‘Eka Kurniawan Lebih Cabul dari Ayu Utami’

Entah kenapa, lagi-lagi, judulnya begitu lagi. Maafkan saya atas judulnya.

Saya berharap pertemuan pertama saya dengan Eka Kurniawan terjadi lewat novel anyarnya berjudul Cantik Itu Luka. Namun apa daya buku elit itu harus didapatkan dengan cara yang elit pula. Buku Eka Kurniawan yang lain, yang alhamdulillah berbentuk fisik–milik teman saya berjudul Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas kini ada di tangan, minta dibaca sesegera mungkin. Hingga akhirnya momen lebaran kemarin saya pun membaca novel ini. Agak disturbing tapi semangat sekali membayangkan bagaimana jika buku ini difilmkan. Lagi-lagi alhamdulillah, niatan untuk itu ternyata sudah ada sejak lama. Bagusnya sih filmkan SDRHDT (aduh singkatannya) lebih dahulu baru filmkan Bumi Manusia hahaha.

Jadi SDRHDT adalah kisahnya Ajo Kawir, pria yang hidup mati lalu kemudian hidup lagi. Sembari sesekali tertawa, pembaca dibuat bersedih atas impoten yang dialami Ajo Kawir akibat trauma masa kecilnya. (Ah, pernahkah kata impoten tersebutkan dalam novel ini? Sigh siapa yang baca siapa yang lupa). Dan mungkin, hanya Ajo Kawir lah pria impoten satu-satunya yang ditepuk-tangani pembaca saat sembuh dari sakitnya itu. Ya kesembuhan Ajo Kawir di ending buku (spoiler nyam nyam) adalah kebahagiaan saya terlebih saat menyadari halaman bukunya semakin tipis saja. Horeeee.

Nama besar Eka Kurniawan tak perlu diragukan lagi, saya tak bisa menyembunyikan kekaguman saya atas peran besar Eka dalam dunia kesusastraan di Indonesia manakala novelnya sudah banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia. Bahkan kisahnya Ajo Kawir baru-baru ini juga sudah di-Inggriskan. Oh seluruh dunia akan merayakan kesembuhannya Ajo Kawir. Saya turut senang.
Namun kebesaran nama Eka Kurniawan justru tak terlihat dari gaya kepenulisannya. Hemm membaca kisah Ajo Kawir berarti turut merasakan kisahnya yang sangat berhasil mengikat emosi pembaca dengan gaya menulisnya Eka yang tidak gemar berbasa-basi. Bahasanya mudah untuk dipahami, sederhana seakan-akan yang menulis novel ini bukanlah penulis dengan nama besar. Mungkin seperti itu cara Eka mendekati pembacanya, ia mengangkat konflik tak biasa (bahkan cenderung tabu) dengan komunikasi gamblang antar tokoh sehingga novel ini tak akan dijeda begitu saja oleh pembaca, ya saya contohnya. Banyak kata-kata kasar disertai aku-kamu, menandai membuminya novel ini hehhe bahwa kevulgaran bukan hanya milik bangsa Barat saja (gajebo). Terasa rumit di novel ini hanyalah pada bab nya yang panjang-panjang dan juga kilas peristiwanya disampaikan sepotong-sepotong yang bikin saya pusing. Tapi saya yakin pembaca lain pasti tidak pusing hehehe.

Dasar memang nekad, usai menamatkan Eka Kurniawan justru saya lanjutkan dengan novel Maya nya Ayu Utami, yang anehnya setelah lama tidak melanjutkan novel itu saya justru masih ingat dibagian mana saya berhenti membacanya. Tentu ingat bagaimana judul postingan ini sebelumnya memuat nama Murakami ke Ayu Utami lalu berganti Ayu Utami ke Eka Kurniawan. Membandingkan dua penulis Indonesia handal ini tentu tak tepat, meskipun sama-sama nyeleneh selebihnya mereka dua orang yang jauh berbeda baik fisik maupun tulisannya (apasih). Ada jump yang besar saat kepala saya teralih dari kesederhanaan Eka menjadi kerumitan bahasa tapi asik khas Ayu Utami. Terutama dalam soalan itu, banyak tabu yang dieksplisitkan oleh Eka. Itulah makanya saya berkesimpulan seperti judul di atas hahaha. Iya, kecabulan Eka ini akan lebih baik jika kita bersikap seperti Ajo Kawir bahwa hidup ini kemauannya kemaluan, pemiliknya cukup menjalani saja. 

