang-goyang. Sesampainya di lantai atas saya langsung melihat novel tebal-tebal Pramoedya Ananta Toer mendominasi rak buku di sisi kanan. Di sisi kiri banyak majalah-majalah, Tempo kalau tidak salah. Saya mengambil buku berbahasa Jepang yang bikin kepala mumet hehehe yang di samping buku itu ada foto Ridwan Alimuddin tengah bersalaman dengan Jokowi beserta piagam yang ia dapatkan dari Istana. Soal buku berbahasa Jepang itu, saya cepat mengambilnya tapi jauh lebih cepat lagi mengembalikannya dalam rak. Oiya, Ridwan Alimuddin memang punya banyak buku tentang Jepang yang salah satunya seperti buku panduan memuat peta jalanan Jepang. Ridwan kan memang sebelumnya pernah ke Jepang ya hehehe hebat sekali beliau satu ini. Ah andai saja bisa berada di Nusa Pustaka jauh lebih lama.

Satu juga penyesalan saya saat pulang dari Nusa Pustaka yakni saya tak sempat bertanya ke beliau tentang koleksi buku-bukunya ini. Menjadi penjaga Nusa Pustaka pasti menyenangkan seperti Oshima dan Kafka di Perpustakaan Komura.

Pria Pertama yang Saya Angkat Teleponnya

Wanita bicara pria sungguhlah topik menarik, bergantung mau di bawa kemana topik tersebut. Lalu saya yang tak pengalaman masalah pria ini, siapakah pria pertama yang menelpon saya yang introvert ini? Dialah Abdur Suci 4, waktu itu beliau membuat acara telpon sapa di twitternya dan saya menjadi salah satu yang beruntung bisa ditelpon sama beliau.

Sebelum di telpon Abdur saya sudah mengkonsep apa saja yang hendak saya katakan kepadanya. Tapi memang dasar introvert, saat berhasil di telpon saya justru tidak bisa berkata apa-apa alias hanya bisa cengengesan saat suaranya terdengar. Emang dasar orang baik, beliau meminta saya rileks dengan inisiatif memulai topik duluan sampai memperdengarkan suara Arie Keriting yang berteriak teriak dari jauh. Heheheh kepalang tak sanggup, ponsel saya serahkan ke kakak agar dirinya saja yang bicara sama Abdur dan bisa ditebak kakak saya lebih rileks saat telponan sama Abdur. Sungguh pengalaman memalukan namun tak saya sesali. Yah, pria itu adalah Abdur.