Iklan

Belajar Leadership dari JR NU’EST dan Chan Stray Kids

Agak lama untuk menentukan judul tulisan ini sampai yang di atas itu dirasa sudah pas pada apa yang hendak saya sampaikan. Ini berdasarkan menonton survival show Produce 101 Season 2 dan Stray Kids yang sama-sama tayang di mnet.

Kalau JR atau yang di Produce 101 kita tahu bernama Kim Jonghyun perwakilan Pledis Ent sudah dijuluki National Leader berkat kemampuan memimpinnya yang teruji. Bagaimana seorang pemimpin harus mendahulukan kepentingan anggotanya dulu baru setelah itu kepentingan diri sendiri, ia Jonghyun itu begitu. Jonghyun banyak menginspirasi trainee lain untuk ikut merasakan posisi leader. Barangkali salah satu orang yang beruntung pernah digembleng sama leader Jonghyun adalah Kwon Hyun Bin.

Mereka berdua satu grup membawakan lagu Sorry Sorry nya Suju bersama Minhyun, Daniel, Jaehwan dan Ong Seung Woo. Ada dua orang yang memang kurang berpengalaman (ini bahasa Jonghyun, kalau bahasa saya nyebutnya enggak bisa -_-) dalam hal tarian yakni Jaehwan sama (yang terparah) Hyunbin. Nah Jaehwan yang kemampuan menarinya sudah meningkat tak dibarengi dengan kemampuan menari Hyunbin yang masih saja belum ada peningkatan. Lah kok Jaehwan bisa tapi Hyunbin masih belum bisa? Ternyata selain lambat dalam belajar menari, dalam kamera mnet Hyunbin termasuk yang tidak mood latihan kalau sudah lewat satu jam. Jonghyun yang selama ini sudah cukup perhatian dan bersabar menghadapi Hyunbin akhirnya marah juga ke Hyunbin. Bahkan Jonghyun marah dengan membelakangi Hyunbin, mungkin ada sebersit perasaan tak tega yah hehehe. Lalu berpikir bagaimana jika Hyunbin jatuh ke tangan leader selain Jonghyun di evaluasi pertama P101? Wah bisa habis Hyunbin, bisa jadi ia sudah terhempas jauh tak masuk 35 besar. 

Usaha keras grup Sorry Sorry pun berbuah manis, bahkan vote untuk Hyunbin sangat tinggi. Sebagai leader Jonghyun berhasil sekali, ya meskipun tiap perform Jonghyun tak pernah kebagian banyak part, yang tampaknya sudah menjadi nasib seorang leader untuk kebagian part menyanyi paling sedikit. Paling terlihat di Never yang hanya seiprit, part rap dengan penuh keikhlasan di dominasi oleh Woojin dan Guanlin. Kemudian merasa bahwa part yang sedikit di Never itulah yang menjadi awal kemundurannya Jonghyun di P101 hingga akhirnya benar-benar mundur. Tapi julukan sebagai Nation Leader itu abadi.

Leader yang selalu kebagian part sedikit itu turut saya rasakan pula saat menonton Chan di program Mnet Stray Kids. Chan yang suara bahkan nada tingginya yang cenderung stabil itu lebih suka memberikan part menyanyi kepada membernya. Paling parah jadwal tidur malam Chan di jam subuh karena kesibukannya tidak hanya sebagai leader yang mengurus kepentingan anggotanya tapi juga sebagai komposer lagu-lagu Stray Kids. Di mohonkan kepada JYP agar tidak merecoki Chan saat membuat lagu, jika nanti Stray Kids berpaling dari konsep darknya, enggak tahu deh mumetnya Chan kayak apa.

Di survival show berjudul nama boybandnya sendiri, Chan yang masa traineenya sudah seumuran dengan anak SD kelas 1 itu membentuk grupnya sendiri, bukan JYP yang membentuk loh. Chan sang pelopor, memilih member sendiri sampai produksi lagu sendiri. Di program Stray Kids, Chan berjuang untuk mendebutkan grup yang dibentuknya secara utuh. Saat Minho dan Felix di eliminasi, kelihatan sekali kalau Chan berusaha tegar dihadapan para membernya. Dalam kamera mnet, jika member lain terjebak mengenang tereliminasinya Minho dan Felix, dengan cepat Chan berusaha mengalihkan topik. Lalu saat Minho dan Felix akhirnya kembali lagi, Chan malah tidak ikut memeluk seperti member lain namun ia malah berdiri diam melihat kebahagiaan membernya dan senyum di bibirnya Chan tak hilang bersama eye smile nya yang maha manis itu. Aduh Chan terenyuh aku. Sungguh tak tertutupi kebanggaan Chan terhadap Stray Kids.

Saya termasuk orang yang tidak bisa jadi leader. Saya lebih suka mementingkan diri sendiri. Dengan mementingkan diri sendiri tentu saya tak akan merepotkan orang lain dan tak perlu menjadi perhatian orang lain. Lalu pada akhirnya saat menjadi leader saya akhirnya kewalahan sebab tak ada yang mau memperhatikan saya. Tapi ternyata ada hal menarik dengan menjadi leader yakni bagaimana saya bisa terlibat utuh pada proses yang saya jalani. Bahkan sejujurnya, perasaan dimarahi atas nama anggota tidaklah begitu buruk. Pasalnya pada saat itulah saya merasa tidak sepenuhnya bersalah. Agak jahat ya saya sebab memang ikatan emosional saya dengan orang lain sangatlah kurang, saya masih belum sepenuhnya memanusiakan diri.

Saya respek sekali dengan orang atau teman yang mengemban posisi sebagai leader. Sebagai anggota saya akan lebih suka menyemangati leader dan mempercayakan orang lain untuk membantu leader dalam mengontrol anggotanya. Anehnya saya suka sekali berbicara menyemangati leader dalam momen seperti itu. Lalu melihat dua leader boyband di atas, saya malah tertarik ingin mencoba lagi menjadi leader.

Dunia Kafka

Usai membaca Norwegian Wood, saya lanjut membaca beberapa cerpen Haruki Murakami dan merasa bahwa apa yang diberikan Haruki Murakami merupakan bacaan yang saya cari selama ini. Jadi bagi penyuka absurd dengan gaya cerita mengalir maka Murakami adalah tujuan kalian hehehe yang kian nyata khasnya di novel Kafka on the Shore yang di Indonesiakan jadi Dunia Kafka. Kalau dulu membaca Norwegian Wood terjemahan Inggris, maka yang ini merupakan terjemahan Indonesia yang Alhamdulillah isi novelnya makin asik ditunjang oleh hasil terjemahannya itu sendiri. Padahal, sepanjang bercerita, Dunia Kafka menawarkan kebingungan tiada tara disertai karakter unik khas Murakami tersebut.

Ulasan Dunia Kafka sudah banyak di blog lain tapi tetap saja asik bila dibicarakan lagi. Tentang teori Oedipus Kompleks yang disebut gangguan jiwa oleh Ibu Dosen Yunita di film Cintaku di Kampus Biru juga diusung oleh novel ini dengan pemuda bernama Kafka Tamura sebagai objeknya. Tidak hanya menaruh ketertarikan pada wanita lebih tua namun juga membahas pembuktian ramalan dari ayahnya tentang Kafka akan membunuh ayahnya lalu berhubungan dengan ibu dan kakak perempuannya. Kafka memasuki dunia dunia tak lazim bahkan berbatas tipis dengan akhiratnya Kafka. Kisah hidup Kafka ini dikupas habis pada bab ganjil sebab di bab genap kita berganti objek menjadi seorang kakek tua bernama Nakata. Kalau boleh dikata sih segala titik keseruan di novel ini semuanya ada pada kisahnya Nakata di bab genap. Berbicara dengan kucing, hujan ikan makarel, hujan lintah sampai berbicara dengan batu, hal hal ini kita nikmati segala keseruannya dengan karakter kakek Nakata yang polos nan apa adanya membuat karakter lain yakni seorang supir truk bernama Hoshino jadi tertarik untuk selalu mendampinginya. Yaaa dengan segala keabsurdannya, novel ini punya banyak ikon yang mampu diingat pembaca setelah menamatkannya. Paling seru sewaktu Nakata melakukan pembunuhan.

Nakata mengajak berpetualang seru di usianya yang renta, menjelang kematiannya. Sementara Kafka yang mengidolakan Franz Kafka itu lebih menjurus ke arah pencarian jati diri, kabur dari rumah dan melakukan hal yang ia senangi. Bertemu Sakura yang simpati padanya, bertemu Oshima sang penjaga perpustakaan Komura lalu Nona Saeki pimpinan Perpustakaan Komura. Di youtube sudah ada yang mengaransemen lagu Kafka on the Shore nya Nona Saeki, imajinasi saya bermain di tiap-tiap poin penting novel ini.

Salut sekali sama penerjemahnya. Bahkan terjemahan Sapardi Djoko Damono untuk novel Lelaki Tua dan Laut tetap tak seasik terjemahan Dunia Kafka ini hehehe. Semoga saya bisa membaca novelnya Haruki Murakami yang lain.

Mandar yang menjadi harga diri

Menjanjikan lahirnya tulisan kedua yang ujungnya tak kunjung dikeluarkan itulah yang menjadi masalah, terlebih saat sudah lupa ingin menuliskan apa. Btw kok ya bisa menggebu-gebu ditulisan pertama itu? Ya karena, sebenarnya, selain dirasa perlu juga karena mempelajari Mandar ini merupakan salah satu mata kuliah saya di semester 6. Alhamdulillah kelompok saya sudah naik diskusi jadi sudah agak lega dan bisa mengerjakan tugas yang lain.

Judul di atas terinspirasi dari kemenangan perwakilan Sulawesi Selatan di LIDA, ya serumpunnya Sulawesi Barat atau lagi-lagi perwakilan Sulawesi menang di acara kontes dangdut. Sudah bukan hal yang mengherankan lagi sebenarnya bahwa Sulawesi terkesan tak bosan ingin menjadi artis tampil di tv atau semacamnya dengan menjadi juara satu. Namun apa yang dirasakan ternyata lebih dalam dari itu, tak sekadar ingin menjadi artis, para pendukung dari Sulawesi ini lebih menekankan ke arah harga diri. Jadi bayangkan bila yang menang justru dari daerah lain, pasti harga diri yang dimaksudkan ini akan merasa kalah tak kuat lagi. Sebagai seorang Sulawesi, Ah saya mampu membayangkannya.

Berkaitan dengan harga diri dan rasa malu, di Mandar sendiri ada yang namanya siri dan lokkoq. Siri bisa diandaikan dengan kentut di depan umum maka lokkoq lebih ekstrim lagi dengan apa yang kita rasakan bila ditampar di depan umum. Tentu kedua perasaan malu itu memiliki taraf berbeda dan inilah yang dijunjung orang Sulawesi, apalagi yang Mandar seperti saya. Mempertahankan harga diri terlebih jika mengorbankan nyawa dirasa perlu, ya hal hal semacam itu. Menjunjung tinggi kebenaran adalah segalanya, seperti ayahnya Doel yang menasehati Doel agar selalu jujur, Mandar itu begitu.

Mandar itu Underrated yang Baru Saja Saya Sadari

Memang ada yang mengatakan bahwa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tapi untuk hal yang satu ini, sebagai orang Mandar, saya sangat keterlaluan.

Banyak yang tahu bahwa asal saya dari Sulawesi, tanpa tahu tepatnya di Sulawesi Barat dan lebih tidak tahu lagi bahwa saya orang Mandar. Lah bagaimana orang mau tahu kalau yang bersangkutan pun cuek dengan asal usulnya? Duh, saya amat menyesal kenapa sejak dulu dulu saya kurang mempelajari Mandar, terlebih saya orang yang suka belajar Sejarah. Mungkin saya bisa disebut orang tanpa jati diri, benar-benar saya tak paham tentang Mandar. Lalu saya berpikir bahwa saya yang ada sekarang ini (dengan blog ini) adalah salah satu akibat sebab tak pernah perhatian dengan budaya sendiri.

Wajah saya sering disalah-pahami orang sebagai wajah orang Jawa. Tapi saat saya mulai bicara akhirnya ketahuan juga kalau saya Mandar. Apalagi aksen saya sangat Mandar Campalagian sekali, yang kadang-kadang malu untuk saya keluarkan sebab aksen Mandar Campalagian kerap ditertawakan bahkan oleh orang Mandar dari daerah lain. Lalu, orang-orang di Sulawesi Barat masih lazim menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu mereka, tapi bahasa ibu saya adalah bahasa Indonesia sebab meski saya Mandar Campalagian, saya tinggal di Wonomulyo yang merupakan salah satu simbol kemajemukan di Sulawesi Barat. Hmmm hal tersebut tetap saja kan bukan alasan untuk saya tidak memperhatikan Mandar dalam diri saya?

Saya semakin kesulitan dalam mengenali diri. Dari buku-buku perpustakaan SD, saya malah mendapati fakta bahwa Sultan Hasanuddin yang heroik dan Huruf Lontara yang saya pelajari di Muatan Lokal bukanlah dari Mandar. Ditambah dengan guru saya sewaktu SMP selalu saja mengatakan bahwa orang-orang Mandar itu belum ada yang menerbitkan buku, buku-buku di perpustakaan SMP itu kebanyakan ditulis orang Jawa, begitu katanya. Sampai tibalah pada masa saya SMA, saya study tour untuk pertama kalinya dan mengunjungi Museum Mandar di Majene. Disitulah saya mulai berpikir bahwa ternyata Mandar tidak secupu dalam pikiran saya, Mandar juga punya sejarah sendiri di luar Bugis juga Makassar, Mandar juga melawan Belanda, punya kerajaan dan punya pahlawan. Intinya Mandar underrated, kisah-kisah yang saya dengarkan dari apa yang saya dapatkan di Museum sampai Galung Lombok layak untuk diketahui satu Indonesia. Tetapi, lagi-lagi, pikiran ini kandas, berlalu, apalagi saya jadi anak IPA di SMA. Ya lagi-lagi bukan alasan. Sejarah G 30 S lebih menarik, Bung Karno, Soeharto, novel dan cerpen, bahkan menjalani hari hari di SMA memaksa diri memahami Matematika Fisika Kimia yang tak kunjung saya pahami itu. Sekelumit yang saya tahu tentang Mandar hanya penyanyi dan lagu-lagunya, Saleh AS, Rasti Rahman, Iccang Kalena, Mentari Musik, Irama Baru Records yang kesemuanya masih ada unsur Sulawesi Selatan nya. Sayang sayang modern semua akrab di telinga, lagu To Pole Di Balitung baru saya ketahui adanya saat kuliah. Bersamaan dengan mengetahui betapa kompleksnya sejarah Mandar, dengan ditulisnya tulisan ini, setelah mengunjungi Museum Mandar yang ke-2 kalinya.

*bersambung*

Pria Pertama yang Saya Angkat Teleponnya

Wanita bicara pria sungguhlah topik menarik, bergantung mau di bawa kemana topik tersebut. Lalu saya yang tak pengalaman masalah pria ini, siapakah pria pertama yang menelpon saya yang introvert ini? Dialah Abdur Suci 4, waktu itu beliau membuat acara telpon sapa di twitternya dan saya menjadi salah satu yang beruntung bisa ditelpon sama beliau.

Sebelum di telpon Abdur saya sudah mengkonsep apa saja yang hendak saya katakan kepadanya. Tapi memang dasar introvert, saat berhasil di telpon saya justru tidak bisa berkata apa-apa alias hanya bisa cengengesan saat suaranya terdengar. Emang dasar orang baik, beliau meminta saya rileks dengan inisiatif memulai topik duluan sampai memperdengarkan suara Arie Keriting yang berteriak teriak dari jauh. Heheheh kepalang tak sanggup, ponsel saya serahkan ke kakak agar dirinya saja yang bicara sama Abdur dan bisa ditebak kakak saya lebih rileks saat telponan sama Abdur. Sungguh pengalaman memalukan namun tak saya sesali. Yah, pria itu adalah Abdur.

Menjadi Aktor (Part 3)

Selama proses berbenturan dengan proses, kepelikan tentu tak terhindarkan. Mulai putus asa, tidak peduli apabila latihan sendiri, etc. Lalu pada Produce 101 Season 2 lah saya melihat kepelikan proses dan mencoba untuk belajar lagi. Di variety show itu, macam-macam sekali rasanya, bahkan cenderung selalu berhasil membuat penonton menangis. Saya melihat apa yang terjadi pada Wanna One sekarang tak lepas dari perjuangan mereka selama di Produce 101, betapa usaha tak mengkhianati hasil.